Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Iustrasi produk asuransi. (Ist)

Mei, Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Rp 64,01 Triliun

Minggu, 12 Juli 2020 | 20:35 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pendapatan premi asuransi jiwa sampai Mei 2020 mencapai Rp 64,01 atau turun sebesar 12,54% secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut sampai akhir tahun ini.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan premi asuransi jiwa Indonesia memang bergerak melambat sejak awal tahun 2020. Pada kuartal I-2020, kinerja pendapatan premi tercatat mencapai Rp 40,76 triliun atau turun sebesar 7,95% (yoy).

Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya Covid-19 di Indonesia pada akhir Maret 2020. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna memutus penyebaran penyakit itu. Namun, dampaknya banyak dari kegiatan perekonomian berhenti, begitu juga pendapatan dari masyarakat yang ikut menurun.

Nampaknya, industri asuransi jiwa secara umum ikut terdampak. Hal itu tercermin dari pendapatan premi per April 2020 yang merosot lebih dalam sebesar 11,61% (yoy) menjadi sebesar Rp 51,95 triliun. Pada periode sama tahun sebelumnya, pendapatan premi mampu dibukukan sebesar Rp 58,78 triliun.

Hal tersebut juga berlanjut sampai bulan Mei 2020 seiring kebijakan PSBB yang masih diberlakukan di sejumlah wilayah. Kebijakan tersebut tidak memungkinkan bagi para agen asuransi jiwa memasarkan produk baru secara tatap muka langsung. Beberapa perusahaan asuransi jiwa hanya bisa menjual sejumlah produk tradisional dan mengumpulkan premi reguler.

Sampai pada akhirnya, berdasarkan diskusi dengan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan para pelaku usaha, di akhir Mei 2020 OJK memberlakukan stimulus lanjutan bagi industri keuangan non bank (IKNB). Dalam hal ini, asuransi jiwa diperbolehkan untuk menjual produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI).

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menyampaikan, penurunan pendapatan premi asuransi jiwa memang sudah terjadi sejak awal tahun. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi sorotan masyarakat atas kasus Jiwasraya dan Bumiputera yang membuat kepercayaan terkait asuransi jiwa menurun. Kinerja itu kemudian kembali merosot karena pandemi Covid-19 yang menyebabkan daya beli nasabah anjlok.

"Pendapatan premi industri asuransi jiwa akan menurun karena nasabah kesulitan membayar premi, begitupun untuk polis baru atau bisnis baru," ucap dia dihubungi Investor Daily, Minggu (12/7).

Menurut Irvan, sejumlah upaya sudah dijalankan perusahaan asuransi jiwa maupun OJK sebagai otoritas terkait. Namun, pendapatan premi diproyeksi masih akan terperosok lebih dalam berapa waktu ke depan, setidaknya sampai akhir tahun ini.

"Asuransi jiwa pada kuartal I-2020 saja sudah negatif secara year on year. Pendapatan premi ini sepertinya akan turun sampai 30-40% di asuransi jiwa," terang dia.

Irvan menyatakan, salah satu hal positif dari musibah pandemi Covid-19 adalah kesadaran masyarakat untuk memproteksi diri melalui asuransi kini telah meningkat. Perusahaan asuransi jiwa juga dipaksa untuk mempercepat infrastruktur digital demi mempertahankan eksistensinya. Sehingga ketika daya beli masyarakat di masa mendatang pulih, maka industri asuransi Indonesia bisa kembali tumbuh signifikan.

"Masyarakat juga kan ada tanggungan di masa mendatang untuk kembali membayarkan kredit-kreditnya yang saat ini direstrukturisasi, misalnya ada yang mendapat penundaan pembayaran angsuran pokok. Itu akan menjadi beban di masa mendatang. Jadi ada kebutuhan, ada kesadaran, dan ada awareness yang lebih baik, cuma daya belinya yang menurun," papar dia.

Klaim Menurun
Di sisi lain, OJK juga mencatat bahwa klaim dan manfaat dibayar industri asuransi jiwa relatif menyusut sebesar 15,30% (yoy) menjadi sebesar Rp 47,35 triliun pada Mei 2020. Sedangkan klaim penebusan unit tercatat naik tipis sebesar 4,63% (yoy) menjadi sebesar Rp 29,34 triliun.

Irvan menilai, penurunan klaim dan manfaat dibayar tersebut karena banyak dari premi yang tertunggak, hal itu mendorong penebusan polis menjadi menurun. Sementara adanya fenomena klaim penebusan unit naik karena kebutuhan dana tunai dari para nasabah turut meningkat.

Pada Mei 2020, banyak dari masyarakat dihadapkan dengan kebutuhan akan hari besar lebaran dan persiapan anak kembali masuk sekolah.

"Klaim penebusan polis naik karena kebutuhan dana tunai selama Covid-19. Beda dengan penebusan polis (klaim dan manfaat dibayar) turun karena premi yang menunggak," ucap dia.

Dengan penurunan klaim dan manfaat yang signifikan tersebut, total beban asuransi jiwa ikut menurun 13,33% (yoy) menjadi sebesar Rp 62,84 triliun. Alhasil, kondisi laba bersih industri asuransi jiwa pun ikut membaik dari Mei 2019 rugi sebesar Rp 5,28 triliun menjadi sebesar Rp 411,57 miliar pada Mei 2020.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN