Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas memantau instrumen investasi di Global Market BNI, Jakarta. Foto ilustrasi: IST.

Petugas memantau instrumen investasi di Global Market BNI, Jakarta. Foto ilustrasi: IST.

Kepemilikan Surat Berharga Perbankan Capai Rp 1.800 Triliun

Sabtu, 27 November 2021 | 18:59 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -  Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo menjelaskan, melimpahnya likuiditas perbankan pada saat pandemi Covid-19 dan rendahnya permintaan kredit mengakibatkan bank menempatkan dananya pada surat berharga.

“Kepemilikan surat berharga perbankan mencapai hampir Rp 1.800 triliun, ini tidak masuk sektor riil karena ada masalah di sektor riil. Kita pecahkan supaya intermediasi ini masuk ke sektor riil, sehingga mendorong ekonomi dan agar tidak banyak ditanamkan ke surat berharga,” papar Edy dalam talkshow bertajuk “Membangun Optimisme Baru untuk Mendorong Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional,” Jumat (26/11).  

Surat berharga pada Oktober mengalami sedikit perlambatan menjadi 25,26% (yoy) dari bulan sebelumnya tumbuh 30,58% (yoy).

Pihaknya optimistis pertumbuhan kredit perbankan ke depan akan lebih baik dibandingkan tahun ini.

“Kita optimis 2022 pertumbuhan kredit perbankan lebih tinggi dibanding tahun 2021. Tantangan ke depan kita masih memulihkan kredit restrukturisasi secara paralel mendorong pembiayaan pada sektor dan subsektor yang survive di masa pandemi untuk terus tumbuh,” urai Edy.

Selain itu, mendorong pembiayaan pada sub sektor potensial yang masih memberikan optimisme tumbuh bagus seiring dorongan digitalisasi perbankan yang bergerak di berbagai sektor tersebut.

Pihaknya menilai, dengan mulai tumbuh positif ekonomi nasional, maka permintaan kredit juga diharapkan meningkat, seiring dengan aktivitas ekonomi yang dibuka.

“Kalau investasi sudah positif, saya prediksikan pelaku usaha itu sudah optimis, ini bagus kita lihat restrukturisasi tadinya 15% dari kredit sekarang turun ke 12%. Artinya bank mampu memitigasi risiko,” ungkap dia.

Bunga Kredit

Di sisi lain, suku bunga kredit juga terus mengalami penurunan. Edy menilai, tingkat suku bunga kredit perbankan di masa pandemi adalah terendah. Namun, pertumbuhan kredit masih belum tinggi, karena masih lemahnya permintaan dari pengusaha.

“Bunga sudah rendah, kenapa kredit tidak naik? Ternyata kondisi kita anomali, bunga bank selama 20-25 tahun single digit baru kali ini. Dulu pakai capping tetap tidak turun juga, begitu Covid dan digital langsung turun,” papar Edy.

Adapun, suku bunga kredit investasi tercatat paling rendah, yakni 8,52% per Oktober 2021, turun dari bulan sebelumnya 8,54%. Sementara itu, suku bunga kredit modal kerja di level 8,78%, menurun dari bulan sebelumnya 8,85%. Serta bunga kredit konsumsi juga mengalami penurunan meskipun masih di level dua digit, yakni 10,61%.

“Bahkan BCA paling efisien, cost of fund BCA itu sangat bagus, saya lihat Himbara juga sudah bagus, bahkan bunga kredit sudah di 8%. Ini peluang bagus bagi bank,” ujar dia.

Menurut dia, dengan likuiditas yang melimpah, suku bunga rendah, bukan berarti perbankan malas untuk menyalurkan kredit. Sebab, bisnis bank adalah intermediasi untuk mengucurkan kredit, namun minim permintaan, selain itu juga bank lebih selektif di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut yang menyebabkan pertumbuhan kredit perbankan belum agresif.

Baca lengkap di epaper Investor Daily https://subscribe.investor.id/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN