Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri tak terganggu kasus Jiwasraya

Industri tak terganggu kasus Jiwasraya

Industri Asuransi Masih Kuat, Tak Terganggu Kasus Jiwasraya

Sabtu, 22 Februari 2020 | 15:30 WIB
Windarto

Jakarta-Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universtias Indonesia (UI) Fithra Faisal menyebut industri asuransi saat ini masih terbilang bagus dan kuat. Dilihat dari angka-angka pertumbuhan premi dan aset yang dikelola. Karena itu, ia menyebut kasus gagal yang menimpa Asuransi Jiwasraya tidaklah berdampak sistemik terhadap industri secara keseluruhan.

Menurutnya, total aset yang dimiliki Jiwasraya hanya 1,6% dari total aset keseluruhan industri asuransi, dan hanya 0,19% dari seluruh industri keuangan. “Artinya kecil sekali bila dibandingkan dengan performance dari industri keuangan dan asuransi,” tuturnya dalam acara Prudential Journalist Masterclass di Jakarta (21/2). Mengutip data 2018, aset keseluruhan asuransi sebesar Rp 1.200 triliun, sementara aset industri asuransi jiwa sebesar Rp 521 triliun.

Fithra menyebut, untuk mengukur kesehatan asuransi bisa dilihat dari tingkat solvabilitas (risk based capital), atau biasanya sebagai ukuran kemampuan asuransi dalam membayarkan seluruh kewajibannya. Berdasarkan data secara keseluruhan, RBC asuransi umum saat ini mencapai 345% dan asuransi jiwa 789%, padahal ketentuan regulator mensyaratkan sebesar 120%. Dengan kata lain, secara industri tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena kemampuan untuk membayarkan kewajibannya masih melebihi ketentuan minimal yang diharuskan. "Jiwasraya bisa kolaps karena RBC-nya minus 800%, dan butuh Rp 32 triliun untuk memenuhi standar 120%," terangnya.

Menutur Fithra, saat ini asuransi komersial hanya meng-cover 12% dari total penduduk Indonesia. “Seharusnya kalau mengikuti best practise di negara-negara lain, dengan meningkatnya middle class, diikuti pula dengan meningkatnya cover asuransi. Tapi ini tidak terjadi di Indonesia karena belum merupakan tren kita atau menjadi budaya,” paparnya.

Kendati demikian, dengan kondisi seperti itu, ada ruang yang cukup untuk industri asuransi bertumbuh lebih baik ke depan. Ada tiga hal yang menurut Fithra menjadi tantangan bagi pertumbuhan industri asuransi di Indonesia, yakni kondisi makro ekonomi, ketersediaan SDM yang handal, dan keterbatasan jaringan distribusi (untuk asuransi jiwa). Sementara untuk asuransi umum, selain, kondisi makro ekonomi, persaingan tarif, serta keterbatasan aturan dan hukum.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN