Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

IKD Tanda Tangan Elektronik Bisa Tekan Fraud

Rabu, 21 Juli 2021 | 19:59 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Inovasi keuangan digital (IKD) telah menjadi bagian penting dari ekosistem digital, termasuk bagi jasa keuangan yang memacu layanan agar lebih cepat dan mudah. Salah satu IKD seperti tanda tangan elektronik, diyakini bisa menekan tindak kecurangan (fraud) ketika transaksi di jasa keuangan kian masif terjadi.

Direktur PT Techpac Indo Informatika (Adobe Exclusive Distribution) Thomas Lo menyampaikan, ada tiga unsur utama yang harus dipenuhi penyelenggara tanda tangan elektronik di era digital seperti saat ini. Ketiga unsur tersebut adalah memastikan identitas pengguna, penyelenggara memiliki integritas, dan bisa memastikan pengguna menggunakan layanan dalam keadaan sadar.

Oleh karena itu, sambung dia, penyelenggara tanda tangan elektronik mesti menjamin proses bisnis yang dijalankan terintegrasi dengan berbagai sistem yang sudah ada. Hal itu juga yang membuat pengguna bisa lebih efisien untuk melakukan monitor karena ada laporan secara digital.

"Kemudian, perlu bagi penyelenggara meningkatkan sistem otomasi untuk menjamin proses penandatanganan dari delay. Selanjutnya adalah mengenai pengalaman dari pengguna untuk merasakan kecepatan layanan. Sehingga bekerja dapat dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Beberapa hal itulah yang diharapkan dari tanda tangan digital bisa memberikan kenyamanan sekaligus keamanan bagi penggunanya," kata Thomas pada webinar Fintech Talk, Rabu (21/7).

Sementara itu, Vice President of Product Management PT Indonesia Digital Identity (VIDA) Ahmad Taufik menerangkan, tanda tangan elektronik yang dimaksud adalah tanda tangan tersertifikasi. Hal tersebut yang menjadi pembeda karena tanda tangan tersertifikasi telah melalui persyaratan operasional yang diatur dengan detail dan ketat untuk meyakinkan penyelenggara, termasuk juga bagi para pengguna. Proses-proses operasional itu dijalankan dengan aman secara end-to-end.

"Cara itu dilakukan untuk memastikan keamanan informasi. Itu yang bisa kami bawa di VIDA untuk memastikan bahwa tanda tangan elektronik tersertifikasi ini sangat aman, bisa mengurangi fraud di industri. Ketika fungsi tersebut ada, sistem bisa mengakomodir jumlah transaksi yang besar," beber Taufik.

Dia mengungkapkan, tanda tangan elektronik merupakan teknologi yang sudah lama, minat penggunaan yang tinggi juga karena didorong sentimen pandemi. Meski begitu, VIDA sebagai penyelenggara IKD yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga masih menemui sejumlah tantangan.

Misalnya tantangan menjelaskan tanda tangan elektronik. Karena banyak referensinya adalah tanda tangan basah yang mesti terlihat. Kami melihat stakeholder turut melakukan sosialisasi. Kemudian tantangan mengenai legalitas tanda tangan elektronik. Kami di VIDA mencoba untuk meyakinkan bahwa seluruh proses penting seperti audit dan sertifikasi. Karena itu yang menjadi bukti nyata bahwa tanda tangan elektronik ini bisa dipercaya," jelas dia.

Lebih lanjut, Taufik mengatakan, tantangan lain dari penyelenggara tanda tangan elektronik adalah kekhawatiran dan para end user. Menurut dia, para pengguna fintech lending atau bank digital yang mesti memanfaatkan layanan tanda tangan elektronik memiliki kekhawatiran harus melakukan registrasi ulang. Dengan kata lain, para pengguna mesti meninggalkan platform fintech atau bank digital untuk melakukan registrasi.

"Ini hal yang kami coba desain, karena modul VIDA ini bisa tidak keluar dari platform fintech lending. Sehingga proses tanda tangan elektronik bisa dilakukan secara seamless masih pada platform tersebut, begitu juga proses otentifikasi dan verifikasi. Tanda tangan elektronik itu bisa digunakan dengan mudah dan nyaman," ungkap dia.

Dia juga menerangkan, tanda tangan elektronik bisa saja tidak memiliki visual (seperti tanda tangan basah) karena verifikasi dilakukan secara elektronik untuk mengurai data enkripsi. Di samping itu, tidak ada aturan yang mewajibkan penyelenggara harus menampilkan visual dari tanda tangan. "Dari sisi kenyamanan pengguna, mungkin perlu visual berupa tanda tangan atau QR. Sehingga ada beberapa implementasi yang memanfaatkan QR untuk pengenalan dokumen," imbuh dia.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN