Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Capiatl. Sumber: bankcapital.co.id

Bank Capiatl. Sumber: bankcapital.co.id

Jadi Bank Digital, Bank Capital Perkuat Modal dan Ubah Segmen

Selasa, 9 Maret 2021 | 19:19 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Capital Indonesia Tbk tengah melakukan transformasi dari bank konvensional menjadi bank digital dengan memperkuat permodalannya. Selain itu, perseroan juga akan mengubah strategi dengan fokus pada segmen ritel dengan pendekatan digital.

Direktur Utama Bank Capital Wahyu Dwi Aji mengungkapkan, sejak tahun lalu pihaknya sengaja menghentikan penyaluran kredit dan menyelesaikannya. Hal tersebut karena perseroan ingin fokus pada segmen ritel setelah menjadi bank digital dari sebelumnya segmen komersial dan korporasi.

Terlihat dari penurunan 34,05% secara tahunan (year on year/yoy) dalam penyaluran kredit tahun 2020 dari Rp 9,75 triliun menjadi Rp 6,43 triliun.

Selain itu, sepanjang tahun 2020 dana pihak ketiga (DPK) perseroan tercatat Rp 16,37 triliun, naik 1,61% (yoy). Hal tersebut membuat total aset juga tumbuh 1,65% (yoy) menjadi Rp 20,29 triliun.

Wahyu mengungkapkan, untuk menjadi bank digital, pihaknya akan memperkuat modalnya. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang meminta modal inti bank minimal Rp 2 triliun tahun ini dan Rp 3 triliun tahun 2022.

"Tambahan modal sesuai dengan arahan dari OJK, kami lakukan rights issue paling lambat triwulan keempat 2021 senilai Rp 2 triliun, dan ada penerbitan obligasi subordinasi Rp 700 miliar juga tahun ini," terang Wahyu dalam public expose insidentil, Selasa (9/3).

Dengan aksi korporasi tersebut, pihaknya meyakini rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Capital akan terkerek naik tahun ini guna mendukung rencana menjadi bank digital. Per akhir Desember 2020, CAR perseroan sebesar 18,87%, naik dari posisi akhir 2019 sebesar 12,67%.

"Maka dengan penerbitan saham baru dan obligasi subordinasi, modal dari Bank Capital akan naik, CAR menjadi 30%. Saya pikir itu dapat mendukung pertumbuhan Bank Capital untuk bisa mencapai cita-cita jadi bank digital," papar Wahyu.

Di sisi lain, menanggapi kabar adanya unicorn yang tertarik menjadi investor  Bank Capital, Wahyu menyebut tidak menutup kemungkinan adanya penjajakan dari para investor yang tertarik masuk Bank Capital.

"Target Bank Capital transformasi jadi bank digital ini jadi target keseluruhan, untuk itu kami tidak mrnutup kemungkinan untuk bisa melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang dapat mendukung dari pelaksanaan perubahan sistem dari Bank Capital," jelas Wahyu.

Pihaknya juga mengaku, kerja sama ke depan tidak hanya terbatas pada perusahaan digital. Tapi juga dapat bekerja sama dengan supplier ritel untuk mempersiapkan infrastruktur yang memberi kemudahan bagi nasabah agar bisa menjangkau layanan Bank Capital hingga ke tempat yang belum bisa dijangkau oleh perbankan.

Sebelum bertransformasi menjadi bank digital, perseroan melakukan bersih-bersih pada tahun lalu. Tercermin dari rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross dan NPL net masing-masing 0% per Desember 2020. Padahal, pada September 2020 NPL gross masih berada di level 3,97% dan NPL net 3,36%. Dari hasil bersih-bersih kredit macet dan portofolio kredit yang diselesaikan, menyebabkan loan to deposit ratio (LDR) perseroan anjlok ke posisi 39,33% per Desember 2020, dari posisi September 2020 yang masih di level 77,80%.

Meski demikian, perseroan masih mencatat laba bersih senilai Rp 107,08 miliar, meroket 574,31% (yoy). "Hal itu terjadi karena bank akan melakukan transformasi dari konvensional ke digital. Sehingga melakukan penyelesaian kredit, bahkan kredit mengalami penurunan," ucap Wahyu.

Return on asset (ROA) perseroan berada di posisi 0,76%, dengan return on equity (ROE) 7,91% pada tahun 2020. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun ke posisi 1,37% dari 3,50% tahun 2019 karena penurunan kredit. Sementara, BOPO naik menjadi 98,69% dari 98,12%.

Untuk menjadi bank digital, langkah transformasi yang dilakukan perseroan tahun ini adalah sedang mempersiapkan penerapan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) dan cardless transaction.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN