Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Februari, Kredit Perbankan Tumbuh 5,93%

Nida Sahara, Minggu, 29 Maret 2020 | 13:08 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai dengan Februari 2020 sektor jasa keuangan masih tumbuh meskipun melambat. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit perbankan nasional yang tumbuh 5,93% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dibandingkan Januari 2020 yang tumbuh6,10% (yoy).

"Kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,93%, pertumbuhan kredit tersebutditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 10,29% (yoy)," kata Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Jumat (27/3).

Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: fecon.uii.ac.id
Direktur Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo. Foto: fecon.uii.ac.id

Pertumbuhan kredit pada Februari 2020 yang sebesar 5,93% (yoy) tersebut cenderung melambat dibandingkan dengan kredit per Januari 2020 yang tumbuh 6,10% (yoy). Kredit investasi juga melambat dari Januari yang tumbuh 10,48% (yoy), sedangkan Februari tumbuh 10,29% (yoy).

Sementara itu, berdasarkan data OJK, di tengah pertumbuhan kredit tersebut, profil risiko juga mengalami kenaikan dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross di posisi 2,79% pada Februari, naik dari posisi Januari di level 2,77%.

Sedangkan NPL net di level 1,00% per Februari, menurun dari Januari 1,04%. "Dari sisi penghimpunan dana, tercatat dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perbankan tumbuh 6,80% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan kredit," imbuh Anto.

Namun, pertumbuhan DPK tersebut flat dengan pertumbuhan DPK per Januari yang juga 6,80% (yoy). Risiko nilai tukar perbankan berada pada level yang rendah pada Februari 2020, dengan rasio posisi devisa neto (PDN) sebesar 2,35%, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%.

Di sisi likuiditas dan permodalan, OJK menilai kondisi perbankan berada pada level yang memadai. Adapun, liquidity coverage ratio (LCR) dan rasio alat likuid/ non core deposit masing-masing sebesar 212,30% dan 108,12%, jauh di atas treshold masing-masingsebesar 100% dan 50%.

Selain itu, permodalan perbankan masih tebal, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di posisi 22,42% pada Februari 2020. Posisi CAR perbankan per Februari sedikit menurun dari posisi Januari yang berada di level 22,83%.

OJK juga memberikan kebijakan stimulus di sektor perbankan yang terdiri atas dua relaksasi. Pertama, penilaian kualitas kredit atau pembiayaan atau penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga untuk kredit sampai dengan Rp 10 miliar.

Kedua, peningkatan kualitas kredit atau pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi. Ketentuan restrukturisasi tersebut dapat diterapkan bank tanpa batasan plafon atau jenis debitur non-UMKM dan UMKM.

"Relaksasi pengaturan tersebut berlaku sampai dengan satu tahun setelah ditetapkan. Mekanisme penerapan diserahkan sepenuhnya kepada kebijakan masing-masing bank dan disesuaikan dengan kapasitas membayar debitur," tutur Anto.

Berbagai kebijakan tersebut diharapkan bisa membantu upaya pemerintah dalam memberikan ruang pelonggaran kepada sektor usaha termasuk usaha mikro dan kecil, agar diringankan pembayaran kredit atau pembiayaannya serta dimudahkan untuk kembali mendapatkan kredit dari perbankan.

OJK sejak Februari lalu juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus perekonomian di sektor perbankan, pasar modal dan industri keuangan nonbank yang diharapkan menjadi countercyclical dampak penyebaran Virus Korona, sehingga bisa mendorong optimalisasi kinerja industri jasa keuangan khususnya fungsi intermediasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

OJK senantiasa memantau perkembangan ekonomi global yang sangat dinamis dan berupaya untuk terus memitigasi potensi risiko yang ada terhadap kinerja sektor jasa keuangan domestik.

Sementara itu, OJK menilai kondisi perekonomian global diperkirakan akan terkontraksi cukup dalam pada semester I-2020 dan mulai kembali pulih pada Semester II-2020 seiring dengan wabah Virus Korona yang terus meningkat, khususnya di luar Tiongkok. Namun demikian, pulihnya perekonomian global akan sangat bergantung pada berakhirnya Virus Korona di tataran global.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN