Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fintech. Foto Ilustrasi: duniafintech.com

Fintech. Foto Ilustrasi: duniafintech.com

Fintech P2P Lending Tutup Gap Pembiayaan

Minggu, 28 Februari 2021 | 10:39 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Klaster Syariah AFPI dan COO PT Alami Fintek Sharia (Alami) Harza Sanditiyo menyampaikan, P2P lending hadir tidak ingin menjadi ancaman bagi eksistensi perbankan.

Sebaliknya, kehadiran P2P lending sebagai bentuk dukungan untuk menutup gap pembiayaan dari adanya pendanaan (funding) yang masih sangat besar di perbankan.

“Kami hadir ingin support dan lengkapi lembaga jasa keuangan, kami lembaga jasa keuangan yang ingin kontribusi. Pak Wimboh juga tadi menyebut funding gap di Indonesia masih sangat besar, sehingga harapannya kami dapat berkontribusi meminimalisir atau menutup funding gap dengan ekosistem lembaga keuangan lain di Indonesia,” papar Harza, dalam webinar bertajuk “Perspektif Hukum Kredit Perbankan yang Melakuka Pembiayaan Bersama (Channeling) dengan Perusahaan Fintech di Masa Pandemi Covid-19,” Jumat (26/2)..

Webinar bertajuk Perspektif Hukum Kredit Perbankan yang Melakuka Pembiayaan Bersama (Channeling) dengan Perusahaan Fintech di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (26/2).
Webinar bertajuk Perspektif Hukum Kredit Perbankan yang Melakuka Pembiayaan Bersama (Channeling) dengan Perusahaan Fintech di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (26/2).

Menurut dia, P2P lending tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan bank, tidak bisa menjalankan usahanya tanpa perbankan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari sisi operasional, P2P lending menyalurkan dana membutuhkan bank sebagai penampungan bank. Dari sisi komersial adalah channelling dengan perbankan menjadi peluang kolaborasi P2P lending.

“Seluruh kegiatan kami butuh bank, baik escrow atau virtual account, kita juga butuh giro, dan antara P2P lending dan bank juga ada terbentuknya rekening dana lender menempel ke escrow account,” lanjut dia.

Hingga Februari 2021, total pembiayaan Alami yang tersalurkan sebesar Rp 421 miliar, dengan fokus pendanaan produktif di invoice financing dan ekosistem financing. “Kami sudah melakukan channeling dengan beberapa bank syariah, bank konvensional, dan BPR dan BPRS. Pak Darmawan juga bilang concern dari NPL atau TKB 90, Alami masih 100% tingkat keberhasilan pengembaliannya,” jelas Harza.

Dia memaparkan keuntungan dari channelling dengan perbankan cukup banyak, seperti mendapatkan pendanaan dari bank sebagai lender yang memiliki sumber dana melimpah, khususnya selama masa pandemic Covid-19 likuiditas perbankan sangat ample.

“Tentunya P2P butuh funding untuk disalurkan ke borrower, memang ini menurut kami mutual benefit agar dapat dimanfaatkan kedua pihak. Karena di bank itu DPK melimpah, sedangkan kami butuh funding, semakin banyak sumber dana akan bantu P2P growth sustainable,” terang Harza.

Menurut dia, P2P hanya sebagai jembatan antara lender dengan borrower, apabila peminjam memiliki karakter yang tidak sesuai dengan pemilik dana atau lender, maka P2P juga tidak akan menyalurkannya, karena sudah ada kesepakatan di awal saat melakukan kerja sama.

“Dari awal sudah ada harmonisasi terkait produk, risk, syarat, dan kriteria itu yang dituangkan pada awal kerja sama. Untuk menyelaraskan sama-sama satu visi agar channelling berlangsung baik. Faktanya sebagai pemilik keputusan ada di lender, jika tidak sesuai dengan kriteria tentu bank bisa menolak dan tidak melakukan pendanaan,” urai dia.

Apabila hal tersebut terjadi, maka P2P lending akan mencari sumber dana dari lender lain, baik institusi maupun ritel yang memiliki kesesuaian dengan kriteria peminjam.

“Kita cari sumber dana lain, ini melihat risk appetite. Karena dengan bank kita kerja sama spesial, memang kita kasih kriteria yang disampaikan dalam kerja sama. Betul, apabila tidak cocok dengan bank, kita bisa beralih ke lembaga lain dan ritel yang punya kesesuaian,” jelas Harza.

Baca juga

https://investor.id/finance/fintech-berpotensi-mengisi-gap-pembiayaan-rp-2636-triliun

https://investor.id/finance/capai-us-44-miliar-ekonomi-digital-indonesia-terbesar-di-asia-tenggara

https://investor.id/finance/bank-mandiri-dukung-pertumbuhan-ekonomi-digital-melalui-investasi-dan-channeling

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN