Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebanyak 2/3 usaha ultra mikro belum dapat akses ke lembaga keuangan formal

Sebanyak 2/3 usaha ultra mikro belum dapat akses ke lembaga keuangan formal

Holding BUMN UMi Kokohkan Posisi BRI sebagai Bank Ritel

Jumat, 30 Juli 2021 | 09:51 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Dengan menjadi holding BUMN ultra-mikro (UMi), PT BRI Tbk kian kokoh sebagai bank ritel terbesar di Indonesia. Penerbitan rights issue senilai Rp 95,9 triliun untuk mengambil alih PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) akan mengakselerasi laju pertumbuhan kredit, terutama kredit untuk usaha mikro.
Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan melesat, dengan pertumbuhan kredit rata-rata hingga 14% dalam lima tahun ke depan, setelah menjadi holding BUMN UMi.

 

Sumber pertumbuhan digenjot dengan menggarap sekitar 50 juta usaha UMi yang membutuhkan pendanaan tambahan, termasuk 3 juta nasabah dari PT Pegadaian dan 6 juta nasabah PT Permodalan Nasional Madani yang akan menjadi anggota holding. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menyetujui aksi korporasi rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD), untuk mendukung pembentukan holding BUMN UMi. BRI akan menjadi holding dan PT Pegadaian (Persero) serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero) sebagai anggota.

Rights issue dijadwalkan pada September 2021, dengan BRI akan melepas 28,67 miliar saham dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Nilai total rights issue bisa mencapai Rp 95,92 triliun, pada estimasi harga pelaksanaan sekitar Rp 3.346 per saham.

Pembentukan holding ultra mikro
Pembentukan holding ultra mikro

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada Senin (26/7/2021), perkiraan nilai rights issue itu berasal dari porsi pemerintah sebagai pemegang saham pengendali sebesar 56,7%, yang dibayarkan dari kepemilikan saham pemerintah di Pegadaian dan PNM secara inbreng atau dengan nilai Rp 54,77 triliun.

Selain itu, dari perkiraan dana tunai yang disetorkan pemegang saham minoritas sekitar Rp 41,15 triliun.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sunarso mengatakan, pembentukan holding BUMN UMi bertujuan antara lain untuk memperluas akses pembiayaan terhadap usaha ultra mikro.

 Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara Zooming with Primus bertajuk Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, Kamis (29/7/2021). (Investor Daily/Nida Sahara)
Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara Zooming with Primus bertajuk Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, Kamis (29/7/2021). (Investor Daily/Nida Sahara)

”Kalau pemegang saham minoritas mengeksekusi semua rights, kira-kira kami dapat cash Rp 41 triliun, yang digunakan untuk memperkuat modal, serta menurunkan cost yang ditanggung masyarakat yang sekarang masih tinggi di PNM dan Pegadaian.

Dengan dana itu, kami proyeksikan 5 tahun ke depan, kredit grup bisa tumbuh 14% rata-rata tahunannya Jika hanya 50% publik mengeksekusi rights, kredit masih bisa tumbuh rata-rata 10,7% per tahun dalam lima tahun ke depan,” kata Sunarso dalam Zooming With Primus bertema “Potensi Holding BUMN UMi”, yang ditayangkan live di Beritsatu TV, Kamis 29 Juli 2021.

Diskusi tersebut juga menghadirkan narasumber Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara, dan Head of Research PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma. Sedangkan sebagai moderator adalah News Director Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu.

Direktur Utama BRI Sunarso (tengah atas), Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara (bawah), dan Head of Research PT Samuel Sekuritas Suria Dharma (kanan atas) serta Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat program Zooming With Primus bertema Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, Kamis (29/7/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama BRI Sunarso (tengah atas), Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara (bawah), dan Head of Research PT Samuel Sekuritas Suria Dharma (kanan atas) serta Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu saat program Zooming With Primus bertema Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, Kamis (29/7/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sunarso menyampaikan, penggarapan potensi usaha ultra mikro yang sangat besar dapat memperkuat kompetensi inti (core competence) BRI pada segmen nasabah usaha mikro dan kecil.

Oleh karena itu, Sunarso berharap para pemegang saham minoritas mengeksekusi haknya dalam rights issue untuk mendukung rencana penguatan bisnis, sehingga kinerja BRI Group akan tumbuh pesat pada 5 tahun ke depan dan berdampak positif pada pemegang saham.

“Kalau pemegang saham mengambil rights akan dapat peluang pertumbuhan tinggi, revenue naik, income naik. Kami juga janjikan dividend payout ratio tidak kurang dari 50% setiap tahun, itu sudah kami simulasikan. Jadi, pilih potensi dilusi kepemilikan saham 18,86% (jika tidak mengambil rights) atau potensi pertumbuhan revenue 14% (kredit), menurut saya, keputusannya ambil (haknya),” tambah Sunarso.

Tahun 2018 saja, lanjut dia, setidaknya ada 45 juta nasabah UMi yang membutuhkan layanan pendanaan tambahan, namun baru 15 juta saja yang sudah dapat dilayani oleh lembaga keuangan formal.

“Sedangkan 12 juta lainnya dilayani oleh rentenir dan keluarga/ kerabat (layanan keuangan informal). Sisanya 18 juta belum mendapatkan akses pendanaan sama sekali,” ujar Sunarso.

Sementara itu, dari 15 juta UMi yang sudah dilayani lembaga keuangan formal, sebanyak 3 juta dilayani oleh bank yang sebagian besar dari BRI, 3 juta dilayani lembaga gadai yang sebagian besar dari Pegadaian, serta 6 juta dilayani pinjaman kelompok di antaranya dari PNM, 1,5 juta dilayani bank perkreditan rakyat (BPR), dan 1,5 juta dilayani oleh layanan financial technology (fintech).

Selanjutnya, dari 12 juta UMi yang dilayani oleh rentenir dan keluarga/kerabat, sebanyak 5 juta meminjam uang ke rentenir. Sisanya 7 juta mendapatkan pinjaman pendanaan dari keluarga/ kerabat.

Integrasikan Ekosistem

Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM
Kekuatan jaringan BRI, Pegadaian dan PNM

Sunarso mengatakan, pembentukan holding BUMN UMi yang mengintegrasikan ekosistem usaha milik BRI, Pegadaian, dan PNM juga bukan sekadar aksi korporasi biasa.

Langkah ini juga diproyeksikan bakal memberi banyak manfaat untuk masyarakat pelaku usaha.

“Sinergi ini antara BRI yang merupakan pemimpin pasar (market leader) di industri perbankan yang melayani segmen UMKM, Pegadaian yang merupakan market leader di industri pergadaian, dan PNM yang merupakan market leader di pembiayaan kelompok, dengan fokus pemberdayaan usaha kelompok wanita prasejahtera. Sinergi tersebut untuk menciptakan journey yang terintegrasi bagi usaha segmen ultra mikro,” tuturnya.

PNM akan melakukan pemberdayaan (empower) usaha kelompok masyarakat prasejahtera agar dapat menjadi wirausaha yang lebih mandiri. Seiring dengan perkembangan usahanya, kebutuhan pendanaan tambahan dapat dilayani (integrate) BRI seperti lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dan Pegadaian untuk produk gadai. Kemudian, UMi tersebut dapat didorong untuk naik kelas (upgrade) ke segmen mikro dan dilayani oleh BRI melalui produk Kupedes.

“Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM akan membawa dampak positif kepada tiga aspek, yakni ekonomi, sosial, dan usaha keberlanjutan (sustainable). Pada aspek ekonomi, sinergi ketiganya akan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan usaha UMi,” papar Sunarso.

Pada aspek sosial, sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM akan meningkatkan kapabilitas usaha UMi melalui pemberdayaan usaha. Terakhir, pada aspek sustainable, sinergi tersebut akan berkontribusi terhadap peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.

Banyak Bank Lain Mundur

Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Mirza Adityaswara mengatakan, banyak bank lain ingin masuk ke segmen mikro karena tergiur dengan suku bunga kredit yang tinggi, namun berujung pada kegagalan akibat beban biaya yang juga tinggi.

Ia menegaskan, untuk masuk ke segmen mikro, bukanlah hal yang mudah. “Banyak bank ingin masuk mikro (kreditnya Rp 10 juta ke bawah), mencoba 2-3 tahun tapi mundur, karena untuk sampai ke pelosok-pelosok itu perlu orang (pegawai) yang banyak. Artinya, cost jadi besar, banyak yang kemudian mundur. Ini berawal dari lending rate yang tinggi, orang-orang melihat bisa dapat net interest margin (NIM) tinggi, tapi belum tentu cost bisa rendah,” ujar Mirza.

Pada akhirnya, NIM yang tinggi akan termakan oleh cost yang juga tinggi. Inilah yang menyebabkan rugi dan membuat bank-bank lain mundur.

“Sampai sekarang, bisa dibilang BRI rajanya, ada yang berani masuk tapi size tidak bisa besar. Apalagi NIM di mikro ini sudah menurun dengan adanya KUR,” ucap dia.

Dengan adanya KUR yang bunganya rendah karena disubsidi pemerintah, bank-bank lain menjadi menurunkan porsinya pada segmen mikro dan bahkan ada yang tidak berani masuk. Akibatnya, BRI menjadi pemain yang makin dominan di segmen mikro dan bisa menentukan pricing sebagai pemain besar di segmen tersebut.

Mirza juga melihat lending rate PNM masih cukup mahal, oleh karena itu, adanya holding diharapkan bisa menekan cost PNM dengan BRI bisa berbagi teknologi. Selain itu, ada sinergi lebih besar.

“PNM terus terang saya lihat cost masih terlalu tinggi, walau NIM tinggi, tapi cost juga tinggi, makanya ROA dan ROE rendah. Dengan adanya BRI bisa membantu teknologi, efisiensi terkait biaya, dan kemudian sinergi produk,” kata dia.

Terus Naik Kelas

Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Mirza Adityaswara, Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Mirza menjelaskan, PNM memiliki produk Mekaar dengan nasabah ibu-ibu yang mendapatkan pinjaman Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Setelah terbentuk holding, nasabah Mekaar PNM tersebut bisa naik kelas ke Pegadaian dengan plafon pinjaman sekitar Rp 4 juta. Kemudian, bisa naik kelas lagi menjadi nasabah BRI mikro, nasabah UKM, hingga menjadi nasabah komersial BRI.

“Apalagi ada BRI Agro (anak usaha BRI yang akan menjadi bank digital, PT Bank BRI Agroniaga Tbk) untuk kelas BRI milenial, jadi ekosistem ini ada stor y. Nanti tugasnya benar mewujudkan sinergi itu terjadi, untuk mewujudkan cost efisiensi biaya,” tutur Mirza.

Dibantu Digitalisasi

Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Sunarso sependapat bahwa tidak mudah masuk ke segmen mikro. Ini terbukti dari banyak bank yang mencoba masuk, tapi kemudian mundur.

“Padahal, sejatinya masuk mikro itu sekali masuk jangan mundur, kita terus cari nasabah baru, ada yang jatuh itu biasa. Seharusnya mikro itu tidak dipakai istilah NPL (non-performing loan), tapi cost of credit, kita harus maju tidak boleh mundur,” tandas dia.

Kendala yang dihadapi di segmen mikro, lanjut dia, adalah beban biaya yang tinggi, meski disertai dengan yield yang juga tinggi.

Kendati demikian, Sunarso melihat potensi pasar mikro sangat besar, di mana sentuhan digital diperlukan untuk mengatasi kendala biaya tinggi tersebut.

Operational cost tinggi dan operational risk tinggi, apalagi kalau masih manual karena jaringan banyak dan orang (pegawai) banyak. Sentuhan digital itu mereduksi operational cost dan operational risk,” ujar Sunarso.

Terkait PNM, Sunarso menyebut 50% bisnisnya adalah create economy value dan 50% social value, karena model bisnisnya adalah group lending dari sekelompok ibu-ibu.

Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Di sini, PNM memberikan pemberdayaan kepada nasabah. Dalam hal ini, papar dia, BRI bertugas untuk mengurangi beban biaya tersebut, dan memperbesar benefit dengan cara memberdayakan masyarakat yang belum bankable. Pihaknya juga mendukung efisiensi, sehingga ekosistemnya bisa memastikan ada sumber pertumbuhan baru.

“Saya tidak mau BRI terus tumbuh, tapi main di korporasi, kami tumbuh tapi ke segmen bawah, kami lakukan go smaller, go shorter, go faster, go cheaper. Jadi, keberadaan ekosistem ini memastikan journey terencana dan terstruktur,” urai dia.

BRI akan mengembangkan digitalisasi ke depan, bukan hanya dalam proses bisnis, namun juga membuat bisnis model baru melalui bank digital.

Ia juga menyebut terdapat dua tantangan yang dihadapi perseroan saat ini. Pertama, biaya operasional yang cukup tinggi, kedua, risiko operasional yang juga meningkat. Menurut Sunarso, obatnya adalah melalui digitalisasi. Dengan akan mengemban tugas dari Kementerian BUMN untuk menjadi induk Holding BUMN Ultra Mikro, maka kedua tantangan dari biaya operasional dan risiko operasional juga harus dihadapi dengan digital.

“Kami digitalisasi proses bisnis, namun bisnis lama tidak ditinggalkan, kami perbaharui. Tapi, BRI nggak mau ketinggalan arisan masa depan lewat bank digital. Kita mau ikut arisan masa depan lewat BRI Agro,” tutur Sunarso.

Proses bisnis perlu didigitalkan supaya menurunkan biaya operasional. Selain itu, untuk membuat bisnis model baru, di mana kini ramai bermunculan bank digital baru dan meningkat peminatnya.

Business process kami digitalkan, kemudian orang ramairamai bikin bank digital, itu create new business model. Create value untuk membuat value perusahaan naik, BRI ditugaskan menjadi holding, maka dua arah digital itu kita kerjakan bersama,” tandas Sunarso.

Kredit Mikro Tumbuh 16%

Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Sunarso juga menyebut, nasabah mikro BRI saat ini sekitar 30-40 juta, dari total perkiraan nasabah bank pelat merah tersebut 100 juta. Sedang kan total nasabah Pegadaian sekitar 15 juta dan PNM 9,4 juta.

Di masa pandemi Covid-19 ketika permintaan kredit masih lemah, lanjut dia, tetap kredit BRI diarahkan untuk tumbuh, terutama di segmen mikro khususnya di sektor pangan.

“Kredit korporasi kontraksi 10%, kredit menengah kontraksi 2% sampai 7%, sedangkan konsumer hanya naik 2%. Namun, kredit mikro sampai Juni ini tumbuh 16%. Itu menggambarkan betapa besarnya potensi segmen paling bawah ini, sekarang yang tumbuh double digit adalah kredit mikro,” ujar Sunarso.

Perseroan, lanjut dia, melihat adanya peluang besar yang diwadahi ekosistem yang dibentuk Holding BUMN UMi, yang bekerja efisien dan dengan daya jangkau luas. Diharapkan, holding ultra mikro dapat menjangkau masyarakat yang belum terlayani dan selanjutnya bisa naik kelas.

Semenjak pandemi Covid-19, BRI mendapatkan tugas dari pemerintah untuk menyalurkan KUR supermikro dengan ticket size pinjaman sampai Rp 10 juta. Apabila merujuk plafon tersebut, maka jumlah nasabah ultra mikro di BRI pun sudah banyak, karena banyak yang mendapatkan plafon pinjaman di bawah Rp 10 juta.

“Kalau Pegadaian masuk semua, karena saya mantan dirutnya, jadi tahu rata-rata setiap orang itu dapat pinjaman Rp 4 juta di Pegadaian. Kalau di PNM bisa lebih kecil dari itu, jadi kami bertiga sudah menggeluti ultra mikro, dan kini daya jangkau debitur yang kami bina itu perlu ditingkatkan,” papar dia.

Sunarso sebelumnya mengungkapkan, pembentukan holding bakal berdampak kepada laporan keuangan konsolidasian BRI per 31 Maret 2021. Total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun, demikian pula total liabilitas BRI meningkat dari Rp 1.216 triliun menjadi Rp 1.289 triliun.

“Kemudian, laba bersih konsolidasian BRI meningkat dari Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun,” kata Sunarso.

Pada kuartal I-2021, kredit BRI sekitar Rp 914,19 triliun. Sedangkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp 1.049,32 triliun.

Prospek BRI Baik

Suria Dharma, Head of Research PT Samuel Sekuritas, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Suria Dharma, Head of Research PT Samuel Sekuritas, dalam acara Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Suria menjelaskan, dengan adanya holding ultra mikro, siner gi yang terbentuk antara PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Pegadaian dengan BRI akan bagus. Apalagi, PNM dan Pegadaian berkontribusi cukup signifikan terhadap BRI, mencapai 13-15% dari sisi laba bersih.

“Kalau tidak ada pandemi Covid-19, bisa lebih tinggi lagi,” kata dia.

Kemudian, dari sisi jumlah nasabah, Suria melihat ada po tensi penambahan nasabah mikro yang signifikan dengan terbentuknya holding.

“Pasalnya, BRI memiliki 30 juta nasabah mikro, Pegadaian sekitar 17 juta, dan PNM 9 juta, sehingga makin mempermudah penyaluran pinjaman mikro. Selama ini, Pegadaian dan PNM belum sehebat BRI dalam menyalurkan pinjaman, karena terbentur dengan dana pihak ketiga (DPK), sehingga adanya holding, maka akan sangat menguntungkan ketiga pihak,” tutur dia.

Apalagi, bank lain belum banyak yang masuk ke segmen ultra mikro. Padahal bisnis pinjaman ultra mikro ini memiliki return yang bagus dan jangka waktu yang relatif pendek. Karenanya, apabila bisa dikelola dengan baik, bisa berkontribusi besar kepada peningkatan kinerja BRI.

BRI juga sudah memiliki PT Bank BRI Agroniaga Tbk (AGRO) yang dikembangkan menjadi bank digital. Dengan masuknya Pegadaian dan PNM, BRI bisa memaksimalkan ekosistem dalam pengembangan bank digital itu. Namun, BRI juga memiliki tantangan karena tidak semua nasabah dari kalangan bawah akrab dengan telepon pintar.

Selain pengembangan digital, BRI juga bisa memanfaatkan kelebihan lain dalam menyalurkan kredit bernominal kecil tersebut. Menurut Suria, BRI termasuk salah satu bank yang cukup berhasil dalam menyalurkan KUR dalam plafon kecil. Hal ini bisa menjadi kelebihan, karena bank lain belum bisa menyalurkan KUR dengan plafon kecil.

Dari sisi sentimen pasar, dia menilai, nilai rights issue yang dilakukan BRI dalam pembentukan holding cukup besar. Nilai pengambilalihan PNM dan Pegadaian dari pemerintah ke BRI sekitar Rp 54,77 triliun atau mencerminkan 1,75 kali price to book value (PBV).

Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Potensi Holding BUMN Ultra Mikro, live di BeritasatuTV, Kamis (29/7/2021). Sumber: BSTV

Sementara itu, dana tunai yang diharapkan dapat diraih dari rights issue BRI sebesar Rp 41,15 triliun, dari pemegang saham minoritas. Rights issue BRI ini bersaing dengan aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham oleh banyak big tech, plus ada pula rights issue lain dengan nilai cukup besar._

“Saya menilai prospek saham BRI masih sangat baik dengan adanya rights issue ini, melihat kondisi PNM dan Pegadaian sudah berkontribusi 14% terhadap laba bersih BRI. Apabila ketiga pihak sudah bisa mengonsolidasikan pendanaan, maka biaya dana (cost of fund) bisa ditekan sehingga margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bisa meningkat. Tentunya, laba bersih PNM dan Pegadaian juga bisa berkontribusi lebih besar kepada BRI,” kata dia.

Dia juga mengungkapkan, BRI termasuk bank yang bagus dengan kinerja yang sangat solid. Tekanan terhadap BRI memang ada dalam jangka pendek, namun setelah tekanan mereda, justru kinerja saham bisa lebih baik.

“Dengan adanya tekanan ini, kami melihat valuasi BRI justru lebih menarik dari ratarata historis jangka menengah,” paparnya. (pd/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN