Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonomi Aviliani dalam diskusi Best Bank 2020 Majalah Investor, live di Berita Satu TV, Selasa (25/8/2020). Sumber: BSTV

Ekonomi Aviliani dalam diskusi Best Bank 2020 Majalah Investor, live di Berita Satu TV, Selasa (25/8/2020). Sumber: BSTV

Indef: Industri Asuransi Perlu Konsolidasi Ciptakan Pasar

Minggu, 11 Oktober 2020 | 15:27 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri asuransi dinilai memiliki banyak potensi untuk dapat tumbuh dan berkembang seiring berbagai perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Guna menangkap potensi itu, industri asuransi perlu menciptakan pasar dengan pendekatan konsolidasi di berbagai ekosistem.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, struktur transaksi di jasa keuangan diperkirakan bergeser di 2030. Porsi transaksi saat ini sebesar 78% di perbankan akan bergeser menjadi 55%. Sisanya 45% transaksi pada tahun 2030 disumbangkan dari sektor industri jasa keuangan non bank (IKNB) dan turunannya, termasuk industri asuransi.

Pergeseran itu, kata dia, kini dapat diperhatikan dari banyaknya jasa keuangan yang kini membentuk ekosistem. Oleh karena itu, industri asuransi perlu lebih cekatan menangkap peluang dengan membentuk struktur, baik dilakukan antara perusahaan atau kolaborasi dengan ekosistem lain.

"Perusahaan asuransi dan industri lain itu perlu melakukan konsolidasi, karena saat ini pasar tidak bisa diciptakan dengan cara dipaksakan. Contohnya kredit yang sedang tidak ada demand, kalau tidak ada demand sulit untuk ekspansi. Problemnya orang itu mendapatkan uang di bank untuk mereka bisa bertahan hidup, " kata Aviliani pada suatu diskusi virtual, akhir pekan ini.

Dia memberikan, sebetulnya banyak yang berpotensi dilakukan bagi perusahaan asuransi untuk bisa penetrasi pasar. Di antaranya terkait tenaga kerja di Indonesia, utamanya adalah tenaga kerja informal. Segmen itu kurang mendapat perhatian padahal seiring berjalannya waktu jumlahnya terus bertambah.

Apalagi para pekerja informal itu, sambung Aviliani, relatif mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pekerja formal. Segmen tersebut bahkan mampu menghapus sistem pangkat dengan mengandalkan spesialisasi kompetensi individu. Dalam hal ini, perusahaan asuransi perlu menyesuaikan atau bahkan meramu produk khusus segmen tersebut.

Aviliani mengatakan, seiring dengan pendapatan yang mulai meningkat, perusahaan asuransi juga bisa masuk pada segmen masyarakat kini gemar berinvestasi. Terlebih dengan produk yang sesuai dan lebih murah, segmen masyarakat muda bisa menjadi sasaran yang menarik untuk digarap lebih lanjut.

Dia mengemukakan, 20% penduduk Indonesia memiliki pendapatan menengah ke atas. Segmen itu secara penuh merupakan target utama perusahaan asuransi komersial. Segmen tersebut menilai bahwa manfaat BPJS masih relatif kecil dan perlu membagi risiko lainnya pada asuransi komersial.

"Jadi pertumbuhan asuransi yang masih segitu-segitu saja karena banyak sektor atau segmen masyarakat yang belum dilirik," kata Aviliani.

Mengacu pada data yang dihimpun Dewan Asuransi Indonesia (DAI), pendapatan premi industri asuransi jiwa turun 2,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 88,02 triliun pada semester I-2020. Pada saat yang sama, premi asuransi umum tercatat sebesar Rp 37,60 triliun atau terkoreksi 6,1% (yoy).

Sedangkan asuransi syariah turun tipis 0,1% (yoy) menjadi sebesar Rp 7,59 triliun. Penurunan kinerja itu merupakan dampak dari melambatnya pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Aviliani menambahkan, potensi lain bagi industri asuransi turut dihadirkan dari jasa keuangan fintech p2p lending. Risiko pembiayaan terhadap UMKM yang dijalankan industri itu layak digarap serius. Sektor asuransi pada industri itu masih relatif rendah jika ditinjau dari perkembangan fintech p2p lending beberapa tahun belakangan.

Potensi juga terbuka bagi perusahaan asuransi seperti yang dibahas pada RUU Cipta Kerja mengenai supply chain antar perusahaan besar dan UMKM. Adapun pembiayaan dengan skema supply chain tersebut ikut serta digunakan sejumlah pemain fintech p2p lending.

Di sisi lain, dia mengaku, krisis global 10 tahunan tidak lagi dialami sejak terakhir kali terjadi pada 2008. Periode untuk terjadinya krisis kini bisa lebih singkat dan memungkinkan risiko semakin besar.

"Krisis itu tidak lagi terjadi setiap 10 tahun sekali bisa sampai dua atau satu tahun sekali. Cara mengalihkan risiko itu memang salah satunya asuransi, tinggal bagaimana perusahaan asuransi mengembangkan produknya," tandas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN