Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. (Investor Daily/Nida Sahara)

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. (Investor Daily/Nida Sahara)

Indef: Ada Potensi Kredit Baru di Sektor Pariwisata

Rabu, 25 November 2020 | 13:53 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan terdapat peluang pemberian kredit baru di sektor pariwisata.

Menurut dia, dengan masa transisi atau dibukanya pembatasan sosial di suatu daerah membuat masyarakat mulai melakukan piknik kembali yang membangkitkan sektor pariwisata dan turunannya.

Hal tersebut akan menjadi angin segar bagi industri perbankan dalam menyalurkan kredit barunya, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Demikian disampaikan Aviliani dalam acara Economic Outlook 2021: Geliat Industri Perbankan 2021, yang terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

"Ada potensi kredit baru di sektor pariwisata, begitu ada pelonggaran PSBB (pembatasan sosial berskala besar), tempat-tempat wisata bisa ramai, itu juga bisa menghidupi 10 sektor di bawahnya," papar Aviliani, Rabu (25/11/2020).

Menurut dia, pemerintah juga telah menganggarkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2021 untuk memulihkan pariwisata sebesar Rp 14,4 triliun, tapi hanya untuk 10 destinasi. Padahal, potensi di daerah lain juga cukup baik dan dapat menimbulkan multiplier effect kepada sektor turunan pariwisata.

"Harusnya dilombakan saja, (daerah) siapa yang bisa meningkatkan destinasinya nanti diberikan dana hibah, ini akan terangkat semuanya," ungkap Aviliani.

Di samping itu, pada 2021 diharapkan pemerintah tidak memotong anggaran untuk bantuan sosial dari tahun ini Rp 200 triliun menjadi Rp 100 triliun. Sebab, dengan adanya bantuan langsung tunai tersebut, masyarakat akan mulai konsumsi yang tentunya akan ikut menggerakkan demand kredit dari sektor riil.

Aviliani juga mengatakan, sebesar 60% kontribusi pertumbuhan ekonomi berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, mayoritas pelaku UMKM di sektor perdagangan, Aviliani menyebut, lebih baik insentif diberikan kepada UMKM yang bisa bermitra supaya efek supply chain berkembang.

"Mumpung pandemi, momen supply chain harus ditingkatkan. Supply chain bisa dikembangkan dengan beri insentif baik kepada perusahaan yang bermitra dengan UMKM atau kepada UMKM yang bermitra dengan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah," papar Aviliani.

Dia memprediksi, pertumbuhan kredit industri perbankan pada 2021 sekitar 3% hingga 3,5% secara tahunan (year on year/yoy). Tahun depan, pihaknya juga masih melihat ada potensi bagus untuk menggarap sektor pertanian dan perkebunan, serta sektor makanan dan minuman yang juga mulai meningkat karena kelonggaran PSBB.

"Untuk kredit kami prediksi 3-3,5% tahun depan itu sudah bagus. Dari Rp 5.000 triliun kredit, kalau 3% saja sudah cukup besar," kata dia.

Pada tahun depan, pemerintah juga disebut masih memiliki proyek infrastruktur mencapai Rp 400 triliun. Menurut Aviliani, perbankan bisa masuk untuk membiayai proyek tersebut dengan jaminan langsung dari pemerintah. Sebab, apabila menggunakan penjaminan dari perusahaan lain akan memakan waktu lama, sedangkan, dibutuhkan percepatan untuk mendukung pemulihan ekonomi.

"Kalau infrastruktur Rp 400 triliun ini dikeluarkan pemerintah dan dijamin pemerintah, ada percepatan luar biasa, bank juga akan cepat menyalurkannya. Kalau tidak, jadinya lambat," ucap dia.

 

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN