Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi perusahaan. (Pixabay)

Ilustrasi perusahaan. (Pixabay)

Laba Naik 26,7%, Multifinance Makin Tajir

Minggu, 7 Agustus 2022 | 22:01 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Industri multifinance membukukan laba bersih sebesar Rp 8,44 triliun pada semester I-2022, naik 26,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari laba tersebut, sebesar 25% di antaranya berasal dari 13 emiten multifinance.

Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan laba multifinance seiring dengan peningkatan pendapatan bunga 7,95%, sedangkan beban bunga susut 6,49%. Adapun rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Juni 2022 tercatat 78,26%, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2019.

Perolehan tersebut tidak terlepas dari piutang pembiayaan bersih yang dalam tren pemulihan yang mencapai Rp 381,97 triliun pada semester I-2022 atau naik 5,63% (yoy). Hal itu terutama didorong oleh pembiayaan investasi dan pembiayaan modal kerja, masing-masing tumbuh 19,64% dan 18,79%.

Dari sisi kualitas aset, pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) multifinance berada di level 2,81% pada semester I-2022. Posisi ini dalam tren penurunan sejak akhir 2020 di level 4,01%.

Baca juga: Semester I-2022 Laba Adira Finance (ADMF) Tumbuh 40% Jadi Rp 661 Miliar

Adapun 13 dari 15 emiten multifinance yang telah melaporkan kinerja keuangan mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 55,86% menjadi Rp 2,11 triliun. Jumlah tersebut hampir 25% dari laba industri pada semester I-2022.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan, pembiayaan dari multifinance sudah lebih baik dengan keikutsertaan dalam SLIK OJK sejak April 2019. Selain itu sejak Januari 2020, multifinance turut mengimplementasikan PSAK 71 yang mengamanatkan penyisihan cadangan lebih terukur.

Dengan demikian, kata dia, pendekatan dalam beberapa tahun terakhir mendorong sejumlah perbaikan di industri. Tercermin dalam aspek kualitas pembiayaan yang memberi imbas positif pada membaiknya pos pendapatan dan laba.

"Dengan koreksi-koreksi yang ada, biaya operasional dari perusahaan pembiayaan menjadi lebih bagus. Nah dengan lebih bagus, maka laba meningkat, BOPO ratio bisa lebih bagus. Proyeksinya laba akan lebih baik dan bagus karena perusahaan pembiayaan semakin sadar bahwa kualitas pembiayaan itu berpengaruh terhadap laba," kata Suwandi kepada Investor Daily, Minggu (7/8/2022).

Baca juga: WOM Finance (WOMF) Hasilkan Kinerja Positif, Laba Bersih Tumbuh Signifikan

Dia mengatakan, memang pada paruh kedua tahun ini, situasi ekonomi dunia masih dihadapkan dalam ketidakpastian. Kendala rantai pasok masih berlangsung, inflasi di beberapa negara maju melonjak tajam sehingga bank sentral di sejumlah negara memutuskan meningkatkan suku bunganya, sampai dengan indikasi kembali terjadi resesi.

Di sektor otomotif misalnya, pasokan semikonduktor sempat terganggu dan kini mulai kembali dibuka. Artinya, produksi mobil dan motor akan mulai bergeliat tapi masih membutuhkan waktu pemulihan setidaknya selama tiga bulan ke depan. Meski begitu, pihaknya meyakini selama pemerintah bisa menjaga pasokan pangan dan energi, maka perekonomian Indonesia masih tumbuh baik.

"Kalau melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia, saya percaya (piutang) pembiayaan masih bisa tumbuh 6-8%, tumbuh moderat. Karena demand (pembiayaan) masih ada," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com