Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

SINERGI PENGAWASAN TERINTEGRASI JAGA SEKTOR JASA KEUANGAN TETAP STABIL

Kredit Juli Membaik

Jumat, 28 Agustus 2020 | 14:33 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan dalam kondisi stabil dan terjaga, namun tetap dalam kewaspadaan mengantisipasi tekanan perekonomian akibat pandemi Covid-19.

Hingga Juli 2020, kredit industri perbankan mengalami perbaikan, tercermin pada pertumbuhan kredit sebesar 1,53% secara tahunan (year on year/yoy) ke posisi Rp 5.536,17 triliun, lebih tinggi dari bulan Juni yang tumbuh 1,49% (yoy).

Kondisi sektor jasa keuangan yang stabil tersebut ditopang oleh koordinasi dan sinergi yang dilakukan OJK dengan pemerintah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Berdasarkan kajian Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Agustus 2020, OJK mencatat kinerja industri jasa keuangan (IJK) yang berkaitan dengan tugas OJK, menunjukkan hasil optimalisasi berbagai kebijakan yang telah dilakukan.

Kondisi itu menjadi bekal untuk memulai tahapan pemulihan ekonomi nasional melalui penguatan peran sektor jasa keuangan (supply side) yang memberikan stimulus demi bergeraknya kembali roda perekonomian (demand side) dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang baik.

Wimboh Santoso. Foto: IST
Wimboh Santoso. Foto: IST

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan, dari sisi intermediasi industri jasa keuangan, mulai bergeraknya aktivitas ekonomi pasca-pelonggaran pemberlakuan pembatasan sosial mendorong pertumbuhan kredit perbankan kembali sedikit meningkat menjadi 1,53%.

“Kredit bulan Juli ini 1,53%, sedangkan Juni 1,49%, ini trennya mudah-mudahan sudah mulai meningkat di Agustus, di September, pelan-pelan supaya lebih baik di akhir tahun,” kata Wimboh dalam konferensi pers mengenai perkembangan kebijakan dan kondisi terkini sektor jasa keuangan secara daring,Kamis (27/8/2020).

Rasio Bank Umum
Rasio Bank Umum

Wimboh menjelaskan, secara umum, pertumbuhan kredit industri perbankan masih ditopang oleh kredit dari bank-bank milik pemerintah. Sementara kredit bank swasta dan bank milik asing masih lemah per Juli 2020.

“Terlihat dari kredit di bank BUMN mencatatkan kenaikan 3,36% (yoy) dan kredit di BPD naik 8,23% (yoy). Sedangkan bank umum swasta hanya tumbuh 0,91% dan bank milik asing dan KCBA mencatatkan kontraksi. Hal ini indikasi masih belum confidence-nya sektor swasta,” papar Wimboh.

Adapun penyaluran kredit bank BUMN mencapai Rp 2.409,12 triliun per Juli 2020 tumbuh 3,36% (yoy). Untuk kredit Bank Pembangunan Daerah (BPD) per Juli meningkat paling tinggi, yakni 8,23% (yoy) mencapai Rp 470,23 triliun. Bank swasta nasional menyalurkan kredit Rp 1.203,29 triliun, bank asing KCBA menyalurkan kredit Rp 234,93 triliun per Juli mengalami kontraksi -5,35% (yoy).

Sementara bank asing non-KCBA terkontraksi -2,25% (yoy) menjadi Rp 1.218,59 triliun. Dari sisi kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU), kredit tercatat masih tumbuh positif di BUKU IV sebesar 2,41% (yoy) menjadi Rp 3.110,39 triliun dan BUKU II tumbuh 4,48% menjadi Rp 694,66 triliun.

Kinerja perbankan
Kinerja perbankan

Sedangkan BUKU I hanya tumbuh 0,3% (yoy) menjadi Rp 43,91 triliun dan bahkan di BUKU III terkontraksi -1,13% (yoy) menjadi Rp 1.687,20 triliun.

“Namun demikian, perlu dicermati terdapat beberapa bank yang berpindah kelompok bank akibat merger atau tambahan modal, kami mencatat 4 bank berpindah dari BUKU I ke BUKU II, dan 2 bank berpindah dari BUKU III ke BUKU IV,” jelas Wimboh.

Berdasarkan jenis penggunaannya, secara industri, kredit modal kerja (KMK) masih terkontraksi sedangkan kredit investasi membaik. Penurunan kredit modal kerja di Juli 2020 ini, lebih disebabkan oleh pelunasan kredit dari beberapadebitur besar. Apabila dirinci, penyaluran KMK per Juli tercatat mencapai Rp 2.510,71 triliun atau mengalami kontraksi -0,86% (yoy). Kredit investasitumbuh 5,92% (yoy) menjadi Rp 1.494,82 triliun, sedangkan kredit konsumsi meningkat1,45% (yoy) menjadi Rp 1.530,64 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN