Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Lending Targetkan Penyaluran Pembiayaan Rp 100 Triliun

Senin, 2 Agustus 2021 | 04:28 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri fintech p2p lending menargetkan penyaluran pembiayaan hingga Rp 100 triliun atau tumbuh 36,98% secara tahunan (year on year/yoy) di tahun 2021. Adapun sampai Mei 2021, realisasi penyaluran pembiayaan telah mencapai Rp 56,09 triliun.

Ketua Klaster Fintech Multiguna Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sekaligus CEO Maucash Rina Apriana menyampaikan, realisasi penyaluran pembiayaan bulanan fintech lending memang sempat terkontraksi akibat pandemi Covid-19. Tapi sejak akhir tahun lalu, realisasi penyaluran pembiayaan terus menunjukkan tren baik.

"Penyaluran pembiayaan di tahun lalu mencapai Rp 73 triliun, tahun ini kami memproyeksi bisa sampai dengan Rp 100 triliun dari fintech lending legal," kata Rina pada webinar bertajuk Memerangi Pinjol Ilegal dan Memperkuat Reputasi Fintech Lending, akhir pekan lalu.

Berdasarkan Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diolah AFPI, sejatinya penyaluran pembiayaan fintech lending memang mampu tumbuh setiap tahunnya. Jika dirinci, pembiayaan di tahun 2017 tercatat sebesar Rp 3 triliun atau tumbuh 567% (yoy). Kemudian naik 175% (yoy) menjadi Rp 20 triliun di 2018.

Pertumbuhan itu berlanjut di 2019, penyaluran pembiayaan meningkat 20% (yoy) menjadi Rp 58 triliun. Selanjutnya naik 25% (yoy) menjadi Rp 73 triliun di 2020. Pada awal Oktober 2020, AFPI sempat menargetkan penyaluran pembiayaan di tahun 2021 bisa mencapai Rp 89 triliun. Tapi kini, proyeksi itu diperlebar menjadi sekitar Rp 86-100 triliun.

Sementara itu, Statistik Fintech Lending Indonesia yang dirilis OJK mencatat bahwa realisasi penyaluran pembiayaan sampai dengan Mei 2021 mencapai Rp 56,09 triliun, nilai itu lebih dari separuh dari target yang dicanangkan hanya dalam waktu lima bulan.

Adapun penyaluran pembiayaan secara bulanan (month to month/mtm) memang terus tumbuh subur, seiring dengan jumlah penerima pinjaman (borrower) yang juga terus bertambah.

Pembiayaan per Januari 2021 tercatat sebesar Rp 9,38 triliun. Lalu naik 2,13% (mtm) menjadi sebesar Rp 9,58 triliun per Februari 2021. Berlanjut melesat 22,77% (mtm) menjadi sebesar Rp 11,76 triliun pada Maret 2021. Pembiayaan pun kembali naik 3,57% (mtm) menjadi Rp 12,18 triliun per Februari 2021. Serta tumbuh 8,01% (mtm) menjadi sebesar Rp 13,16 triliun di Mei 2021.

Pertumbuhan penyaluran pembiayaan itu seiring dengan jumlah penerima pinjaman (borrower) yang juga terus bertambah. Secara berurutan dari Januari-Mei 2021, fintech lending telah menyalurkan pembiayaan kepada 24,76 juta borrower, 28,26 juta borrower, 29,54 juta borrower, 36,79 juta borrower, dan 38,70 juta borrower.

Di samping itu, tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) relatif dijaga baik. Fintech lending pernah mencatatkan TKB 90 sebesar 91,12% pada September 2020. Namun sejak saat itu dan dengan adanya kebijakan restrukturisasi pembiayaan rasio keberhasilan bayar itu terus membaik. TKB 90 per Mei 2021 dijaga baik di posisi 98,46%.

"Tingkat keberhasilan bayar 90 hari atau TKB 90 karena praktek yang dilakukan cukup prudent, sehingga TKB 90 bisa mencapai di atas 98%," kata Rina.

Pada kesempatan sama, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II OJK Moch Ihsanuddin mengatakan, perkembangan pesat dari fintech lending mesti turut diikuti regulasi yang memadai. OJK terus memperbaiki regulasi yang ada, khususnya terkait dengan fintech lending.

Selain itu, sambung dia, fintech lending juga diharapkan bisa terus mengisi gap pembiayaan bagi daerah-daerah pelosok serta mendukung penetrasi literasi keuangan di Indonesia.

"Ketika mapping, 60% pendanaan masih di Jawa, ini juga tidak jauh dengan industri keuangan lainnya, apalagi kalau dibandingkan dengan volume jumlah uang beredar. Fintech p2p lending ini upaya pemerataan pendanaan, karena bisa diakses, pakai gadget sudah bisa dilakukan," jelas Ihsanuddin.

Di sisi lain, sejumlah pemain fintech lending juga telah memaparkan realisasi pembiayaan sampai paruh pertama tahun ini dan target penyaluran sampai akhir tahun 2021.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra  Sumber: BSTV

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) misalnya, sampai semester I-2021 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp Rp 870 miliar atau tumbuh 35% (yoy), disalurkan kepada sekitar 200 ribu perempuan pengusaha mikro.

Selain itu, Amartha pun berhasil menjaga tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) di posisi 99,86%, dengan non performing financing (NPF) sebesar 0,2% sampai Juni 2021. Sedangkan akumulasi pembiayaan mencapai Rp 3,93 triliun, dengan TKB 90 sebesar 95,25%. Penetrasi perseroan akan terus berlanjut dengan menjamah wilayah luar Jawa.

"Sepanjang semester I-2021, lebih dari 60% portofolio penyaluran pembiayaan atau lebih dari Rp 500 miliar sudah disalurkan untuk wilayah luar Jawa. Kemudian, di semester II-2021 kita ingin meningkatkan penyaluran pembiayaan ke luar Jawa mungkin sampai dengan porsi 70%, seperti ke wilayah Sumatera dan Sulawesi," beber Founder and CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra.

Selanjutnya, PT Pinduit Teknologi Indonesia (Pintek) sebagai penyelenggara fintech lending yang fokus pada sektor pendidikan mencatat pertumbuhan bisnis sampai dengan empat kali lipat di semester I-2021. Sedangkan sampai akhir tahun, penyaluran pembiayaan ditargetkan mencapai nilai Rp 700 miliar.

"Di tahun ini, Pintek menargetkan penyaluran hingga Rp 700 miliar dengan kesiapan dana yang optimal guna memenuhi permintaan dari UKM/vendor pendidikan. Sejak tahun 2019, Pintek sudah menyalurkan pendanaan ke lebih dari 3.000 siswa dan lebih dari 100 institusi pendidikan baik sekolah, perguruan tinggi, hingga UKM/vendor pendidikan," ungkap Co-Founder dan Direktur Utama Pintek Tommy Yuwono.

Co-Founder dan Direktur Utama Pintek Tommy Yuwono (kanan) dan Co-Founder dan Direktur Pintek Ioann Fainsilber.
Co-Founder dan Direktur Utama Pintek Tommy Yuwono (kanan) dan Co-Founder dan Direktur Pintek Ioann Fainsilber.

Sementara itu, Grup Modalku yang diantaranya memberikan pembiayaan pada pelaku merchant online mencatat telah menyalurkan lebih dari Rp 4,2 triliun sepanjang semester I-2021, atau tumbuh sekitar 60%. Akumulasi penyaluran pembiayaan secara grup mencapai Rp 24,6 triliun, dengan 4,6 juta jumlah transaksi.

UMKM yang paling banyak didanai oleh Modalku adalah sektor perdagangan, baik grosir dan eceran. Termasuk diantaranya 65% adalah pengusaha online, diikuti oleh sektor jasa sebesar 17%, dan sektor kesehatan sebesar 15%. Area penyaluran dana juga tidak terbatas di pulau Jawa, namun juga ke luar pulau Jawa yang bisa direalisasikan melalui kolaborasi dengan berbagai platform digital sebagai mitra Modalku.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN