Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CFO Koinworks, Mark Bruny dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV

CFO Koinworks, Mark Bruny dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV

Industri Fintech P2P Lending Optimistis Terus Bertumbuh

Jumat, 10 Juli 2020 | 15:29 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.idChief Financial Officer (CFO) Koinworks Mark Bruny mengungkapkan, permasalahan utama yang dihadapi fintech P2P lending saat ini adalah penghentian sementara penempatan dana dari para lender, khususnya akibat Covid-19.

“Tapi kami tidak berdiam diri dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas pembiayaan, sekaligus mencari berbagai potensi yang ada,” ujar dia, dalam Zooming With Primus bertajuk Prospek Bisnis Fintech di Indonesa yang ditayangkan secara live di Beritasatu TV, Kamis (9/7).

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holding (BSMH), Primus Dorimulu itu juga menghadirkan Deputi Direktur  Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan, dan Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko, serta Chief Executive Officer (CEO) & Founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra.

Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV

Menurut Mark Bruny, industri fintech P2P lending masih berpeluang besar untuk terus bertumbuh.  

“Karena industri fintech lending akan semakin kompetitif, kami harus terus meningkatkan kemampuan dalam melihat berbagai potensi, termasuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur dia.

Mark mengemukakan, Koinworks terbuka untuk menyalurkan pembiayaan kepada sektor apa pun. Saat ini, Koinworks sedang fokus menggarap sektor digital.

“Setiap sektor yang mampu bertahan menghadapi pandemi corona tentu layak mendapat perhatian untuk diberi pembiayaan,” kata Mark Bruny.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko menjelaskan, FDC merupakan infrastruktur yang mencakup data base dari seluruh anggota guna meningkatkan mitigasi risiko dari setiap pengajuan pembiayaan. FDC mampu menyeleksi para calon borrower nakal yang bermaksud melakukan kecurangan.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV
Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV

“FDC mengurangi risiko fraud. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik kepada para pengguna. Kita ingin mengeliminasi tingkat fraud dari para pengguna agar industri ini kuat dan sehat. Kami mencoba menghalau adanya dampak negatif pada industriini,” tegas dia.

Itu sebabnya, menurut Sunu, AFPI dan anggotanya berharap Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) segera rampung. Beleid ini sangat penting karena bisa menjadi alat bagi pihak berwenang untuk menindak tegas para pelaku fintech P2P lending ilegal. Saat ini, para oknum hanya bisa ditindak melalui UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) lewat delik aduan.

“Namun kami bersyukur pemerintah dan parlemen turut mendukung perkembangan fintech P2P lending melalui RUU PDP,” tutur dia.

Sunu Widyatmoko mengemukakan, kehadiran fintech P2P lending illegal membuat citra industri keuangan yang baru berusia tiga tahun itu terganggu. Itu pula yang membuat kepercayaan masyarakat sempat terdegradasi. “Fintech lending itu kan erat kaitannya dengan asumsi collection yang tidak manusiawi. Ini mesti kamijawab. Kami memastikan bahwa 158 anggota AFPI taat kode etik. Kalau mereka melanggar, konsekuensi yang paling parah adalah bisa dikeluarkan,” tandas dia.

Menurut Sunu, kunci utama bisnis fintech lending adalah kepercayaan. Sedangkan yang melakukan penagihan secara tidak manusiawi adalah fintech lending ilegal. “Kami juga mendorong pemberantasan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini,” tegas dia.

Berdasarkan data OJK, sejak 2018 sampai Juni 2020, Satgas Waspada Investasi telah menindak total fintech P2P lending ilegal sebanyak 2.591 entitas. Pada Juni 2020 saja, Satgas menemukan 105 fintech lending ilegal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN