Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi

Ilustrasi asuransi

Januari, Premi Asuransi Jiwa Melesat 25,12%

Senin, 1 Maret 2021 | 05:02 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri asuransi jiwa membukukan pendapatan premi mencapai Rp 19,09 triliun atau melesat 25,12% secara year on year (yoy) per Januari 2021. Pencapain itu disebut sebagai indikator awal kinerja asuransi jiwa tumbuh lebih baik di tahun ini.

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pencapaian premi bulanan asuransi jiwa di Januari 2021 mampu melampaui rata-rata perolehan premi bulanan sepanjang 2020 di kisaran Rp 14-15 triliun. Tertinggi, penambahan premi tercatat pada Oktober 2020 sebesar Rp 18,13 triliun. Sedangkan penambahan premi terendah terjadi pada April 2020 sebesar Rp 11,19 triliun.

Jika ditilik kinerja sepanjang tahun 2020, total pendapatan premi asuransi jiwa ditutup melambat 7,23% (yoy). Total premi turun dari Rp 185,33 triliun di akhir 2019 menjadi Rp 171,93 triliun di akhir 2020.

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menyampaikan, lonjakan premi di awal tahun ini tidak terlepas dari sederet pendekatan di kuartal IV-2020. Berbagai pendekatan tersebut pada akhirnya membawa optimisme bagi nasabah dan pelaku asuransi jiwa di 2021.

Dia memaparkan, salah satu pendekatan paling utama adalah terkait program vaksinasi yang dikemukakan presiden. Kemudian, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Desember 2020 merambat naik menjadi sebesar 51,3. Dalam hal ini, kegiatan pabrik-pabrik di Indonesia nampak mulai kembali beroperasi.

"Ditambah lagi isu mengenai Tesla, lalu ada kerjasama pembuatan batu baterai dengan Tiongkok. Itu semua menambah optimisme di 2021 yang makin kuat. Termasuk pemerintah tidak memutus bantuan terkait program PEN, jadi menumbuhkan banyak harapan," kata Togar kepada Investor Daily, Minggu (28/2).

Dia mengatakan, proses pemulihan (recovery) kinerja asuransi jiwa akan terjadi perlahan. Namun demikian, pihaknya berharap pendapatan premi bisa melaju lebih cepat lagi di pertengahan tahun sampai akhir tahun ini. Melihat aktivitas perekonomian lebih kondusif karena vaksinasi Covid-19 lebih banyak dan merata.

"Optimisme di tahun 2021 itu mulai terlihat di kuartal I ini. Ini kan hasilnya bagus, itu menunjukkan indikasi awal bahwa tahun 2021 ini sudah mulai kembali. Tapi kita juga tidak bilang akan lebih hebat dibandingkan 2019, menyamai tahun 2019 saja sudah bagus. Pastinya, kita optimis 2021 itu kinerjanya lebih tinggi dibandingkan 2020," papar Togar.

Di samping itu, OJK juga memaparkan statistik kinerja hasil investasi asuransi jiwa dibuka positif pada Januari 2021 sebesar Rp 998,16 miliar. Pada Januari 2020, hasil investasi dibukukan negatif Rp 6,26 triliun. Kemudian, hasil investasi berhasil ditutup positif  Rp 17,67 triliun di Desember 2020.

"Kita berharap IHSG ini kearah 7.000 di tahun ini. Kalau ini terjadi, maka hasil investasi asuransi jiwa jika lihat historinya bisa naik sampai 20%,"

Adapun total investasi di Januari 2021 tercatat tumbuh tipis 0,66% (yoy) menjadi Rp 481,10 triliun. Tiga portofolio terbesar ditempatkan asuransi jiwa pada instrumen reksadana mencapai Rp 162,82 triliun, saham mencapai Rp  137,77 triliun, dan SBN sebesar Rp 82,15 triliun.

Togar mengakui, tahun 2020 menjadi tantangan yang berat layaknya tahun 2008 dan 1998. Belajar dari krisis-krisis sebelumnya, maka pelaku usaha asuransi jiwa seharusnya sudah mampu mengantisipasi krisis di masa mendatang.

"Karena asuransi jiwa itu nature-nya jangka panjang, mestinya peristiwa setahun tidak mempengaruhi kinerja, pasti turun di 2020, tapi tidak berpengaruh secara fundamental," imbuh dia.

Selain itu, sambung dia, penting bagi para nasabah asuransi jiwa memahami betul masing-masing produk terutama produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link. Pertama, harus disadari bahwa pembayaran premi unit link dilakukan seumur hidup bukan jangka waktu tertentu.

Kedua, pemegang unitlink harus menyadari bahwa unitnya ada kaitannya dengan investasi yang sifatnya volatile. Hal penting lainnya bagi nasabah adalah agar membaca isi polis dengan seksama agar tidak menimbulkan ekspektasi yang berlebihan di masa mendatang.

Klaim Meningkat

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta


Di sisi lain, OJK turut mencatat bahwa per Januari 2021 total klaim dan manfaat dibayarkan naik 6,32% (yoy) menjadi Rp 14,65 triliun. Pendorong pertumbuhan klaim dicatatkan oleh klaim penebusan unit (partial withdrawal) yang naik 22,31% (yoy) menjadi Rp 9,06 triliun.

Togar menjelaskan, sejatinya total klaim asuransi jiwa cenderung terus meningkat setiap tahun. Khusus tahun ini, klaim partial withdrawal memang diprediksi menjadi lini sebagai kontributor terbesar pada total klaim. Karena nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP) para nasabah banyak yang meningkat seiring perbaikan indeks di pasar modal.

"Wajar nasabah menarik dananya. Ini juga pelajaran bahwa partial withdraw ini karena mereka dapat cuan. Kalau dia beli tahun lalu pasti NAB dia naik signifikan, jadi hal biasa jika klaim naik. Ini sudah diperkirakan. Bisa jadi juga klaim memang meningkat tapi nasabah masuk lagi dengan dana dari klaim itu. Dengan begitu, kontrak tidak putus," ujar dia.

Pada saat yang sama, klaim dan manfaat dibayar turun 25,29% (yoy) jadi Rp 4,64 triliun. Januari 2020 tercatat sebesar Rp 6,21 triliun. Menurut Togar, lini klaim tersebut dicatatkan dari klaim meninggal dan akhir kontrak. Hal itu menunjukkan komitmen dari perusahaan asuransi jiwa.

"Klaim akhir kontrak memang sepertinya menurun, itu masih menunjukkan komitmen dari perusahaan asuransi jiwa ketika jatuh tempo, termasuk klaim yang meninggal. Total klaim yang menurun itu indikasinya lebih banyak dipengaruhi klaim rawat inap, bahwa banyak nasabah gak mau ke rumah sakit," tandas Togar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN