Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah Bank Mandiri melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah Bank Mandiri melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dituntut Adaptif, SDM Perbankan Harus Jaga Jati Diri

Kamis, 8 April 2021 | 19:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting untuk kelangsungan bisnis suatu perusahaan, termasuk bagi perbankan. Dalam hal ini, SDM perbankan dinilai harus menjaga jati diri dan pemikiran sebagai bankir seiring tuntutan untuk tetap adaptif, inovatif, dan fleksibel.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Djunaedi mengungkapkan, profesi sebagai bankir menjadi unik, apalagi jika dibandingkan dengan para pelaku financial technology (fintech). Menurut dia, industri perbankan mesti terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan para nasabah melalui layanan digital yang andal.

Namun demikian, sambung dia, bank merupakan industri yang sarat modal dan multidimensi. Sehingga tidak mudah untuk industri lain menerobos persaingan dengan bank dalam jangka waktu lama. Untuk itu, bankir profesional tidak bisa melihat kelangsungan bisnis hanya dengan jangka waktu pendek. Apalagi melihat segala perubahan yang cepat dan potensi krisis di masa depan.

"Jadi kita harus membangun talenta kita yang tidak hanya memanfaatkan peluang dalam melakukan inovasi (jangka pendek), tapi tetap memiliki mindset sebagai bankir. Kalau tidak, ini ada hal sensitif terhadap keberlangsungan bank dan secara industri hal ini yang akan kita atasi dikemudian hari," ujar Darmawan pada acara virtual Human Capital Summit 2021, Kamis (8/4).

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi. Foto: IST
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Darmawan Junaidi. Foto: IST

Dia menerangkan, pada prinsipnya semua bank ingin membangun kapabilitas SDM internal agar tidak tertinggal. Di Bank Mandiri, pilihannya adalah sepanjang masih ada sumber daya internal maka rencana strategis bisa disusun sesuai ekspektasi waktu. Namun jika ada kekosongan talenta internal, maka mau tidak mau perseroan mesti mencari bakat dari eksternal.

Adapun ada lima langkah umum bagi Bank Mandiri membagun kepemimpinan para talentanya. Pertama, menanamkan prinsip sejalan dengan visi dan misi perusahaan. Kedua, mendorong kolaborasi seoptimal mungkin. Ketiga, memastikan kinerja bank terus baik di masa mendatang.

Keempat, melakukan transformasi budaya untuk memperkuat hubungan dan pemahaman terhadap nilai-nilai di Bank Mandiri. Serta kelima, meningkatkan kemampuan talenta melalui berbagai pelatihan yang diikuti hingga top management. Semua langkah dan aspek tersebut ditanamkan turun menurun.

Dengan begitu, Darmawan berharap, program pembelajaran itu memberi dampak, baik bagi Bank Mandiri hingga pengembangan ekonomi secara nasional. Setiap individu di perusahaan pun bisa lebih tangguh menghadapi perubahan dan mampu menjawab berbagai tantangan.

"Yang kita harapkan sebetulnya bisa terus membangun konsep pembelajaran tangguh dan menjadi pemimpin yang seimbang antara menagih, menata, dan menuntun untuk terus kita memiliki talenta yang siap untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang," ungkap Darmawan.

Kantor Citibank Jakarta
Kantor Citibank Jakarta

Sementara itu, Direktur Utama Citibank Indonesia Batara Sianturi mengungkapkan, merencanakan kesuksesan meningkatkan kemampuan SDM bakal menemui banyak dinamika. Melihat fenomena pandemi Covid-19 baru-baru ini misalnya, program peningkatan kemampuan SDM per tahun kini kurang relevan. Lantaran dinamika pasar bergerak lebih cepat.

"Tipikal bank global seperti Citibank itu membangun manusia di masa depan yang tetap adaptif dan fleksibel. Sehingga proyeksi masa depan itu bisa diakomodasi oleh talenta di masa sekarang," tegas dia.

Batara menuturkan, langkah itu dilakukan melalui serangkaian program yang memiliki batasan tertentu, tapi juga membuka ruang bagi batasan lain guna memastikan ruang inovasi bisa terwujud. Perseroan memulai dengan mengelompokkan karyawan dari generasi ke generasi. Saat ini jumlah karyawan baby boomers terdapat 1%, Gen X ada 32%, milenial/gen Y sebanyak 69%, dan Gen Z sekitar 6%.

Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia Batara Sianturi. Foto: citibank.co.id
Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia Batara Sianturi. Foto: citibank.co.id

"Pengelompokan ini menjadi penting untuk memastikan komunikasi top management ke middle-low management itu berjalan dan sesuai. Pengelompokan juga dilakukan terkait gender, status warga negara, hingga level karyawan. Khusus membahas gender, terdapat 43,8% karyawan laki-laki dan 56,2% karyawan perempuan," jelas dia.

Namun secara umum, sambung dia, perseroan mendorong para karyawan untuk menanamkan pemikiran bahwa kerjasama tim adalah hal paling penting. Hal itu setidaknya bisa merangkum maksud dari sejumlah prinsip kepemimpinan di Citibank Indonesia yang baru direvisi satu bulan lalu.

"Prinsip di Citi adalah we take ownership, we deliver with pride, dan we succeed together. Ini menjadi penting sekali karena konsep dari kerjasama ini kami sangat hargai. Karena di dalamnya ada rasa kepemilikan, rasa tanggung jawab, dan bentuk implementasinya. Saya selalu mengatakan bahwa kita bisa hanya terlihat seperti superstar tapi kita lebih suka menjadi kemenangan tim," ucap Batara.

Dia menambahkan, setiap individu di Citibank Indonesia tentu berkesempatan untuk mengembangkan dirinya hingga pucuk pimpinan. Perseroan tidak membatasi status gender, status warga negara, hingga latar belakang individu. Batara menambahkan, perusahaan utamanya fokus untuk meningkatkan soft skill dan hard skill para karyawannya. Khusus soft skill, nantinya akan berguna bagi individu menatap masa mendatang agar tetap adaptif dan inovatif. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN