Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
kredivo

kredivo

Indonesia Peringkat 5 Dunia Startup Terbanyak

Rabu, 4 November 2020 | 20:19 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Di era ekonomi digital saat ini, Indonesia menempati urutan kelima dengan jumlah perusahaan rintisan (startup) terbanyak di dunia, yakni mencapai 2.203 startup. Menjamurnya jumlah startup di Tanah Air juga didukung adanya pandemi Covid-19.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, maraknya kelahiran perusahaan rintisan di Indonesia juga disebabkan karena banyaknya generasi milenial yang mulai menciptakan usaha baru.

"Mereka ini menggunakan kesempatan dari booming ekonomi digital untuk membentuk startup. Indonesia sekarang masuk urutan kelima di dunia dengan jumlah startup paling banyak, sekarang ada 2.203, tahun lalu itu sekitar 1.500-1.800, dan karena pandemi jadi makin melonjak juga," terang Bhima, dalam acara peluncuran Generasi Djempolan Kredivo secara daring, Rabu (4/11).

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara

Adapun, negara peringkat pertama adalah Amerika Serikat yang saat ini memiliki 65.779 startup, terbanyak di dunia. India menyusul di posisi kedua dengan jumlah 8.353 startup, Inggris menempati urutan ketiga dengan jumlah 5.387 startup, serta peringkat keempat ada Kanada dengan jumlah startup sebanyak 2.713.

Lebih lanjut, Bhima menjelaskan, dengan jumlah generasi milenial di Indonesia sebanyak 97 juta orang mendorong pertumbuhan startup di Indonesia. Selain itu, bonus demografi juga akan semakin menguntungkan Indonesia, yang sudah mulai terasa saat ini.

"Kalau sekarang bonus demografi baru terasa di Jawa ya, tapi kalau secara nasional nanti di tahun 2030, usia produktif akan mayoritas, ini peluang sekali seumur hidup, banyak yang berhasil mereka ciptakan seperti inovasi. Jadi ini adalah momentum now or never, ini kesempatan Indonesia," jelas Bhima.

Menurut dia, perusahaan rintisan perlu membaca apa yang sedang dicari orang lain atau generasi milenial saat ini atau disebut customer centric. Nantinya, startup akan memenuhi kebutuhan dari konsumen, melalui beragam produk atau fitur layanan.

"Yang menarik, milenial ini rajin order makanan secara online, dan pemesanan secara online ini meningkat 21% akibat milenial. Jadi milenial itu juga mendorong pola konsumsi nasional," tutur Bhima.

Bhima menegaskan, perilaku milenial juga telah menyebabkan anjloknya bisnis industri otomotif, khususnya untuk penjualan kendaraan pribadi yang mengalami penurunan secara drastis. Selain karena dampak pandemi Covid-19, penurunan penjualan juga akibat generasi milenial yang tidak membeli kendaraan pribadi.

"Ini menarik, menurut milenial otomotif tidak bagus, karena ngapain punya mobil? sekarang sudah ada transportasi online, kalau beli pasti bengkel mahal, biaya parkir, milenial menghancurkan pangsa pasar industri otomotif. Apalagi milenial juga lebih memilih tinggal di kost dibandingkan beli rumah," kata dia.

Dia mengharapkan, literasi keuangan untuk milenial semakin meningkat, sehingga dapat memanfaatkan ekonomi digital dengan baik.

Selain itu, ke depan diharapkan lebih banyak milenial yang membuat startup atau fintech untuk mendukung literasi dan inklusi keuangan Indonesia.

"Dengan adanya fintech, literasi keuangan dan inklusi keuangan kepada milenial semakin baik. Mereka bisa memanfaatkan booming ekonomi digital untuk meminjam kredit online di Kredivo, misalnya untuk beli laptop, dan laptopnya juga dipakai untuk membuat startup, jadi ke depan semakin banyak," papar Bhima.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dino Milano mengungkapkan, di saat perkembangan keuangan digital yang pesat saat ini, literasi dan inklusi keuangan sangat dibutuhkan. Pihaknya juga mengapresiasi Kredivo yang meluncurkan Generasi Djempolan yang diharapkan generasi milenial bergerak ke arah positif.

"Upaya Kredivo ini sama dengan Generasi Djempolan, salah satu inisiator yang memberikan ruang gerak positif. OJK dalam hal menangani inovator memiliki beberapa kriteria, paling utama tepat sasaran, apakah inovasi ini berguna atau tidak," ucap Dino.

Di tengah pandemi, penggunaan internet mengalami lonjakan, di mana saat ini terdapat 175 juta pengguna internet, atau meningkat  25 juta orang dari total 272 juta populasi di Indonesia.

Pihaknya juga menyebut, bagi milenial yang ingin membentuk startup atau fintech, OJK juga menekankan pentingnya memprioritaskan keamanan konsumen.

Dia melanjutkan, berdasarkan penelitian dari Toronto Center, saat ini, setiap hari ada 35.000 malware yang disebar oleh pelaku kejahatan siber. Sekitar 92% di antaranya dikirimkan melalui surat elektronik. OJK berinisiatif meningkatkan kemampuan literasi konsumen sekaligus meningkatkan kesadaran akan bahaya kejahatan siber.

"Security itu prioritas, kalau regulasi yang ketat itu akan menghambat pengembangan, tapi sebaliknya, kalau longgar juga bahaya. Ini yang OJK lakukan, kami masukan mereka dalam inkubator, ada pemain-pemain dalam hal security, AI, dan IT provider, perkembangan teknologi blockchain," kata dia.

OJK berperan aktif merajut ekosistem, sifatnya satu pihak dan pihak lain adalah saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Saat ini, OJK memiliki fintech center atau dikenal OJK Infinity yang mewadahi para startup atau fintech. "Ini juga membuktikan OJK bersungguh-sungguh dan berkeinginan membangun ekosistem fintech berkelanjutan," lanjut dia.

OJK juga menyelenggarakan regulatory sandbox, di sana startup atau fintech akan melakukan uji coba sebelum dianggap lulus, dan nantinya perlu berperan bersama untuk membuat rantai transaksi menjadi singkat dengan dukungan teknologi. "Ujung-ujungnya untuk melayani konsumen dengan harga kompetitif," pungkas Dino.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN