Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah (kedua kiri), Anggota Dewan Komisioner merangkat Plt Kepala Eksekutif LPS Didik Madiyono (kedua kanan), Plt Direktur Eksekutif Riset, Surveilans, & Pemeriksaan LPS Priyantina (kanan), dan Sekretaris Lembaga LPS Muhamad Yusron pada acara konferensi pers terkait penuruan suku bunga penjaminan simpanan di Jakarta, Jumat (24/1).

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah (kedua kiri), Anggota Dewan Komisioner merangkat Plt Kepala Eksekutif LPS Didik Madiyono (kedua kanan), Plt Direktur Eksekutif Riset, Surveilans, & Pemeriksaan LPS Priyantina (kanan), dan Sekretaris Lembaga LPS Muhamad Yusron pada acara konferensi pers terkait penuruan suku bunga penjaminan simpanan di Jakarta, Jumat (24/1).

LPS Pangkas Suku Bunga Penjaminan Rupiah Bank Umum dan BPR 25 Bps

Prisma Ardianto, Jumat, 24 Januari 2020 | 17:47 WIB

JAKARTA, investor.id - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk menurunkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah bank umum dan bank perkreditan rakyar sebesar 25 basis point (bps). Sementara tingkat bunga penjaminan untuk valuta asing (valas) bank umum masih dipertahankan.

Setelah adanya penurunan suku bunga penjaminan dari LPS sebesar 25 bps, bunga penjaminan rupiah bank umum menjadi sebear 6% dan penjaminan rupiah BPR menjadi sebesar 8,50%. Sedangkan valas tetap sebesar 1,75%. Tingkat bunga penajaminan itu berlaku sejak tanggal 25 Januari 2020 sampai dengan 29 Mei 2020.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menjelaskan, kebijakan penurunan tingkat bunag penjaminan simpanan didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, yakni adanya tren penurunan pada suku bunga simpanan perbankan. Hal tersebut terjadi meski sedikit lebih lambat pasca berakhirnya tren penurunan suku bunga kebijakan moneter pada Oktober 2019 sebesar 100 bps menjadi 5%.

Dia memaparkan, pemantauan suku bunga pasar simpanan (SBP) pada 62 bank menunjukan penurunan sebesar 8 bps dari 5,36% menjadi 5,28%. Itu terjadi pada periode 23 Desember 2019 sampai dengan 22 Januari 2020. Di sisi lain, intensitas persaingan antar bank khususnya simpanan rupiah domestik mengalami tren penurunan.

"Komponen distance margin yang merupakan respresentasi intensitas persaingan antar bank untuk rupiah mulai menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut dan berpotensi mempengaruhi arah tingkat bunga penjaminan," kata dia saat konferensi pers di Kantor LPS, Jakarta, Jumat (24/1).

Kedua, kondisi dan prospek likuiditas perbankan terpantau stabil dengan kecenderungan membaik sejalan dengan pertumbuhan simpanan yang lebih seimbang dengan laju ekspansi kredit.

Berdasarkan data internal OJK, loan to deposit ratio (LDR) perbankan cenderung turun menjadi 92,88% pada November 2019, dari 93,26% pada September 2019.

Adapun pertumbuhan DPK bank umum pada November 2019 naik tipis menjadi 6,72% secara tahunan (year on year/yoy) dari 6,29% yoy di September 2019. Sementara pada saat yang sama, pertumbuhan kredit berada di level 7,05% (yoy) pada November 2019.

Ketiga, yaitu stabilitas sistem keuangan (SSK) yang terjaga seiring membaiknya kinerja pasar keuangan serta adanya sinyal positif dari faktor eksternal. Rata-rata nilai tukar mencapai Rp 13.820/US$, pada periode observasi 23 Desember 2019 hingga 22 Januari 2020. Nilai itu menguat sebesar 1,91% dari rata-rata nilai tukar pada periode observasi sebelumnya.

Secara point to point, Rupiah juga menguat 2,4%, berada di level Rp 13.678/US$ pada 23 Januari 2020 dari periode sebelumnya Rp 14.021/US$ pada 9 Desember 2019.

Sementara itu, suku bunga penjaminan valas masih tetap karena SBP dari 19 bank benchmark terpantau mengalami kenaikan sebesar 1 bps menjadi sebesar 1,06%. Hal tersebut berdasarkan periode obeservasi 10 Desember sampai dengan 22 Januari 2020.

"Diujungnya agak naik, sulit bagi kita menurunkan tapi pasarnya agak naik. Di Indoensia memang terkadang suka terbalik, artinya ketika kebutuhan valas di Indonesi itu naik, biasanya bank-bank di domestik itu merespon dengan menaikkan suku bunga valas," terang Halim.

Kendati demikian, kenaikan suku bunga valas oleh bank sebetulnya berhimpitan dengan membaiknya ekspor Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Dengan begitu, pasar valas juga diharapkan ikut berdampak lebih membaik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA