Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Ilustrasi asuransi. Sumber: bumn.go.id

Insurance Day 2020, Adaptasi dan Inovasi di Tengah Pandemi

Minggu, 18 Oktober 2020 | 07:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

“Mungkin industri asuransi tidak sejelek yang digembar-gemborkan. Kita punya ratusan perusahaan asuransi yang bisnisnya mulia, menjaga keselamatan dan membantu masyarakat pada saat susah,” demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) HSM Widodo saat menjadi pembicara di Beritasatu TV, belum lama ini.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa tersebut menyimpulkan kondisi industri asuransi saat ini, terutama dengan sejumlah permasalahan yang terjadi di beberapa perusahaan asuransi jiwa.

Kasus gagal bayar polis di sejumlah asuransi jiwa mencuat karena masalah likuiditas dan solvabilitas, masalah tata kelola penerbitan dan pengelolaan produk, tata kelola investasi tidak sehat, dan fraud manajemen perusahaan. Bahkan, besarnya kasus-kasus tersebut menutup berbagai pencapaian dan kontribusi di industri asuransi jiwa. Padahal perusahaan asuransi yang bermasalah bisa dihitung dengan jari, sedangkan ada ratusan perusahaan asuransi lain masih menjalankan bisnisnya dengan baik.

Buktinya, sampai Agustus 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat asuransi jiwa telah membayarkan klaim dan manfaat mencapai Rp 92,97 triliun, dengan pendapatan premi Rp 109,60 triliun. Untuk asuransi umum mencatatkan klaim yang dibayar sebesar Rp 23,80 triliun, dengan premi yang dihimpun sebesar Rp 43,99 triliun.

Permasalahan itu pun mendorong dan membuka mata pemangku kepentingan untuk memberi perhatian lebih terhadap industri asuransi. Sedikit demi sedikit, aturan pro-bisnis diterbitkan dengan tetap memastikan perlindungan nasabah. Nampaknya mulai disadari bersama bahwa yang terjadi pada suatu perusahaan asuransi juga mampu memberikan dampak sistemik.

Widodo yang juga ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyampaikan, Covid-19 adalah penyakit yang tidak diduga dan berdampak signifikan di berbagai sisi kehidupan. Efeknya juga mempengaruhi kinerja industri asuransi. "Kita perlu melihat kenyataan bahwa apa yang terjadi di masa depan itu mendorong kita untuk berubah, misalnya going online. DAI dan asosiasi asuransi lainnya mendorong semua pelaku di industri asuransi untuk mentransformasikan diri dan memenuhi keseluruhan janji-janji yang kita berikan, bahkan kalau bisa lebih," jelas dia.

Hal senada disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) merangkap Dewan Komisioner OJK Riswinandi. Dia mengemukakan, kondisi pandemi saat ini merupakan momentum yang tepat bagi pelaku industri asuransi untuk beradaptasi dalam hal pemanfaatan teknologi guna mendukung proses bisnis perusahaan, baik dalam menjangkau nasabah baru atau sekadar interaktif dengan nasabah eksisting perusahaan.

OJK senantiasa mendorong perusahaan asuransi terus beradaptasi dengan perubahan ekosistem di industri jasa keuangan, ini termasuk melakukan inovasi dalam hal pemasaran produk asuransi. Tetapi, pemasaran produk asuransi harus dilakukan dengan perhitungan yang matang dan didukung dengan prinsip kehati-hatian. Artinya, perusahaan asuransi mesti mengelola manajemen risiko sebagai langkah mitigasi terhadap risiko yang mungkin timbul dan berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan.

Dia menuturkan, dalam konteks pengelolaan risiko, perusahan asuransi perlu mengambil pembelajaran berharga dari kasus-kasus yang terjadi di industri asuransi nasional. Dalam hal ini OJK berpendapat salah satu mitigasi risiko yang perlu dilakukan secara optimal adalah proses pemasaran yang dikaitkan dengan platform digital. Karena saat ini Indonesia masih diharapkan pada tingkat literasi keuangan yang relatif rendah.

OJK juga sedang mempersiapkan dan merampungkan peraturan RPOJK terkait dengan manajemen risiko teknologi informasi. Ini diharapkan akan selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama untuk mendukung kegiatan yang berbasis teknologi informasi di sektor IKNB.

Dengan demikian, pelaku usaha perlu melakukan berbagai penyesuaian strategi bisnis untuk bisa bertahan di tengah kondisi krisis saat ini. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI) dalam rangka mendukung kegiatan usaha. Dengan pemanfaatan teknologi secara maksimal, penyelenggaraan usaha dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
 


Tampil Menjadi Solusi

Ketika masyarakat Indonesia didera pandemi, asuransi pun harus tampil memberikan solusi. Risiko sakit dan kematian saat pandemi perlu di-cover asuransi. Selain tetap menunjukkan komitmen terhadap nasabah, seyogyanya perusahaan asuransi menunjukkan bukti tidak hanya berorientasi pada bisnis semata.

Baru-baru ini, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AJJI) menyatakan asuransi jiwa telah membayarkan klaim Covid-19 sebesar Rp 216,03 miliar terhadap 1.642 polis. Klaim tersebut dicatatkan oleh 56 perusahaan asuransi jiwa sejak Maret sampai Juni 2020.

"Pembayaran klaim tetap dilaksanakan meskipun pemerintah telah menyatakan bahwa penyakit Covid-19 merupakan pandemi, artinya biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah," ujar Ketua Bidang Komunikasi dan Marketing Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Wiroyo Karsono.

Sementara itu, Chief Distribution Officer PT Zurich Topas Life Budi Darmawan menyampaikan, pihaknya ikut memproteksi penyakit Covid-19 dan menjadi keputusan terbaik yang diambil para pelaku bisnis asuransi. Keputusan itu secara serentak disepakati, meskipun terdapat opsi bahwa industri asuransi bisa saja tidak mengikutsertakan manfaat itu karena pemerintah telah menanggung seluruh biaya.

Zurich Topas Life telah membayarkan klaim mencapai Rp 4 miliar kepada nasabah terjangkit Covid-19. Budi juga menyatakan, sebenarnya tidak banyak ketentuan yang disyaratkan untuk nasabah mendapatkan proteksi atas Covid-19. Tapi hal terpenting dari langkah yang dilakukan perseroan bersama industri asuransi jiwa adalah mengusung informasi bahwa berasuransi sangatlah penting. Terlepas dari Covid-19, masih banyak risiko yang perlu diproteksi. Dalam hal ini, asuransi berperan untuk membagi risiko di masa mendatang.

Selain asuransi Covid-19, bencana banjir yang terjadi di Jabodetabek pada awal tahun ini bisa menjadi contoh. AAUI memperkirakan potensi klaim atas bencana tersebut mencapai Rp 1,22 triliun. Nilai tersebut merupakan hasil kompilasi dari 3.335 polis asuransi kendaraan bermotor dan 2.799 polis asuransi harta benda. Nilai itu pun baru mencakup laporan dari 40 perusahaan asuransi dan masih terbuka untuk klaim yang dibayarkan lebih rendah atau bahkan lebih tinggi. Nilai tersebut pun dicatatkan bagi masyarakat atau pihak yang memiliki asuransi.

Nasabah asuransi juga perlu diberi pemahaman untuk menahan diri menarik nilai tunai dan tetap melanjutkan polis, terutama pada masa sulit akibat Covid-19. Sebab, bila hal itu dilakukan akan menjadi kerugian bagi nasabah karena nilai tunai belum besar dan bisa jadi manfaat polis pun ikut terhenti. Ada pilihan bagi nasabah yang tidak memiliki likuiditas untuk cuti membayar premi beberapa waktu.

Data AAJI memaparkan sampai semester I-2020 klaim nilai tebus (surrender) mencapai Rp 37,87 triliun. Nilai klaim itu menjadi kontributor klaim terbesar atau mencakup 58,7% dari total klaim di asuransi jiwa yang mencapai Rp 64,22 triliun.

Kendati demikian, Wiroyo Karsono menyampaikan, ada fenomena menarik yang dicatatkan oleh nasabah asuransi jiwa. Hal itu dicatatkan klaim akhir kontrak (maturity) sebesar Rp 7,26 triliun atau mencakup 11,2% dari total klaim. "Yang menarik itu klaim nilai kontrak, AAJI mendorong klaim ini karena nasabah bisa terproteksi sampai akhir polisnya," terang dia.

Wiroyo mengungkapkan, jumlah klaim di asuransi jiwa terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi itu menjadi penting sebagai bentuk komitmen industri asuransi. Pada tahun ini, klaim dan manfaat yang dibayarkan akan meningkat tipis, karena klaim di sektor kesehatan diperkirakan menurun dipengaruhi berkurangnya aktivitas masyarakat.

Dalam praktiknya, AAJI menyadari pandemi Covid-19 memaksa industri asuransi jiwa dan berbagai industri lain mendapati sejumlah tantangan baru. Meski begitu, industri mesti terus bergerak dan terus berproduksi.

Sedangkan di industri asuransi umum, pembayaran klaim dan manfaat asuransi barang milik negara (ABMN) dapat menjadi gambaran tersendiri. Data administrator konsorsium ABMN PT Reasuransi Maipark Indonesia memaparkan, jumlah klaim dibayarkan sampai Agustus 2020 mencapai Rp 161,70 juta. Klaim menuju proses bayar sambil melengkapi dokumen sebesar Rp 451,63 juta. Klaim yang sedang dalam proses banding mencapai Rp 232,17 juta. Dengan ditambahkan jumlah survei dan laporan lainnya, volume pengajuan klaim mencapai Rp 845,51 juta.

Realisasi atau perkiraan pembayaran klaim itu baru dicatatkan sejumlah kementerian atau lembaga (K/L). Adapun pada tahap awal, Kementerian Keuangan telah menjadi piloting project ABMN pada 2019. Pada 2020, cakupan diperluas menjadi 10 K/L. Seluruh K/L ditargetkan turut serta dalam program ABMN terkait proteksi gedung-gedung pada 2021. Proteksi belum termasuk aset infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, atau bandara yang rencananya turut diasuransikan.

Walaupun terdapat pada saat ini ada berbagai tantangan, industri asuransi nasional masih berpeluang tumbuh, berkembang, dan berkontribusi lebih pada perekonomian Indonesia. Bahkan, situasi sulit seperti pandemi Covid-19 pun dapat menjadi momentum untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa memiliki asuransi itu sangat bermanfaat.

Perusahan dan pelaku di industri asuransi akan menyambut Insurance Day atau Hari Asuransi pada hari ini Minggu, 18 Oktober 2020. Bisnis asuransi adalah memproteksi risiko. Di sisi lain, perusahaan asuransi pun perlu mendapat 'proteksi' dari pihak eksternal atau masyarakat maupun internal perusahaan. Hal ini agar perusahaan asuransi tidak salah langkah, bermasalah, dan justru merugikan berbagai pihak terutama pemegang polis.

Terus berinovasi, segera bertransformasi, jaga reputasi. Selamat pagi, mari berasuransi!

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN