Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Forsawa Bersatu: Derita Tiada Akhir Pemegang Polis Wanaartha Life

Minggu, 4 Oktober 2020 | 14:32 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id - Forum Nasabah Wanaartha Bersatu (Forsawa Bersatu) mengungkapkan bahwa apa yang mereka alami selama ini merupakan derita tiada akhir.

Ketua Forsawa Bersatu Parulian Sipahutar, dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (4/2020), menyebutkan 8 bulan sudah sejak Wanaartha Life pertama kali menginformasikan kepada Pemegang Polis Wanaartha bahwa Wanaartha Life tidak dapat melakukan kewajibannya membayar nilai tunai manfaat dan pencairan pokok polis dikarenakan adanya pemblokiran dan penyitaan Sub Rekening Efek milik Wanaartha Life dalam indikasi kasus Jiwasraya.

Wanaartha Life memberikan keyakinan bahwa Wanaartha Life tidak terlibat dan tidak ada aset Benny Tjokro atau para tersangka lainnya di dalam Aset Wanaartha Life yang disita.

Dalam perjalanannya Wanaartha Life sudah melakukan klarifikasi kepada Kejagung sebagaimana diminta. Bahkan OJK menjawab dalam surat balasan kepada para nasabah bahwa Wanaartha Life tidak dalam kondisi suspend, dan dalam kondisi beroperasional.

Namun dalam pemaparannya tanggal 26 September 2020, Jampidsus Ali Mukartono menyampaikan bahwa Wanaartha Life sudah mengalami gagal bayar sejak Oktober 2019, ditambah lagi dengan pernyataan bahwa Wanaartha Life tidak pernah memberikan klarifikasi ataupun meresponi panggilan dan Kejagung untuk memberikan klarifikasi.

Suatu hal yang tak mungkin bilamana Wanaartha Life sudah dalam kondisi gagal bayar di Okt 2019, maka sudah seharusnya Wanaartha Life mengalami permasalahan dan tidak menunggu sampai Februari 2020 untuk menyampaikan permasalahannya kepada

Pemegang Polis. Henry Lukito, salah seorang pemegang polis Wanaartha Life menyampaikan “Saya baru masuk menjadi nasabah Wanaartha Life di November 2019, jika Wanaartha Life gagal bayar Oktober 2019 mereka masih dapat melakukan penjualan? Selama itu pula mereka melakukan kewajiban pembayaran nilai tunai. Apakah OJK juga lalai dalam melakukan pengawasan?.”

Parulian mempertanyakan, “bilamana memang Wanaartha Life gagal bayar di Oktober 2019, jadi yang sekarang diblokir dan disita itu apa? Wanaartha Life sudah menyampaikan bahwa yang disita merupakan aset Wanaartha Life yang ada di dalam Sub Rekening Efek (SRE) Wanaartha Life. Bukankah kalau gagal bayar berarti sudah tidak memiliki kemampuan bayar? Tapi kenyataannya masih ada Rp2,4 triliun yang disita oleh Kejagung.

Pemegang Polis saat ini dihadapkan oleh kesulitan yang timbul dari perselisihan antara Wanaartha Life dan Kejagung. Di satu sisi Wanaartha Life menyatakan kepada

Pemegang Polis bahwa mereka tidak bisa melakukan kewajibannya karena pemblokiran dan penyitaan Kejagung, namun di sisi lain Kejagung menuduh Wanaartha Life terlibat dalam kasus Jiwasraya melakukan penyitaan terhadap “aset Benny Tjokro” di Wanaartha Life dan mengatakan Wanaartha Life sudah gagal bayar sejak Oktober 2019, yang tentunya bertentangan dengan pernyataan OJK.

Terakhir 1 Oktober 2020, beberapa pemegang polis mendatangi Kejagung untuk meminta kejelasan dan membuka sita, hal ini diikuti dengan kunjungan ke PN Jakarta Pusat dan di kota-kota lain juga. Apapun yang terjadi Pemegang Polis yang menderita.

Saat ini yang seharusnya terjadi adalah Kejagung mengundang Wanaartha Life untuk menyampaikan klarifikasinya, Wanaartha Life juga harus bersikap ksatria dan terbuka akan segala hal yang diminta dijelaskan. Kejagung juga seharusnya berkoodinasi bersama OJK dan tidak melampaui kewenangannya dalam kasus ini.

Selain itu pernyataan Kejagung yang sebelumnya juga disampaikan bahwa mereka berupaya melakukan pengembalian kerugian Jiwasraya sebesar Rp16 T dengan cara mencari dana sebesar-besarnya menjadi salah, karena dana Pemegang Polis Wanaartha Life merupakan dana rakyat dan bukan dana milik perorangan ataupun institusi Wanaartha Life , hal ini perlu dibuktikan dan Wanaartha Life harus menyampaikan bukti-bukti ini kepada Kejagung. Hal-hal ini akan menjadi angin segar bagi kejelasan nasib Pemegang Polis.

Parulian kembali menyampaikan, “Kami sebagai pemegang polis mengharapkan kebenaran yang terjadi dan kami sebagai pemegang polis tidak sepantasnya dirugikan dengan disitanya dana kami. Kami mendukung segala tindakan Kejagung dalam kasus Jiwasraya, namun kami sangat tidak mendukung bilamana dalam rangka mengembalikan kerugian negara, Pemegang Polis Wanaartha Life dirugikan dan tidak dapat menikmati nilai hasil manfaat dan pokok investasi yang sudah mereka tanamkan”.

"Mari kita tunggu langkah berikutnya dari Kejagung dan Wanaartha Life . Pemegang Polis merasa keadilan masih bisa ditegakkan di bumi Indonesia, Kejagung yang saat ini juga banyak diguncang issue eksternal lainnya pasti juga akan memikirkan dengan hati-hati, dampak dan akibat dari penyitaan ini," punhkas Parulian Sidabutar..

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN