Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto: DAVID

Bank BRI. Foto: DAVID

Kinerja BRI Terjaga Positif Karena Sumber Pendanaan Sehat

Senin, 15 Februari 2021 | 15:32 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai, komposisi dana murah yang besar harus dimiliki industri perbankan. Sumber pendanaan yang sehat tersebut akan membuat kinerja perusahaan bisa tumbuh positif dan berkelanjutan, salah satunya terlihat pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan, tidak ada bank yang enggan memiliki porsi dana murah jumbo. Alasannya, kepemilikan sumber pendanaan murah bisa membuat sebuah bank meraup laba lebih besar.

"Porsi dana murah yang besar akan berdampak positif terhadap kinerja sebuah bank. Semua bank mengharapkan memiliki struktur pendanaan yang didominasi dana murah. Bank-bank yang memiliki sumber dana murah yang besar seperti BRI memiliki peluang mendapatkan laba yang lebih besar," ungkap Piter, Minggu (14/2).

 Piter Abdullah Redjalam.
Piter Abdullah Redjalam.

Saat ini ada sejumlah bank yang memiliki komposisi pendanaan murah besar, salah satunya yakni BRI. Hingga akhir 2020 lalu, BRI Group memiliki dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.121,10 triliun, jumlah ini naik 9,8% secara tahunan (year on year/yoy).

Dari jumlah DPK tersebut, sebanyak 59,67% di antaranya merupakan dana murah (current account saving account/CASA) yang bersumber dari tabungan dan giro. Pencapaian CASA BRI di akhir tahun 2020 tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar 57,70%. Nilai giro yang dikelola BRI mencapai Rp 193,1 triliun per Desember 2020, dan pada saat yang sama terdapat Rp 475,8 triliun dana tabungan yang dikelola BRI.

"Dengan cost of fund (biaya dana) yang lebih rendah, maka perbankan akan lebih efisien dan dapat lebih kompetitif dalam menyalurkan kredit. Dengan begitu, maka nasabah yang didapatkan juga akan lebih baik, sehingga risiko kredit akan lebih rendah, kualitas kredit akan lebih baik, dan pada akhirnya keuntungan akan lebih besar. Dengan keuntungan yang lebih baik, maka modal bank akan terus tumbuh,” tutup Piter.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN