Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6).  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Ekuitas Negatif Rp 12 Triliun, Asabri Butuh Dana Rp 13,75 Triliun

Jumat, 11 Juni 2021 | 04:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Asabri (Persero) mengumumkan kabar baik bahwa negatif ekuitas di akhir tahun 2020 sebesar Rp 13,3 triliun berhasil ditekan menjadi negatif Rp 12 triliun pada April 2021. Meski relatif membaik tetapi rasio kecukupan modal (risk based capital/RBC) jauh dari ketentuan yang berlaku, sehingga Asabri masih perlu suntikan dana sebesar Rp 13,75 triliun.

Direktur Utama Asabri R Wahyu Suparyono menyampaikan, dalam kurun 2018-2020, akumulasi rugi komprehensif mencapai Rp 11,76 triliun. Ekuitas pun tercatat negatif Rp 13,3 triliun dengan posisi RBC negatif 819%, jauh di bawah ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120%. Untuk itu, Asabri membutuhkan dana dalam rangka pemenuhan RBC mencapai Rp 15,16 triliun.

Namun demikian, sambung dia, kondisi keuangan pada akhir 2020 itu kian membaik jika ditilik dari kinerja per April 2021. Kondisi defisit ekuitas berhasil ditekan menjadi negatif Rp 12 triliun. Maka dana yang dibutuhkan bagi asuransi sosial bagi TNI/Polri dan ASN Kementerian Pertahanan tersebut pun ikut berubah.

"Disebabkan dampak dari suku bunga aktuaria. Jadi ada perbaikan pencadangan, sehingga ada perbaikan pada laba komprehensif sebesar Rp 1,3 triliun. Sehingga dana yang dibutuhkan (mencapai minimal RBC) kembali bergerak menjadi Rp 13,75 triliun," ungkap Wahyu ketika Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (10/6).

Dia menerangkan, penyesuaian bunga aktuaria yang efektif pada April 2021 naik menjadi 7,48% dari 6,92%. "Ini memberikan dampak yang cukup signifikan dalam penurunan pencadangan. Semakin suku bunga tinggi, maka biaya semakin rendah sehubungan dengan liabilitas polis masa depan yang dicadangkan," imbuh dia.

Penyebab Kerugian
Wahyu pun mengungkapkan, penurunan nilai wajar investasi pada Asabri mayoritas terjadi pada 2019. Secara kumulatif, nilai investasi turun hingga Rp 19,4 triliun pada saat itu. Portofolio saham dan reksa dana saham yang berafiliasi dengan Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat tak ayal disebut menjadi biang keladinya.

Penurunan nilai wajar investasi saham dan reksadana saham pada program THT, JKK, dan JKM adalah sebesar Rp 8 triliun pada tahun 2019. "Sebagai contoh, penurunan tertinggi pada PT Alfa Energi Investama Tbk dalam satu tahun tidak bergerak bahkan turun 95%. Harga saat beli 5.837, terjun bebas menjadi 326. Kemudian penurunan nilai saham Pool Advista dan NAB reksa dana Maybank Asset Management, masing-masing sebesar 83% dan 66%," jelas dia.

Sementara itu, nilai wajar investasi pada dana titipan pemerintah yang sudah diatur PMK atau pada program JP (AIP) turun Rp 11,4 triliun. Kontribusi tertinggi, ada pada kinerja investasi saham Indofarma selama tiga tahun belakangan yang terjun bebas 73%. Tapi pada saat yang sama, terjadi peningkatan investasi di instrumen lainnya sebesar Rp 1,9 triliun pada deposito dan SBN.

Sedangkan di akhir 2020 Asabri mencatat total aset sebesar Rp 31,07 triliun (audited). Dengan ekuitas negatif Rp 13,3 triliun, maka liabilitas perseroan setidaknya tercatat sekitar Rp 44,37 triliun. Perseroan melayani total peserta aktif dan pensiunan sebanyak 1,36 juta orang, diantaranya sebanyak 921 ribu peserta aktif yang masih berdinas dan 440 ribu pensiunan hingga Mei 2021.  

Asabri turut mencatat penyaluran dana pensiun, pembayaran THT, JKK, JKM, serta meluncurkan Asabri Mobile dan Asabri Link selama tahun 2020. Sepanjang tahun lalu, perseroan menyalurkan dana pensiun sebesar Rp 15,5 triliun terhadap lebih dari 434 ribu pensiunan. Asabri juga membayarkan klaim THT, JKK, dan JKM sebesar Rp 1,5 triliun.

Strategi Kesehatan Keuangan
Di sisi lain, Wahyu menuturkan, empat direksi bersama komisaris Asabri telah menyusun beberapa strategi untuk kembali menyehatkan keuangan perusahaan. Pertama, perbaikan tata kelola Asabri, termasuk penataan ulang struktur organisasi dan kebijakan investasi.

"Kemudian, optimalisasi bisnis dan efisiensi biaya melalui sinergi dengan PT Taspen. Jadi di Kementerian BUMN sekarang per klaster. Ketiga, pemulihan aset non produktif, terutama aset yang salah kelola sehingga menempel pada HH dan BT yang sedang menjalani proses hukum di pengadilan. Kami juga melakukan penyesuaian portofolio investasi," beber dia.

Terakhir, Wahyu menambahkan, hal paling strategis adalah dukungan pemangku kebijakan. Dalam hal ini, diperlukan dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yaitu penggunaan bunga aktuaria dengan standar asuransi sosial. Serta ada kewajiban pemerintah yang mesti dipenuhi menyangkut unfunded past service liability (UPSL).

Adapun pelaksanaan RDP antara PT Asabri (Persero) dengan Komisi IV DPR RI menyangkut kekhawatiran terus memburuknya kinerja perusahaan. Hal itu dinilai bisa berdampak pada moral prajurit TNI dan Polri yang sedang bertugas menjaga kedaulatan NKRI. Selain itu, RDP turut membahas potensi kerugian yang dialami para peserta Asabri terkait Jaminan Hari Tua (JHT).  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN