Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Nasabah melakukan transaksi melalui jaringan ATM di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Ilustrasi: Nasabah melakukan transaksi melalui jaringan ATM di pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Laba Terkoreksi 21%, OJK Tetap Minta Bank Siapkan Pencadangan

Sabtu, 31 Oktober 2020 | 19:17 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba bersih industri perbankan sampai dengan Agustus 2020 mencapai Rp 81,42 triliun, terkoreksi -21,83% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 104,16 triliun.

Sementara itu, OJK meminta perbankan tetap waspada dan membentuk pencadangan meskipun akan menggerus profitabilitas.

Hingga Agustus 2020, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dialokasikan perbankan mencapai Rp 288,44 triliun meningkat signifikan 64,68% dari posisi tahun lalu Rp 175,15 triliun. Bahkan, pe ningkatan CKPN mulai terlihat sejak Maret 2020 dimana Covid-19 masuk ke Indonesia.

Meskipun hingga saat ini tren restrukturisasi kredit mu lai melandai dan cenderung flat, perbankan harus melakukan monitoring berkala untuk mencegah penurunan kualitas kredit dengan melakukan pencadangan.

Jika dibandingkan dengan laba bersih bulan Juli 2020 yang tumbuh negatif -22,08%, kontraksi laba perbankan sedikit membaik pada Agustus ini. Berdasarkan statistik perbankan Indonesia per Agustus 2020 yang baru dirilis, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) industri perbankan sebesar Rp 248,97 triliun, mengalami kontraksi -2,57% dari Agustus 2019 yang mencapai Rp 255,55 triliun.

Perbaikan laba juga dipengaruhi pendapatan operasional se lain bunga yang tumbuh le bih tinggi pada Agustus sebesar 8,89% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 280,27 triliun, tumbuh lebih ting gi dibandingkan dengan posisi Juli yang hanya naik 5,4% (yoy).

Ini didorong oleh meningkatnya pendapatan berbasis komisi (fee based income) perbankan melalui transaksi digital.

Lebih lanjut, beban operasional selain bunga perbankan per Agustus naik 11,8% (yoy) menjadi Rp 426,15 triliun. Pendapatan non-operasional juga tumbuh tinggi mencapai 38,60% (yoy) menjadi Rp 21,33 triliun, serta beban non-operasional perbankan tercatat tumbuh 11,47% (yoy) senilai Rp 16,04 triliun.

Wimboh Santoso
Wimboh Santoso

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memprediksi akhir tahun laba perbankan akan mengalami kontraksi -30% hingga -40% (yoy). Namun, hingga Agustus 2020 laba perbankan masih berada pada -20%, artinya kondisi perbankan masih baik hingga saat ini.

Ke depan diharapkan kondisi ekonomi semakin pulih sehingga berdampak pada pendapatan (income) bank sehingga profit bisa terjaga.

"Kami dorong bank bisa cepat pulih, growth lending tinggi dan bisa beri sumber income bank itu sendiri. Tapi perbankan harus waspada jika ada debitur yang butuh perhatian lebih dan tak punya niat baik, harus dibentuk CKPN," kata Wimboh, Selasa (27/10).

Laba Berdasarkan BUKU

Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di mesin Anjungan Tunai mandiri (ATM) di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Jika dirinci berdasarkan kelompoknya, bank umum kegiatan usaha (BUKU) III mengalami koreksi -15,57% (yoy) dari Rp 24,54 triliun menjadi Rp 20,72 triliun per Agustus 2020. Lebih baik dibandingkan dengan kelompok bank BUKU lainnya.

Direktur Finance, Planning, dan Treasury PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu mengungkapkan, perseroan menargetkan pertumbuhan laba sampai akhir tahun adalah Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,2 triliun.

Namun, sudah terpenuhi pada kuartal III-2020 dengan membukukan laba bersih Rp 1,12 triliun meningkat 39,7% (yoy).

"Target laba sampai akhir tahun Rp 1,1-1,2 triliun, Cuma sampai September saja sudah Rp 1,12 triliun. Kami tetap coba tingkatkan laba dan pencadang an juga penting mengingat pandemic harus diantisipasi," jelas Nixon.

Kemudian, laba bersih BUKU IV mengalami kontraksi -24,09% (yoy) menjadi Rp 53,29 triliun dari tahun sebelumnya Rp 80,2 triliun.

Untuk laba bersih BUKU II merosot 25,39% (yoy) menjadi Rp 4,82 triliun, serta BUKU I mencatatkan laba bersih Rp 240 miliar, anjlok 36% dari Agustus 2019 yang sebesar Rp 375 miliar.

Dari data yang dihimpun Investor Daily berdasarkan laporan keuangan bulan Agustus 2020 pada tujuh bank besar, hanya BCA dan Bank Panin yang mencatatkan pertumbuhan positif laba bersih secara bank only. Laba bersih BCA sebesar Rp 18,52 triliun, tumbuh 2,83% (yoy), kemudian laba bersih Bank Panin tumbuh 3,03% (yoy) menjadi Rp 2,04 triliun per Agustus 2020.

Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo mengatakan, secara konsolidasi laba perseroan turun 6,77% (yoy) menjadi Rp 2,34 triliun per kuartal III-2020 akibat pencadangan. Namun, secara individu (bank only), laba Bank Panin masih meningkat 5,2% (yoy).

"Peningkatan pendapatan operasional dikontribusikan oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp 2,26 triliun, naik 79,2%. Hal ini sejalan dengan meningkatnya transaksi surat-surat berharga di tengah kecenderungan penurunan suku bunga pasar," terang Herwid, Kamis (29/10).

Sementara itu, BRI membukukan laba bersih individual Rp 12,42 triliun per Agustus, mengalami kontraksi -35,51% (yoy).

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan, perseroan tetap akan menga lokasikan CKPN yang lebih. Supaya risiko adanya kre dit macet setelah POJK Nomor 11/2020 dicabut bisa diantisi pasi.

"Selain itu hal ini juga mem berikan dukungan bagi per bankan dalam mengelola pen cadangan kerugian. Untuk anti sipasi, CKPN dijaga sehingga rasio NPL coverage 200%," urai Haru.

Per Agustus, Bank Mandiri juga mencatatkan penurunan laba bersih -28,82% (yoy), serta BNI mengalami koreksi cukup dalam mencapai -50,97% (yoy) menjadi Rp 4,36 triliun. Untuk CIMB Niaga, mencetak laba bersih Rp 1,83 triliun, menurun 18,30% (yoy), Bank Danamon juga mengalami pertumbuhan laba bersih negatif cukup dalam -52,34% (yoy) dari Rp 2,35 triliun menjadi Rp 1,12 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN