Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

AGUSTUS CAPAI Rp 5.489,6 TRILIUN

Kuartal III, Penyaluran Kredit Diproyeksi Masih Melambat

Nida Sahara/Triyan Pangastuti, Selasa, 1 Oktober 2019 | 08:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) dalam analisis uang beredar Agustus 2019 mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 5.489,6 triliun atau tumbuh 8,6% secara tahunan (year on year/yoy), tumbuh melambat dari bulan sebelumnya yang meningkat 9,7% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan kredit tersebut terjadi baik pada golongan debitur korporasi maupun perseorangan. Kredit korporasi tumbuh 9,4% (yoy) per Agustus, melambat dari Juli 11,4% (yoy). Sedangkan kredit perseorangan tumbuh 8,8% (yoy) per Agustus, lebih rendah dari 9,2% (yoy) per Juli.

Sementara itu, dari data BI juga mencatat perlambatan juga terjadi pada seluruh jenis penggunaannya, yaitu modal kerja, investasi, dan konsumsi. Kredit modal kerja tumbuh melambat dari 9,0% (yoy) menjadi 7,5% (yoy), terutama pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), serta sektor industri pengolahan.

Untuk kredit investasi tumbuh melambat dari 13,8% (yoy) per Juli menjadi 12,7% (yoy) terutama berasal dari PHR serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

Sementara itu, kredit konsumsi pada Agustus juga melambat, dari 7,3% (yoy) menjadi 7,0% (yoy). Perlambatan terjadi karena kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), serta kredit multiguna.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Herry Sidharta menjelaskan, perlambatan pertumbuhan kredit industri perbankan disebabkan karena kondisi ekonomi global yang masih kurang mendukung.

"Salah satunya sebagai dampak perang dagang antara AS-China dan perkembangan geopolitik global. Selain itu juga karena masih ketatnya kondisi likuiditas pasae domestik, tercermin dari indikator LDR (loan to deposit ratio) industri per Juli 2019 sebesar 94,3%," jelas Herry ketika dihubungi Investor Daily, Senin (30/9).

Menurut dia, sampai dengan akhir September atau kuartal III pertumbuhan kredit industri perbankan masih melambat. Hal tersebut karena adanya debitur yang masih menunggu situasi kondusif. Sementara itu, di BNI sendiri pihaknya menyebut ada pertumbuhan kredit 19,7% (yoy) mencapai Rp 525,7 triliun. Kredit korporasi dan menengah tumbuh 21,4% dan kredit perorangan tumbuh 9,2% (yoy).

"Kami memproyeksikan kredit BNI di kuartal III masih akan tumbuh double digit, lebih tinggi dari industri. Namun demikian, kondisi domestik akhir-akhir ini perlu dicermati mengingat bisa menjadi kontraproduktif terhadap pertumbuhan ekonomi semester II ini, padahal sesuai siklus biasanya ekonomi tumbuh lebih kencang jelang akhir tahun," terang Herry.

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA