Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Industri Asuransi Harapkan 2021 Jadi Tahun Kebangkitan

Sabtu, 9 Januari 2021 | 04:31 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 tentu memukul berbagai sektor perekonomian, tak terkecuali sektor hilir seperti industri asuransi. Namun demikian, berbagai pihak berharap tahun 2021 menjadi kebangkitan industri tersebut setelah mendapat banyak pembelajaran di tahun-tahun sebelumnya.

Salah satunya disampaikan oleh Ketua Dewan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon. Dia mengatakan industri asuransi jiwa mampu melewati masa-masa krisis pandemi Covid-19 dengan baik berkat sejumlah relaksasi dari regulator.

"Adanya relaksasi membantu asuransi jiwa bisa melewati 2020 yang penuh tantangan dengan baik. Semoga industri jasa keuangan, khususnya asuransi jiwa mampu kembali bangkit pada tahun ini dan tahun-tahun ke depan," pada acara Silaturahmi Virtual Sektor Jasa Keuangan 2021, belum lama ini.

Sambutan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Adapun berdasarkan data OJK per November 2020, industri asuransi jiwa tercatat meraup pendapatan premi mencapai Rp 156,39 triliun, atau turun 7,92% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan klaim dan manfaat yang dibayarkan sebesar Rp 130,90 triliun atau turun tipis 0,59% (yoy).

Hal senada turut Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) HSM Widodo. Dia bilang, selain relaksasi yang berkontribusi besar terhadap keberlangsungan industri, kerjasama dan kolaborasi yang marak dijalin mampu meredam dampak yang lebih besar pada asuransi umum.

Oleh karena itu, kata dia, berbagai pendekatan positif yang telah dijalankan perlu terus dikembangkan sehingga mampu memberi dampak lebih baik.

"Semoga 2021 kualitas dan kuantitas kerja sama dapat terus meningkat sehingga bisa memberikan sumbangsih yang besar," imbuh Widodo.

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI
Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia/Ketua AAUI

Untuk industri asuransi umum, pendapatan premi sampai November 2020 tercatat sebesar Rp 64,40 triliun atau turun 9.95% (yoy). Sedangkan klaim bruto tercatat sebesar Rp 31,12 triliun, ikut turun tipis sebesar 0,93% (yoy).

Menanggapi harapan dari para pelaku usaha tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menerangkan, Kendati secara bisnis, industri asuransi terdampak Covid-19 tapi hal tersebut bukan menjadi permasalahan utama. Hal yang perlu ditekankan adalah semangat untuk bangkit dari krisis dan tumbuh dengan baik di masa mendatang.

"Tentunya tidak terkecuali asuransi jiwa pasti terdampak pandemi. Mudah-mudahan 2021 menjadi tahun kebangkitan. Transformasi proses bisnis dengan teknologi menjadi penting, dalam operasional, marketing, dan database, hal yang sama untuk asuransi umum," ujar dia.

Wimboh Santoso. Foto: IST
Wimboh Santoso. Foto: IST

Wimboh menambahkan, pihaknya mendorong semua pihak yang berkecimpung di industri asuransi bisa berpikir terbuka dengan pendekatan digitalisasi. OJK pun begitu, terus berupaya untuk menyiapkan infrastruktur teknologi sehingga penilaian dan pengawasan bisa dilakukan secara terintegrasi. Pihak regulator selalu membuka diri untuk memfasilitasi guna mendukung perkembangan industri.

Sebelumnya, OJK juga merilis kinerja industri asuransi hingga November 2020 yang telah menghimpun penambahan premi sebesar Rp 22,8 triliun. Rincinya, asuransi jiwa sebesar Rp 18,1 triliun, serta asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp 4,7 triliun.

Sedangkan dari aspek permodalan, tingkat solvabilitas (risk based capital/RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 540% dan 354%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%.

Anto Prabowo. Foto: IST
Anto Prabowo. Foto: IST

Menurut Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo, OJK terus meningkatkan pengawasan dan pelaksanaan kebijakan yang telah dikeluarkan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di tengah perlambatan perekonomian akibat dampak pandemi Covid-19.

"Sampai dengan data November 2020, stabilitas sistem keuangan masih dalam kondisi terjaga di tengah upaya OJK dalam mendukung kebijakan pemulihan ekonomi nasional yang terus dilakukan pemerintah," kata dia.

Di sisi lain, Anto menjelaskan, OJK telah memperpanjang kebijakan stimulus bagi sektor industri keuangan non bank (IKNB), termasuk industri asuransi. Dalam hal ini, regulator juga menambah, menyempurnakan, dan menyesuaikan substansi sejumlah ketentuan.

Salah satunya adalah penambahan substansi ketentuan berupa mekanisme teknis pelaksanaan pemasaran produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) bagi perusahaan asuransi dan perusahaan asuransi syariah, dapat dilakukan tanpa tatap muka atau dengan menggunakan sarana digital atau media elektronik.

Adapun dalam proses bisnis pemasaran PAYDI, perusahaan asuransi telah dapat menggunakan selain tanda tangan basah. Hal itu dapat digantikan dengan tanda tangan elektronik. Namun demikian, deretan relaksasi tersebut hanya berlaku selama jangka waktu darurat Covid-19.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN