Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt. ( Foto: thedailystar.net )

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt. ( Foto: thedailystar.net )

HSBC Indonesia Economics Forum Bahas Peluang Indonesia Tangkap PMA Pasca Covid

Kamis, 8 Oktober 2020 | 11:26 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 telah mendorong ekonomi global berkontraksi, termasuk di Indonesia. Bahkan hampir semua jaringan dan pengiriman perdagangan terhenti. Para penyedia logistik pun sedang bergulat dengan pemulihan pasokan yang melambat, gangguan permintaan, dan gelombang infeksi sekunder.

Tidak mengherankan jika perusahaan-perusahaan global saat ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk menyimpan surplus barang. Para produsen juga diprediksi mulai mengalihkan beberapa produksi ke negara yang lebih dekat.

Menurut Francois, terganggunya rantai pasokan dan perdagangan global bakal berdampak pada prospek investasi di banyak negara. Hal ini akan mendorong perusahaan multinasional mencari solusi untuk membangun ketahanan baru dengan merelokasi atau melakukan diversifikasi ke Asia Tenggara.

“Saya kira ini akan menjadi relokasi permanen, karena akan banyak upaya dan tantangan dalam membangun basis produksi baru atau memindahkan rantai pasokan seperti di sektor otomotif. Artinya, ada peluang besar untuk investasi baru di Indonesia sebagai basis produksi berikutnya di kawasan Asean,” ujar dia saat membuka webinar HSBC Indonesia Economics Forum, pada Rabu (7/10), seperti dikutip dari siaran pers. 

Francois menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar dan pasar yang luas. Bahkan, Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara investasi terbaik ke-4 setelah Kroasia, Thailand, dan Inggris. Di samping itu, Indonesia berada di peringkat pertama dalam investasi manufaktur ritel.

Menurut Francois, pandemi telah memaksa mereka yang lebih konservatif dalam mengadopsi teknologi digital menjadi lebih terbuka untuk beradaptasi dengan model operasional baru. Studi terakhir “HSBC Navigator: Building Back Better” menunjukkan hampir dua pertiga (64%) bisnis di Indonesia setuju bahwa masa-masa sulit ini membuat aktivitas bisnis lebih memanfaatkan teknologi guna meningkatkan cara mereka bekerja.

“Ini adalah proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan semua pasar (44%). Keduanya memberikan kesempatan bagi kami untuk memainkan peran kami dalam mempromosikan dan menarik FDI (foreign direct investment) atau penanaman modal asing (PMA) langsung ke Indonesia. Antara lain melalui economic outlook event seperti yang kami selenggarakan,” katanya.

Pemulihan Arus Investasi

Pentingnya Indonesia membuka iklim investasi untuk kembali menarik Investasi Asing turut diungkap oleh Kepala Ekonom HSBC untuk Asean Joseph Incalcaterra.

Menurut Joseph, kisah pertumbuhan Indonesia cukup kuat memasuki 2020. Ada ekspektasi yang sangat tinggi di putaran berikutnya untuk prioritas proyek infrastruktur dari pemerintah terutama proyek pemurnian, proyek di sektor pertambangan hingga akhirnya pembangunan ibu kota baru. Namun seperti yang terjadi di belahan dunia manapun, hal ini tertunda. Kisah pertumbuhan ini pun terputus dengan investasi dan konsumsi yang bergerak ke wilayah kontraksi pada Kuartal III.

“Kabar baiknya adalah jika melihat anggaran 2021 di mana pemerintah telah mengalokasikan sekitar 20% untuk infrastruktur, sebagai prioritas. Banyak dari proyek-proyek ini yang telah siap diluncurkan selama beberapa waktu. Artinya, hal ini mungkin dapat menjadi peningkatan investasi yang relatif cepat dan akan membantu mendorong permintaan domestik serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tutur dia.

Joseph menambahkan bahwa beberapa krisis ekonomi yang lalu telah mengajarkan bahwa korporasi akan membutuhkan waktu untuk mulai berinvestasi lagi. Mereka lebih mencermati risiko. “Jadi untuk membuat keputusan investasi besar, mereka perlu melihat dengan sangat jelas, reformasi dan lintasan politik untuk menyambut investasi ini,” pungkas Joseph.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN