Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto:  Humas Kementerian Koperasi dan UKM

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto: Humas Kementerian Koperasi dan UKM

Fintech Syariah Jadi Alternatif Pembiayaan UMKM

Senin, 22 November 2021 | 08:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Layanan dari penyelenggara financial technology (fintech) syariah sebagai bagian dari ekosistem keuangan digital bisa menjadi alternatif pembiayaan bagi UMKM yang belum mendapat akses permodalan. Pembiayaan hingga suntikan modal bisa didapatkan UMKM melalui fintech p2p lending syariah, securities crowdfunding, sampai koperasi syariah.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyampaikan, per September 2021, total aset institusi keuangan syariah tumbuh 17,32% (yoy) dengan nominal US$ 132,7 miliar. Nilai itu terdiri dari aset perbankan syariah sebesar US$ 43,58 miliar, pasar modal syariah berupa sukuk dan reksa dana US$ 80,95 miliar, dan lembaga keuangan non bank (LKNB) syariah sebesar US$ 8,16 miliar.

Indonesia juga merupakan salah satu negara terbesar dalam hal market size transaksi fintech syariah yang mencapai US$ 2,9 miliar selama tahun 2020. Indonesia berada di posisi lima besar dengan Arab Saudi, Iran, Uni Emirat, dan Malaysia berdasarkan Global Islamic Fintech Report 2021.

"Dengan potensi tersebut, kami terus mempercepat UMKM onboarding ke ekosistem digital. Saat ini telah mencapai 16,4 juta atau bertambah 8,4 juta, tumbuh 105% selama pandemi. Adapun berdasarkan survei, sebanyak 28% penjual digital menyatakan bisa bertahan selama pandemi karena menggunakan platform digital," kata Teten pada suatu webinar, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, Kemenkop UKM bekerja sama dengan lintas kementerian/lembaga, asosiasi, hingga perusahaan swasta memperluas pasar UMKM go digital. Hal itu menjadi bagian untuk meraih target 30 juta UMKM masuk ranah digital di tahun 2024 tercapai.

Pihaknya terus mendorong penyaluran pembiayaan koperasi syariah melalui LPDB Syariah. Saat ini telah tersalur sebesar Rp 616 miliar atau 77% dari target pembiayaan syariah kepada 58 mitra. Masing-masing kepada koperasi primer sektor riil sebesar Rp 104 miliar, koperasi primer simpan pinjam Rp 477 miliar, koperasi sekunder sebesar Rp 4,5 miliar, dan LKBB sebesar Rp 15 miliar.

"Ekosistem keuangan digital perlu terus didukung dan dijaga agar tercipta rasa aman bagi pelaku UMKM. Kami akan terus memperkuat kolaborasi pada semua pihak demi tumbuh kembangnya keuangan digital, agar menjadi berkah bukan bencana bagi UMKM," tandas Teten.

CEO dan Founder ALAMI Dima Djani
CEO dan Founder ALAMI Dima Djani

Sementara itu, CEO Alami Dima Djani menuturkan, Alami Grup telah mengakuisisi BPRS yang akan didigitalisasi dan luncurkan sebagai hijrah bank pada awal 2021. Sampai saat ini Alami juga sudah menyalurkan lebih dari US$ 50 juta berupa equity dan debt, sejalan dengan misi pemerintah supaya Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariah dunia.

Dari sisi pencapaian, Alami sudah menyalurkan pembiayaan sekitar US$ 100 atau senilai Rp 1,5 triliun selama dua tahun terakhir. Pembiayaan lebih dari Rp 1 triliun khusus disalurkan pada tahun 2021, dengan tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) di level 100%. Pembiayaan itu disalurkan kepada sekitar 3,5 ribu akun, dengan kontribusi pemberi pinjaman (lender) sebanyak 60 ribu.

"Penyaluran kumulatif naik 32 kali sejak awal 2020, sekarang sudah sekitar US$ 100 juta. Dengan top industries ada trading logistics, energi, perikanan, manpower, dan telekomunikasi. Menariknya lender sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di Indonesia Timur seperti Ambon, Papua, NTT. Sedangkan dari sisi penerima pinjaman masih fokus pada produktif yang tersebar di Jawa dan Sumatra, ada juga sedikit di Sulawesi dan Kalimantan," papar Dima.

Dia menambahkan, lender atau funders yang melakukan pembiayaan ulang melalui fintech p2p lending syariah Alami mencapai lebih 70%, menandakan adanya kepuasan para lender. Pencapaian lainnya adalah net promoter score (NPS) relatif diatas rata-rata banking & finance.

Di samping itu, CEO PT Shafiq Digital Indonesia (Shafiq) Kevin Syahrizal menyampaikan, per 21 Desember 2020 terdapat 126 penerbit yang mengumpulkan dana lewat equity crowdfunding (ECF) senilai Rp 178 miliar dan 37,2 ribu investor. Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) memperkirakan Rp 300 miliar akan terhimpun melalui securities crowdfunding (SCF) di tahun ini.

Ada potensi sangat besar untuk proyek-proyek elektronik dengan pemerintah yang mencapai Rp 74 triliun dengan melibatkan sekitar 160 ribu UMKM. Data ALUDI sampai 17 November 2021 mencatat sebanyak 496 ribu pengguna yang mendaftar, dengan proteksi sampai dengan Desember 2021 akan ada sebanyak 500 ribu pengguna.

Lalu ada sebanyak 184 penerbit saham, satu penerbit obligor, dan tiga penerbit sukuk. Diproyeksikan sampai dengan Desember 2021 akan bertambah penyelenggara SCF, maka 500 UMKM ditargetkan siap melakukan penawaran dengan potensi jumlah 64,2 juta UMKM.

Jika dirinci, dana yang ditawarkan sebesar Rp 392,05 miliar dalam bentuk saham, Rp 1,5 miliar dalam bentuk obligasi, dan Rp 4,65 miliar dalam bentuk sukuk. Hingga akhir Desember 2021 diproyeksi dana yang dihimpun sebesar Rp 500 miliar. Shafiq sebagai penyelenggara SCF pun meyakini industri akan semakin berkembang di masa mendatang.

"Laporan dari ALUDI memang potensi bisnis dari SCF masih besar, ini tidak bisa dibandingkan dengan bisnis p2p lending yang sudah dewasa, SCF masih baru. Penyelenggara baru tujuh, tiga sudah SCF sedangkan sisanya masih ECF atau belum meningkatkan izin di OJK. Jadi tantangannya masih besar, namun kalau melihat peluangnya masih terbuka lebar, baik bagi investor maupun para UMKM itu sendiri," demikian kata Kevin.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN