Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha) berupaya mengembalikan dana nasabah dengan menggugat Kejaksaan Agung lewat pra peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.(Ist)

PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha) berupaya mengembalikan dana nasabah dengan menggugat Kejaksaan Agung lewat pra peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.(Ist)

Mayoritas Nasabah Wanaartha Tidak Paham Isi Polis

Rabu, 17 Juni 2020 | 20:52 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Mayoritas nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha) tidak memahami isi polis yang dibeli. Nasabah lebih berorientasi pada hasil investasi besar dari penawaran agen pemasaran Wanaartha.

Humas Forum Nasabah WanaArtha (Forsawa) Freddy Handojo menyampaikan, mayoritas nasabah tidak mengetahui jika dana yang diinvestasikan digunakan pada instrumen reksa dana saham, obligasi, atau pasar uang. Nasabah pun tidak pernah mendapatkan rincian dari kinerja investasinya.

"Nah, nasabah sendiri tidak ada yang tahu juga isi pasal-pasal yang ada di polis asuransi yang dibeli. Mayoritas tidak baca dan tidak paham. Malah sampai tidak tahu, dikiranya asuransi kecelakaan dan kematian. Yang mana sebenarnya asuransi yang dibeli adalah asuransi kematian yang diakibatkan kecelakaan," kata Freddy kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (17/6).

Dia menambahkan, nasabah hanya mengetahui bahwa uang yang diinvestasikan lewat produk asuransi itu bakal mendatangkan manfaat yang besar, tergantung dari nominal dan lama penempatan investasi. Adapun manfaat imbal hasil dari investasi tersebut dikatakan sebesar 8-10% per tahun dan dibayarkan setiap bulan.

Sementara itu, Dewan Pengawas Forsawa Henry Lukito mengemukakan, pada saat agen pemasaran Wanaartha menawarkan produk asuransi Wana Saving Plus, dirinya memang dijelaskan bahwa penempatan investasi sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lagipula Wanaartha disebut oleh agen pemasaran kala itu turut diawasi oleh OJK.

Dia menyatakan, produk asuransi itu menawarkan imbal hasil yang cukup besar, sekaligus ditambah dengan proteksi diri atas kecelakaan dan kematian. Melihat peluang itu, dirinya memutuskan menjual aset tanah dan mulai membeli produk tersebut pada 30 Oktober 2019 dengan premi sebesar Rp 1,2 miliar.

Berjalannya waktu, sambung Lukito, manfaat imbal hasil dibayarkan sesuai isi di polis oleh pihak Wanaartha. Tidak butuh waktu lama, dia kembali membeli produk dan besaran yang sama karena produk investasi yang berbalut dengan asuransi itu dianggap prospektif.

Namun Lukito mengaku, kini kepercayaannya kepada Wanaartha mulai pudar sejak pembayaran manfaat sempat tertunda. Berdasarkan pernyataan Wanaartha, perseroan tidak bisa membayar manfaat nilai tunai karena rekening efek telah diblokir oleh Kejaksaan Agung.

Rekening efek Wanaartha diblokir oleh Kejaksaan Agung pada 21 Januari 2020 karena disebut terkait dengan kasus tindak pidana korupsi (tipikor) dari PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Pemblokiran yang berakhir penyitaan itu menuai protes dari sejumlah pihak karena mengganggu proses klaim dari nasabah.

Akibatnya, Wanaartha Life mesti menunda pembayaran klaim atau manfaat nilai tunai dari para nasabah setidaknya selama tiga bulan, terhitung mulai Februari 2020. Kini, Wanaartha sedang berupaya mengembalikan dana nasabah dengan menggugat Kejaksaan Agung lewat pra peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Terakhir, sidang mengagendakan mendengar kesaksian fakta diwakili nasabah Wanaartha dan kesaksian ahli.

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN