Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Enam Perusahaan Asuransi Kantongi Izin Pemasaran PAYDI Secara Digital

Senin, 24 Agustus 2020 | 20:23 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuturkan sebanyak enam perusahaan asuransi telah mengantongi izin pemasaran secara digital untuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). Namun demikian, penerapan teknologi di industri asuransi pun diharapkan bisa memperkuat aspek manajemen risiko.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Riswinandi menyampaikan, pihaknya telah memberikan sejumlah relaksasi terhadap industri asuransi sebagai upaya menahan kinerja merosot lebih dalam. Salah satunya yakni relaksasi berupa penjualan PAYDI secara digital. Beberapa waktu berjalan, relaksasi itu tampaknya disambut industri asuransi dengan baik.

"Sampai saat ini kita telah mengeluarkan izin kepada enam perusahaan untuk menjalankan penjualan secara elektronik, dan ada empat perusahaan lagi yang saat ini dalam proses persetujuan," kata dia pada salah satu webminar, Senin (24/8).

Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menyampaikan Keynote Speech saat acara Investor Awards Best Insurance 2018 di Jakarta, Selasa (24/7). FOTO: UTHAN A RACHIM
Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi. FOTO: UTHAN A RACHIM

Riswinandi menerangkan, ketika pandemi Covid-19 usai, maka penjualan produk asuransi secara digital bakal memiliki peranan penting dalam pertumbuhan industri asuransi. Meski begitu, setiap penyelenggara mesti memahami dan memperkuat aspek kehati-hatian, termasuk aspek perlindungan hak-hak konsumen. Hal tersebut begitu sensitif karena terkait isu reputasi perusahaan asuransi yang belakangan sedang ramai dibicarakan.

Menurut dia, melalui teknologi seharusnya industri asuransi mampu memperkuat manajemen risikonya. Apalagi belakangan minat masyarakat untuk bertransaksi secara digital terus meningkat seiring himbauan pemerintah untuk menerapkan social distancing.

Lagi pula, industri jasa keuangan yang diantaranya merupakan industri asuransi dinilai mesti cepat merespon dan memanfaatkan pentingnya digitalisasi untuk mempermudah akses pelayanan.

Selain itu, kata dia, industri asuransi mesti kerja lebih keras mengenai manajemen investasinya saat situasi krisis. Hal tersebut karena indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat terkoreksi dan masih belum terlalu stabil dalam periode lima sampai enam bulan belakangan.

Berdasarkan catatan OJK, industri asuransi merupakan industri yang cukup rentan akibat volatilitas di pasar modal. Meningkat secara agregat sekitar 80% portofolio investasi di industri menggunakan instrumen yang terkait pasar modal seperti saham, reksa dana, obligasi, dan lain-lain. Sehingga segala hal yang terjadi di pasar modal akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada industri asuransi.

"Oleh karena itu, kami meminta perusahaan asuransi lebih berhati-hati dalam pengelolaan aset dan liability management. Agar dapat terhindar dari kondisi khususnya terkait reputasi, seperti gagal bayar. Ini penting sekali menjadi perhatian mengingat perkembangan di akhir-akhir ini," ungkap Riswinandi.

Namun demikian, sambung Riswinandi, tingkat solvabilitas atau risk based capital (RBC) asuransi sebagai parameter kesehatan sampai dengan kuartal II-2020 masih relatif baik.

Untuk asuransi jiwa tercatat mencapai 688,1%, sedangkan asuransi umum tercatat mencapai lebih dari 319%. Meski cenderung menurun, level rasio tersebut masih diatas ketentuan OJK sebesar 120%.

Selanjutnya, dia memaparkan, aset industri asuransi per Juni 2020 masih tumbuh walaupun secara tahunan (year on year/yoy) masih lebih rendah 4% dibandingkan periode sama di 2019. Kemudian secara pengumpulan premi di asuransi jiwa mengalami penurunan dibanding periode sama pada 2019. Pada Juni 2020 ada penurunan sebesar 10% (yoy) menjadi sebesar Rp 13,07 triliun. Sedangkan asuransi umum penggunaannya relatif lebih sedikit yaitu 2,32% (yoy).

"Jadi bisa kita sama-sama perhatikan juga kembali ke skala prioritas masing-masing perusahaan. Karena asuransi ini masih perlu dilakukan pendalaman supaya masyarakat punya insurance minded yang tinggi," ucap Riswinandi.

Tumbuh Dua Kali
Riswinandi menyatakan, OJK melihat bahwa industri asuransi jika dapat memanfaatkan momentum pandemi Covid-19, bisa melahirkan sejumlah peluang bisnis baru. Maka industri asuransi perlu terus berbenah sebagai ancang-ancang bisa tumbuh pesat setelah pandemi berakhir. Di samping pertumbuhan ekonomi juga memiliki andil besar untuk kelangsungan pertumbuhan tersebut.

Karena menurut dia, dari pendekatan dan analisa OJK, industri asuransi setidaknya bakal mengalami tiga tahapan (stage) pasca terjadinya pandemi. Pertama yakni reduction on demand, hal itu ditandai dengan pengurangan bisnis akibat daya beli yang turun. Juga tergambar dari realisasi penghimpunan premi industri.

Kemudian tahap yang kedua, adalah increase in claim. Erat kaitannya dengan kondisi nasabah yang sedang memerlukan kebutuhan keuangan dan tergambar pada peningkatan klaim saat pandemi.

Fenomena itu kata Riswinandi, salah satunya dapat tercermin dari data AAJI yang mencatat bahwa asuransi jiwa membayarkan total klaim atas Covid-19 dalam periode Maret-Juni 2020 sebesar Rp 216 miliar. Selain itu, hal-hal lain yang terkait dengan Covid-19 juga sudah dibayarkan sebanyak 1642 klaim oleh perusahaan asuransi jiwa.

"Kami berterima kasih karena industri asuransi jiwa bisa menjaga komitmennya. Karena hal yang terkait reputasi bisa sama-sama kita jaga sebagai media untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat," ujar Riswinandi.

Untuk tahapan ketiga, lanjut dia, adalah increase in demand. Belajar dari pandemi SARS di Tiongkok beberapa waktu lalu, pandemi banyak merubah orang untuk lebih menyadari akan risiko. Hal itu banyak terlihat setelah enam bulan SARS berakhir.

"Ketika itu, terjadi peningkatan premi asuransi hingga lebih dari dua kali lipat. Ini juga diharapkan setelah pandemi Covid-19 selesai. Tentu ini perlu lebih dulu dibangun pada saat pandemi, supaya pada saat pandemi selesai, industri asuransi dapat menikmati manfaat dari upaya yang dilakukan," kata dia.

Kendati begitu, Riswinandi menuturkan, risiko pengelolaan perusahaan asuransi ini lebih tinggi dibandingkan perbankan. Risiko penyaluran kredit di perbankan dapat ditekan dengan adanya penjaminan, berikut dengan analisa yang baik. Tetapi untuk asuransi, ketika melakukan asuransi tapi tidak dengan hati-hati maka akan dikendalikan pasar.

"Situasi di akhir-akhir ini kami harapkan menjadi pelajaran kita semua di industri asuransi dan nasabah untuk betul-betul memahami hubungan antara keduanya guna mencapai manfaat yang lebih baik di kemudian hari," tutup dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN