Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Berkibar Saat Pandemi

Jumat, 4 Desember 2020 | 18:24 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) dari University of Cambridge Judge Business School, World Bank Group, dan World Economic Forum meluncurkan Studi Penilaian Cepat Pasar FinTech Global Covid-19 (Global Covid-19 FinTech Market Rapid Assessment Study).

Studi tersebut mengungkapkan, industri teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) global terus tumbuh di tengah pandemi. Sebanyak 60% perusahaan yang disurvei telah meluncurkan produk atau layanan baru atau mengembangkan produk yang telah ada sebelumnya.

Namun, pertumbuhan industri tekfin lintas model bisnis, wilayah, dan pasar sangat tidak merata. menghadapi hambatan signifikan dalam operasi dan penggalangan dana. Penyelenggara tekfin juga mengisyaratkan perlunya lebih banyak dukungan peraturan dan pemerintah mengingat pandemi Covid-19 masih menjadi kendala bagi industri. Riset ini didukung oleh UK Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO) dan Kementerian Keuangan Luksemburg.

Diambil dari 1.385 perusahaan tekfin di 169 negara, studi tersebut mengindikasikan, 12 dari 13 sektor tekfin mencetak pertumbuhan year-on-year selama semester I-2020. Perusahaan-perusahaan melaporkan pertumbuhan rata-rata dalam jumlah dan volume transaksi sebesar masing-masing 13% dan 11%. Namun, dampak Covid-19 pada kinerja pasar tidak merata di seluruh sektor industri, geografi, dan bergantung pada tingkat perkembangan ekonomi serta ketatnya peraturan terkait Covid-19 di masing-masing negara.

Pembayaran digital, digital savings, wealthtech, dan digital asset exchanges tumbuh 20% lebih, sedangkan sektor digital banking, digital identity, dan regtech menunjukkan pertumbuhan yang lebih rendah, sekitar 10%. Satu-satunya sektor yang melaporkan adanya penurunan selama periode yang sama adalah pinjaman online, yang volume transaksinya turun rata-rata 8%. Pinjaman online, sama seperti pinjaman bank, bersifat procyclical (ketika siklus ekonomi menurun maka penyaluran kredit pasti ikut menurun). FinTech yang memfasilitasi pinjaman online juga melaporkan penurunan rata-rata 6% dalam hal pemberian pinjaman baru dan melaporkan kenaikan 9% pinjaman yang menunggak.

"Covid-19 mempercepat perubahan perilaku orang dalam berinteraksi dengan layanan keuangan, yang telah menyebabkan kenaikan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari negara-negara berkembang untuk melanjutkan transisi mereka ke keuangan digital yang aman dan inklusif,” kata James Duddridge MP, menteri Inggris untuk Afrika di Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), Jumat (4/12/2020).

Walaupun studi tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan, dia menuturkan, ada beberapa indikator peringatan. Beberapa perusahaan mengalami penurunan pada posisi keuangan mereka. Penyelenggara tekfin juga mengkhawatirkan kemampuan meningkatkan modal di masa depan. Hal ini adalah sesuatu yang harus menjadi perhatian oleh komunitas tekfin mengingat peluang ekonomi yang signifikan yang diberikan oleh sektor ini.

“Studi ini mengungkapkan, sebagian besar industri tekfin global tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19. Meskipun demikian, hasil tersebut harus diinterpretasikan dalam konteks ketidakseimbangan dalam pertumbuhannya, dan peluang industri harus disandingkan dengan tantangan yang dihadapinya,” kata Co-Founder dan Executive Director Cambridge Centre for Alternative Finance Bryan Zhang.

 

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN