Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo dalam Peresmian Bank Syariah Indonesia. Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo dalam Peresmian Bank Syariah Indonesia. Sumber: BSTV

Jokowi: BSI Harus Universal

Selasa, 2 Februari 2021 | 07:30 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA - Presiden Jokowi berpesan agar PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) senantiasa mengusung nilai-nilai universal, terbuka, inklusif, dan ramah bagi siapa pun yang ingin menjadi nasabahnya, termasuk nasabah nonmuslim. Dengan berpegang pada nilai-nilai universal, emiten bersadi saham BRIS itu akan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat di Tanah Air.

"Jadi, jangan berpikir Bank Syariah Indonesia ini hanya untuk umat muslim saja, yang nonmuslim pun harus diterima dan disambut baik menjadi nasabah Bank Syariah Indonesia. Semua yang mau bertransaksi atau berinvestasi secara syariah harus disambut sebaik-baiknya,” tegas Presiden Jokowi saat berpidato pada peresmian beroperasinya PT Bank Syariah Indonesia Tbk di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/2).

Pentingnya mengusung nilai-nilai universal merupakan satu dari empat pesan Jokowi kepada segenap jajaran bank hasil merger PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Mandiri Syariah, dan PT BNI Syariah tersebut.

Pesan kedua Presiden Jokowi yaitu agar BSI bisa memaksimalkan penggunaan teknologi digital. "Digitalisasi wajib diterapkan agar bank teesebut bisa menjangkau mereka yang selama ini belum terjangkau layanan perbankan," ujar Kepala Negara.

Ketiga, Presiden berpesan agar BSI mampu menarik minat generasi milenial untuk menjadi nasabah. Sebab, jumlah milenial Indonesia saat ini mencapai 25,87% dari total 270 juta populasi. “Ini sebuah jumlah yang sangat besar,” tutur Presiden.

Keempat, Presiden Jokowi berpesan bahwa produk dan layanan keuangan syariah BSI harus kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan berbagai segmen konsumen, mulai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), korporasi, sampai ritel, dan mampu memfasilitasi nasabah agar cepat naik kelas dan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

“Sebagai barometer perbankan syariah di Indonesia serta insya Allah nantinya regional dan dunia, saya mengharapkan Bank Syariah Indonesia jeli dan gesit menangkap peluang. Harus mampu menciptakan tren-tren baru dalam perbankan syariah, bukan hanya mengikuti tren yang sudah ada,” tandas dia.

Ekonomi Syariah Global

Presiden Jokowi optimistis Indonesia bakal menjadi pusat gravitasi ekonomi global. Berdasarkan data The State of Global Islamic Economy Indicator Report, sektor ekonomi syariah Indonesia telah tumbuh signifikan.

Pada 2018, ekonomi syariah Indonesia berada di peringkat ke-10 dunia, pada 2019 naik menjadi peringkat ke-5 dunia, dan pada 2020 berada di peringkat ke-4 dunia.

“Kenaikan peringkat tersebut harus kita syukuri, namun kita harus terus bekerja keras untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi syariah regional dan global,” papar Presiden.

Presiden mengatakan, 1 Februari 2021 adalah tanggal bersejarah bagi perkembangan ekonomi syariah Indonesia. Sudah lama Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Status ini sudah menjadi salah satu identitas global Indonesia dan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. “Maka, sudah sewajarnya Indonesia menjadi salah satu yang terdepan dalam hal perkembangan ekonomi syariah,” kata Presiden.

Di tengah krisis pandemi Covid-19, Presiden Jokowi mengaku senang memperoleh laporan bahwa perbankan syariah Indonesia tetap mencatatkan kinerja yang stabil. “Perbankan syariah berhasil tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Sekali lagi, ini patut kita syukuri, alhamdulillah,” ujar dia.

Dalam banyak hal, menurut Kepala Negara, perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan bank konvensional. Dari sisi aset, bank syariah membukukan kenaikan sebesar 10,97% secara tahunan (year on year/yoy) dibanding bank konvensional yang naik 7,7%.

“Artinya, bank syariah tumbuh lebih tinggi. Dana pihak ketiga (DPK) bank syariah pun tumbuh 11,56% (yoy), sedikit juga di atas bank konvensional yang sebesar 11,49 %. Kemudian, dari sisi pembiayaan tumbuh 9,42% (yoy), jauh lebih tinggi dari bank konvensional yang hanya tumbuh 0,55%,” papar Jokowi.

Presiden menambahkan, berdasarkan indikator-indikator itu, ekonomi syariah Indonesia berpotensi tumbuh sangat cepat. "Insya Allah akan berkontribusi besar dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan masyarakat kita. Sebagai bagian dari bukti bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin,” kata Presiden.

 

Dirut BSI Hery Gunardi dalam Peresmian Bank Syariah Indonesia. Sumber: BSTV
Dirut BSI Hery Gunardi dalam Peresmian Bank Syariah Indonesia. Sumber: BSTV

Jalankan Amanah

Sementara itu, Direktur Utama BSI, Hery Gunardi mengatakan, BSI siap menjalankan amanah dari berbagai pihak, terutama untuk masuk 10 besar bank syariah terbesar di dunia dan membawa Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi keuangan syariah global.

Hery mengungkapkan, proses penggabungan PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah dimulai pada Maret 2020 dan berlangsung selama 11 bulan. "Nama Bank Syariah Indonesia atau BSI dipilih karena kami ingin BSI menjadi representasi Indonesia di tingkat nasional dan global," tutur dia.

Dia menjelaskan, sebagai bank hasil merger, BSI per akhir Desember 2020 memiliki total aset Rp 240 triliun, pembiayaan yang disalurkan senilai Rp 157 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun sebesar Rp 210 triliun per akhir tahun lalu.

Dengan total modal inti Rp 22,6 triliun, menurut Hery Gunardi, BSI berada dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III 'gendut'. Pada 2023, BSI diharapkan naik kelas menjadi BUKU IV dengan modal inti minimal Rp 30 triliun. Berarti membutuhkan sekitar Rp 7,4 triliun untuk naik kelas.

"Kami siap membawa BSI masuk 10 bank besar dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam lima tahun ke depan. Kami siap membawa amanah ini," tegas Hery.

Hery menambahkan, kantor yang dimiliki BSI setelah merger berjumlah lebih dari 1.200 kantor cabang dan 20 ribu karyawan yang tersebar di Indonesia.

Dia mengemukakan, segenap jajaran BSI berkomitmen memberikan layanan kepada semua lini masyarakat, menjadi bank modern, inklusif, dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah, produk-produk kompetitif, dan layanan prima sesuai kebutuhan nasabah.

"BSI akan menjadi bank peringkat ke-7 di Indonesia berdasarkan total aset. Tugas kami bukan hanya menggabungkan tiga bank ini, tapi bersama-sama transformasi perbaikan proses bisnis, penguatan risk management, penguatan sumber daya insani, serta teknologi digital," papar dia.

BSI, kata dia, fokus ke segmen UMKM dengan sistem terintegrasi, melayani sistem ritel, konsumer, wholesale untuk pengembangan bisnis global sukuk. Selain menjalankan fungsi intermediasi, BSI akan menyalurkan pajak. BSI juga punya konsep mengoptimalkan pemerataan ekonomi masyarakat melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf).

 

Wimboh Santoso, ketua DK OJK. Sumber; BSTV
Wimboh Santoso, ketua DK OJK. Sumber; BSTV

Sudah Ditunggu-tunggu

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengungkapkan, lahirnya bank syariah terbesar di Indonesia itu sudah ditunggu-tunggu.

"Lahirnya sudah lama ditunggu masyarakat, karena apa? Karena bank ini diharapkan dapat memberikan layanan produk dengan kualitas prima, biaya murah, jaringan luas, serta memiliki prinsip syariah," kata Wimboh.

Wimboh juga menyampaikan sejumlah pesan kepada BSI. Intinya, momentum merger tiga bank syariah harus dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi keuangan syariah nasional.

"Dengan (jumlah) penduduk sebanyak 272 juta orang, yang mengharapkan produk syariah lebih baik, BSI ini akan memberikan fokus pada pembiayaan masyarakat kecil melalui program UMKM dalam mendukung pembangunan nasional," ungkap Wimboh.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bank syariah memiliki posisi yang sangat unik. "Dengan berpedoman pada prinsip syariah, yang ditonjolkan adalah aspek keadilan, profit and loss adalah sharing antara bank dengan nasabah," ujar dia.

Dengan prinsip tersebut, menurut Menkeu, bank syariah memiliki model bisnis yang resilient, berdaya tahan. "Saat kondisi risiko dan ekonomi memburuk, bank syariah tidak akan mendapatkan negative spread seperti bank konvensional," ujar Sri Mulyani.

Menkeu berharap kehadiran BSI mampu menggerakkan sektor riil, terutama UMKM, dengan potensi yang sangat besar dan kemampuan menggunakan sumber daya untuk membangun ekonomi dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal tersebut akan menjadi fondasi kredibilitas dan kepercayaan nasabah serta investor kepada BSI.

"Saya harap tata kelola yang baik menjadi kultur dalam korporasi, mengedepankan akuntabilitas. Profesionalisme harus dibangun, karena dana yang digunakan adalah dana masyarakat sehingga harus dikelola dengan baik. Jangan cederai kepercayaan masyarakat," papar Sri Mulyani.

 

Menkeu Sri Mulyani Indrawati.
Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Bukan Cuma Kebanggaan

Di sisi lain, Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, Bank Syariah Indonesia didirikan tidak sekadar untuk mengejar kebanggaan semata, namun diharapkan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi serta keuangan syariah dunia. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia.

"Saya ucapkan selamat datang, selamat bekerja untuk Bank Syariah Indonesia. Pemerintah dan masyarakat Indonesia menitipkan amanah pada Bank Syariah Indonesia untuk membawa nama Indonesia ke kancah industri syariah dan halal global," ujar Erick.

Dia menjelaskan, Indonesia sudah sepantasnya memiliki bank syariah besar dan kuat yang akan menjadikan negeri ini sebagai salah satu pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Dengan demikian, merger ketiga bank anak perusahaan anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu harus dilakukan guna mewujudkan visi tersebut.

Erick juga berharap BSI kelak menjadi energi baru bagi perekonomian Indonesia. Apalagi selama ini bank syariah mampu membuktikan kontribusinya melalui kinerja yang tetap positif meski dalam masa pandemi Covid-19.

“Jadilah energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip financial justice dan stability in investment,” tandas dia. (try/az)

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Photo/Mohammad Defrizal
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Photo/Mohammad Defrizal

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN