Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding Primus Dorimulu memandu webinar Outlook Asuransi 2021 di Jakarta (10/12). Narasumber (ki-ka atas) Irvan Rahardjo (pengamat asuransi), Yoga Prasetyo (Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life Indonesia). (ki-ka bawah) Ahmad Nasrullah (Kepala Deprtemen Pengawas Industri Keuangan Non Bank 2A, OJK), Fankar Umran (Direktur Utama BRI Insurance), Fauzi Arfan (Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI)

Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding Primus Dorimulu memandu webinar Outlook Asuransi 2021 di Jakarta (10/12). Narasumber (ki-ka atas) Irvan Rahardjo (pengamat asuransi), Yoga Prasetyo (Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life Indonesia). (ki-ka bawah) Ahmad Nasrullah (Kepala Deprtemen Pengawas Industri Keuangan Non Bank 2A, OJK), Fankar Umran (Direktur Utama BRI Insurance), Fauzi Arfan (Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI)

Industri Asuransi Rebound Tahun Depan

Kamis, 10 Desember 2020 | 21:51 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA - Industri asuransi diproyeksi akan rebound tahun depan. Syarat utamanya adalah kembali membangun kepercayaan (trust) dan terus mengedukasi para nasabah. Setidaknya, asuransi jiwa diperkirakan tumbuh 7-8% dan asuransi umum diprediksi tumbuh 3%.
Proyeksi tersebut terungkap pada Insurance Outlook 2021 bertema "Geliat Industri Asuransi Tahun 2021" yang disiarkan Beritasatu TV, Kamis (10/12/2020). Acara itu merupakan kerja sama Majalah Investor dengan OJK, BRI Insurance, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dan Allianz Life Indonesia.
Tampil sebagai pembicara adalah Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2A OJK Ahmad Nasrullah, Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI Fauzi Arfan, Direktur Utama BRI Insurance Fankar Umran, Pemimpin Unit Syariah Allianz Life Indonesia, dan pengamat asuransi Irvan Rahardjo.

Nasrullah mengatakan, asuransi jiwa terkontraksi cukup dalam dari sisi aset dan premi. Pasar modal yang sempat terguncang menjadi faktor utamanya. Hal itu menjadi wajar karena 60% premi disokong dari produk berbalut investasi, sedangkan sebagian besar portofolio aset investasi ditempatkan pada instrumen pasar modal.
Kendati begitu, kata dia, pihaknya optimistis kondisi itu bisa lekas pulih. Lagi pula, sejatinya kontraksi premi disebabkan oleh beberapa perusahaan asuransi jiwa dengan market share besar bermasalah. Sedangkan sejumlah perusahaan asuransi jiwa lainnya masih mampu membukukan pertumbuhan. Di samping itu, industri asuransi umum hanya berkontraksi pada sisi premi, tapi ada geliat untuk kembali tumbuh sampai akhir tahun ini.
"Kami optimistis bahwa industri akan rebound. Kita membangun optimisme, mari kita jadikan momentum di 2021 khususnya untuk membangun trust agar industri asuransi cepat recovery, bukan tidak mungkin kondisi berbalik tumbuh cepat," kata Nasrullah.
Dia mengingatkan, kepercayaan nasabah mesti kembali dibangun setelah beberapa waktu lalu banyak terjadi kasus gagal bayar polis.

Dalam hal ini OJK menyorot tiga fase dalam proses bisnis perusahaan asuransi. Pertama adalah ketika proses penjualan produk. Himbauan khususnya ditujukan pada AAJI dan AAUI serta para pelaku usaha agar cara penjualan dilakukan secara proper. Hal itu menjadi penting lantaran banyaknya pengaduan yang diterima OJK pada saat fase tersebut. Nasabah yang mengadu mengaku tidak dijelaskan secara detail ketika proses penjualan, hal itu kemudian dirasakan ketika mendapatkan manfaat yang tidak sesuai ekspektasi. "Perusahaan asuransi tetap bertanggung jawab atas perilaku agen. Sedangkan asosiasi bisa memonitor agen terkait kode etik," ujar dia.
Fase kedua adalah hal yang paling krusial, yakni pengelolaan. Menurut Nasrullah, produksi premi yang didominasi produk asuransi berbalut investasi memiliki risiko tersendiri pada saat dikelola. Bukti nyatanya adalah sejumlah asuransi pemasar produk investasi yang tidak bisa bayar klaim umumnya tidak menjaga tata kelola secara proper.
“Terjadi jor-joran jualan, penempatan yang tidak pas, ditambah situasi seperti ini, hasilnya tidak bisa memenuhi kewajiban kepada nasabah," ungkap Nasrullah.
Dia menerangkan, OJK menemukan bahwa profit yang dihimpun utamanya disokong dari hasil investasi bukan dari hasil underwriting. Hasil underwriting sejumlah perusahaan asuransi jiwa justru disubsidi dari hasil investasi.
"Pola investasi, kalau dilihat dari laporan keuangan itu ada subsidi. Artinya kalau hasil investasi gagal, maka selesai, paling kita kejar pemegang sahamnya," jelas dia.
Nasrullah mengakui, hal itu tidak terlepas dari kendornya pengawasan regulator. Maka dari itu tahun depan pihaknya akan membenahi aturan mengenai produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI), khususnya terkait kontrak investasi dan pemahaman calon nasabah asuransi. "Sebagai regulator kami bertanggung jawab untuk memastikan investasi yang dilakukan perusahaan asuransi itu tidak berisiko tinggi dan risikonya terukur," kata dia.
Lebih lanjut, Nasrullah menyatakan, fase ketiga adalah pembayaran klaim. Fase itu sangat penting karena sebagai pembuktian komitmen perusahaan asuransi. Bahkan kalau bisa pelayanan klaim lebih dipermudah.
Di sisi lain, Nasrullah juga sempat menyinggung Omnibus Law Sektor Jasa Keuangan yang diharapkan bisa mendorong kinerja industri asuransi. Ada masukan soal perpajakan, kepastian hukum, dan ruang lingkup usaha, serta terkait asuransi syariah.
 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN