Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo.

Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo.

Holding Ultra Mikro Targetkan 30 Juta Nasabah Baru

Kamis, 18 Maret 2021 | 13:53 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian BUMN menargetkan holding ultra mikro (UMi) bisa melayani 30 juta nasabah baru hingga tahun 2024. Sinergi tiga BUMN itu juga diyakini bisa memberikan keuntungan lebih bagi perusahaan, nasabah, hingga pegawai di masa mendatang melalui efisiensi biaya dana (cost of fund/CoF) dan biaya lainnya.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan, saat ini terdapat 60 juta nasabah UMi di Indonesia. Hanya separuh dari jumlah itu yang telah mendapatkan akses pembiayaan dari jasa keuangan formal. Integrasi bisnis antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) adalah solusi menjawab fenomena tersebut.

"Oleh karena itu, kedepan untuk bisa memberdayakan dan memberikan akses keuangan yang formal dengan biaya murah, kami meyakini bahwa integrasi tiga entitas usaha ini bisa memberikan layanan usaha yang lebih lengkap, terintegrasi, dan luas. Sehingga targetnya dalam empat tahun ke depan (2024) kita bisa meng-on-board sekitar 30 juta nasabah baru di tiga entitas bisnis ini secara terintegrasi," papar pria yang disapa Tiko itu, saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (18/3).

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo

Dia menegaskan, masing-masing entitas akan tetap mempertahankan model bisnisnya. BRI misalnya, akan tetap fokus pada penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Lalu Pegadaian masih fokus di menjual produk pembiayaan gadai. Sedangkan PNM tetap fokus melakukan pemberdayaan pada produk Mekaar. Sinergi ketiga entitas tersebut dalam satu ekosistem mampu menjangkau masyarakat luas dengan jaringan yang terintegrasi.

Tiko menyatakan, saat ini pihaknya telah melakukan piloting dalam bentuk co-location. Dalam hal ini, cabang-cabang BRI nantinya dilengkapi dengan loket Pegadaian agar masyarakat turut memiliki opsi untuk menggadaikan barangnya. Cabang BRI juga akan difungsikan sebagai pos bagi account officer (AO) dari produk Mekaar PNM, guna menjangkau nasabah Ibu-ibu dengan konsep social lending.

Efisiensi
Di sisi lain, Tiko pun menyinggung manfaat kehadiran holding terhadap efisiensi. Dari sejumlah simulasi yang dilakukan, pihaknya meyakini biaya dana (cost of fund/CoF) dari Pegadaian dan PNM akan turun dengan cepat.

Dia memaparkan, saat ini CoF BRI tercatat di kisaran 2,3%. Sementara pembiayaan PNM dan Pegadaian masih bergantung pada pasar modal, sehingga biaya dana relatif masih tinggi. Biaya dana Pegadaian disebut pada kisaran 6-7%, sedangkan biaya dana dari PNM mencapai 9-10%.

"Tentunya dengan nantinya pembiayaan sebagian besar didukung dari funding daripada dana pihak ketiga (DPK) dari BRI,  tentunya cost of fund dari Pegadaian dan PNM akan turun signifikan. Ini juga akan diikuti pembiayaan kepada nasabah PNM dan Pegadaian dengan bunga yang lebih rendah," tutur Tiko.

Dia pun menerangkan, holding juga bakal memberikan dampak efisiensi jaringan. Sebagai ilustrasi, Pegadaian nantinya tidak lagi perlu melakukan ekspansi seperti menyewa atau membuka kantor baru. Pegadaian tinggal menempel pada unit-unit BRI di desa.

Semementara pada konteks penetrasi produk Mekaar PNM, sekitar 40 ribu AO turut dilengkapi perangkat digital yang ikut terkoneksi dengan unit desa BRI maupun agen BRI. Hal itu dinilai mampu meningkatkan efisiensi rasio jangkauan AO melalui digitalisasi serta interkoneksi cabang dan agen BRI.

"Ini tentunya akan berkontribusi pada efisiensi biaya overhead, karena saat ini biaya overhead di PNM misalnya masih sangat tinggi. Dalam tiga tahun kedepan ini akan perlahan-lahan menurun signifikan dengan integrasi ini," jeas Tiko.

Menambah Manfaat Karyawan
Di samping itu, Tiko juga menyoroti implikasi pembentukan holding pada setiap pegawai entitas. Pihaknya menyadari banyak masukan dari PNM dan Pegadaian terkait kekhawatiran masing-masing pegawai perusahaan.

"Kami meyakini bahwa tidak ada pengaruh terhadap kepegawaian, tidak ada pengurangan pegawai, tidak ada pengurangan benefit, semua berjalan seperti adanya," tegas dia.

Tiko bahkan meyakini, dengan efisiensi yang direalisasikan lewat menekan biaya dana dan lain sebagainya, benefit dari para pegawai PNM dan Pegadaian malah akan bertambah seiring waktu. Sebab, Kementerian BUMN memproyeksi laba PNM dan Pegadaian akan tumbuh baik di masa mendatang.

"Tentunya ada sebagian biaya yang dikurangi, itu akan menaikkan laba, itu bisa diteruskan kepada penambahan benefit karyawan. Ini juga yang akan terus kami komunikasikan, mohon maaf kalau diawal ini masih ada keraguan dari para pegawai. Kami akan terus komunikasikan bahwa holding ini bukan hanya meraih benefit bisnis, tapi juga membawa benefit kepada karyawan ke depan," tandas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN