Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur BI: Wajar Saat Bunga Valas Rendah, Dana Haji Dikonversi ke Rupiah

Nasori, Sabtu, 6 Juni 2020 | 14:15 WIB

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai wajar saat suku bunga valuta asing (valas) rendah, sementara rupiah menguat seperti sekarang, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengalihkan simpanannya dari valas ke rupiah. Namun, ia menampik berita bahwa akibat pemberangkatan haji tahun ini dibatalkan, simpanan valas BPKH US$ 600 juta digunakan untuk memperkuat nilai tukar (kurs) rupiah.

Perry menegaskan, sesuai dengan kewenangannya, BI hanya berkepentingan untuk menjaga agar mekanisme pasar valas bekerja secara baik dan kondusif serta kurs rupiah stabil, bahkan menguat. “Secara logika, ya wajar kalau sekarang suku bunga valas rendah dan rupiah menguat, ada pergeseran dana yang semula di valas ke rupiah. Itu wajar, tentu saja keputusan internal dan mutlak dari BPKH,” ujar dia dalam media briefing secara virtual, Jumat (5/6).

Mekanisme yang terjadi, lanjut Perry, bank sentral akan melakukan komunikasi saat palaku pasar, termasuk BPKH, masuk ke pasar baik saat membutuhkan valas maupun melepas valas. “Di situ memang berkomunikasi, timing-nya bagaimana, baiknya bagaimana, dan jumlahnya berapa. Itu adalah mekanisme di pasar, ada komunikasi antarpelaku supaya betul-betul pasarnya berjalan secara kondusif,” jelas dia.

Hal yang sama, kata Perry, juga dilakukan bank sentral dengan pelaku-pelaku pasar lain baik sebagai pemasok maupun penyerap valas, seperti perbankan, PT Pertamina (Persero), maupun para eksportir dan importir. “Namun, secara rinci (terkait dana haji), mohon ditanyakan kepada Kepala BPKH, Pak Anggito Abimanyu. Kalau berkaitan dengan stabilitas nilai tukar rupiah, itu wewenang BI dan kami selalu berkomunikasi dengan para pelaku pasar,” tandas dia.

Namun, Perry mengaku telah menerima informasi bahwa Kepala BPKH Anggito Abimanyu mengeluarkan siaran pers yang intinya menyebutkan, pemberitaan-pemberitaan yang mengatakan BPKH akan menggunakan dana haji untuk memperkuat nilai tukar karena haji dibatalkan adalah tidak benar. “Kan sudah dijelaskan seperti itu. Tentu saja semuanya tolong ditanyakan kepada BPKH, Pak Anggito,” ucap Perry.

Sesuai dengan kebutuhan, menurut Perry, selama ini BPKH tidak hanya menyimpan dana haji dalam bentuk rupiah, melainkan juga valas seperti dolar Amerika Serikat (AS) dan riyal Arab Saudi. Semua ini untuk menyokong pembiayaan pemberangkatan yang pembayarannya banyak menggunakan valas. “Jadi, karena harus memberangkatkan haji, ya wajar sebagian dari dana haji itu ada yang ditempatkan di rupiah, ada yang ditempatkan di valas,” pungkas Perry.

Namun, sesuai dengan hukum ekonomi, konversi valas ke rupiah yang dilakukan BPKH akan meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga bisa berpengaruh pada penguatan nilai tukar rupiah. Artinya penguatan rupiah ini merupakan efek tidak langsung dari konversi tersebut dan tidak ada kesengajaan untuk menggunakan dana haji dalam bentuk rupiah dan valas untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BP-BPKH) Anggito Abimanyu meluruskan berita yang menyatakan bahwa dana haji dalam bentuk valuta asing (valas) sebesar US$ 600 juta digunakan untuk memperkuat rupiah. Berita itu beredar di media sosial pada Selasa (2/6), tidak lama setelah pemerintah mengumumkan pembatalan pemberangkatan jamaah haji tahun ini.

“Saya ingin meluruskan berita yang ada di media sosial, yang beredar pada tanggal 2 Juni 2020, yang menyatakan dana haji dalam bentuk valuta asing US$ 600 juta dipakai untuk memperkuat rupiah. Hal tersebut tidak benar sama sekali,” ujar Anggito dalam video singkat berdurasi 1:31 menit yang diunggah di akun Twitter resmi BPKH, @BpkhRi, Rabu (3/6) sore.

 

Aman dan Hati-hati

Menurut dia, berita itu muncul berawal dari acara internal halal bihalal di Bank Indonesia yang berlangsung pada 26 Mei 2020 secara virtual. Pada kesempatan itu, sebagai Kapala BPKH ia menyampaikan silaturahmi kepada jajaran gubernur dan deputi gubernur BI, sekaligus memberikan update perkembangan dana haji.Bila Haji Tahun Ini Batal, Dana US$ 600 Juta Siap untuk Sokong Penguatan Rupiah

“Kami merasa bahwa pemberitaan pada tanggal 2 Juni tersebut telah memberikan kesan bahwa pertama, dana haji dipakai untuk memperkuat rupiah, bukan untuk kehajian. Kedua, dana haji menjadi alasan untuk pembatalan haji tahun 2020. Hal tersebut juga kami nyatakan tidak benar sama sekali,” tandas Anggito.

Dalam video itu, Anggito pun berupaya meyakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, jamaah haji khususnya, bahwa dana yang dikelola BPKH dalam bentuk rupiah maupun valas yang totalnya mencapai Rp 135 trilun yang tersimpan di rekening BPKH atas nama jamaah, dikelola dengan prinsip syariah, aman, dan hati-hati. “Dan kami yakinkan pengelolaannya juga optimal,” pungkas dia.

 

 

 

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN