Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta Foto: IST

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta Foto: IST

Meski Transaksi Digital Ngetren, Bank Tetap Penting

Jumat, 24 Juli 2020 | 10:37 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.idFintech pembayaran digital dan e-commerce kini menjadi tren, meski demikian bank tetap penting. Menurut Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta, tren digitalisasi kini berdampak pada tiga hal.

Pertama, memengaruhi seluruh sendi kehidupan. Kedua, mengubah cara kita bertransaksi, model bisnis, dan behavior. Ketiga, disrupsi fungsifungsi konvensional, termasuk sektor keuangan.

“Pertumbuhan e-commerce semakin meningkat dari penjualannya, transaksinya, sampai permintaan meningkat di masa pandemi Covid-19. Karena akseptasi meningkat, masyarakat juga shifting dari tunai ke nontunai, dan dari yang tidak terbiasa jadi pakai digital,” papar Filia dalam acara Zooming with Primus bertajuk Booming Transaksi Digital yang ditayangkan live di BeritaSatu TV pada Kamis (23/7/2020).

Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV
Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

Hadir pula sebagai pembicara dalam diskusi ini adalah CFO LinkAja Ikhsan Ramdan dan Chief Executive Officer (CEO) DANA Vincent Iswara. Sedangkan sebagai moderator adalah Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu.

Bila transaksi uang elektronik dan transaksi digital banking terus meningkat untuk mendukung masyarakat tetap bertransaksi di tengah pandemi dan pembatasan sosial, lanjut dia, transaksi debit off us kini kembali rebound setelah menurun di masa awal PSBB. BI mencatat, jumlah transaksi debit off us per Juni 2020 sebesar 4,1 juta transaksi, dengan nilai transaksi sebesar Rp 8,63 triliun.

“Nilai tersebut kembali meningkat, sejak penurunan di awal masa pandemi Covid-19. BI juga mencatat peningkatan transaksi e-commerce dan transaksi digital banking naik.

Transaksi uang elektronik hingga Mei 2020 tercatat mencapai Rp 15,03 triliun, terdiri dari transaksi uang elektronik perbankan Rp 1,45 triliun dan transaksi uang elektronik nonbank yang mendominasi mencapai Rp 13,59 triliun,” tutur dia.

Selain memberi peluang, digitalisasi juga ada risiko. Ini adalah tantangan bagi otoritas termasuk BI, untuk balancing pemanfaatan peluang digitalisasi tapi dengan mitigasi risiko juga.

Oleh karena itu, BI mengeluarkan blue print sistem pembayaran Indonesia 2025 untuk percepatan digitalisasi pembayaran ke depan yang handal. Pertama, mendukung integrasi ekonomi keuangan digital sehingga menjamin fungsi bank sentral dalam proses pengedaran uang, kebijakan moneter, dan stabilitas sistem keuangan.

Kedua, mendukung digitalisasi perbankan sebagai lembaga utama dalam ekonomi keuangan digital melalui open banking maupun pemanfaatan teknologi digital dan data dalam bisnis keuangan.

“Kenapa harus bank? Ini karena 80-85% aset sistem pembayaran itu berasal dari perbankan. Kalau mau transformasi, pemain besarnya harus transformasi dulu,” ucap Filia.

Ketiga, menjamin interlink antara fintech dengan perbankan untuk menghindari risiko shadow banking melalui pengaturan teknologi digital. Keempat, menjamin keseimbangan inovasi dibarengi dengan perlindungan konsumen. Kelima, menjamin kepentingan nasional dalam ekonomi keuangan digital.

“Esensi kebijakan dan inisiatif blue print sistem pembayaran 2025 tersebut adalah keseimbangan industri yang inovatif, kolaboratif, dan mengoptimalkan data sebagai barang public dengan tetap menjaga kehandalan dan keamanan,” imbuhnya.

QRIS

Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV
Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

Filia juga mengungkapkan, bank sentral telah merilis Quick Response Indonesian Standard (QRIS) sebagai first mover yang menjadi salah satu solusi untuk memfasilitasi masyarakat dalam bertransaksi.

BI mencatat, hingga 17 Juli 2020 terdapat 4,12 juta merchant di Indonesia yang telah mengimplementasikan QRIS._

Jika dirinci, merchant usaha mikro yang menggunakan QRIS mendominasi yakni mencapai 2,86 juta, disusul usaha kecil sebanyak 705.376 merchant, usaha menengah sebanyak 347.876 merchant, usaha besar sebanyak 197.770 merchant, dan untuk donasi atau sosial 9.559 merchant.

“Dalam waktu 7 bulan sejak di-launching 1 Januari 2020 merchant QRIS sudah ada 4,1 juta. Ini kebanyakan 86% UMKM dan memang sangat cocok untuk UMKM,” papar Filia. Ia menyebut, terdapat dua jenis QRIS, yakni consumer presented mode (CPM) dan merchant presented mode (MPM). Saat ini juga masih tahap pertama, yakni untuk transaksi domestik.

“Nanti tahap kedua kita dorong cross border inbound yaitu QRIS luar negeri bisa dibaca di Indonesia. Untuk tahap kedua ini, BI menyasar wisatawan mancanegara dan TKI, khususnya dari negara Asean, Tiongkok, India, Hong Kong, Korea Selatan, dan Jepang. Tahap ketiga, transaksi outbound, artinya kita bisa transaksi dengan QRIS di luar negeri,” tutur dia.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah manfaat QRIS untuk merchant, antara lain membangun profil kredit sehingga memudahkan pengajuan pinjaman, dan menerima pembayaran dengan lebih higienis karena tidak ada kontak fisik. Transaksi juga tercatat secara langsung dan masuk ke rekening merchant real time, tidak perlu kembalian uang kecil, bebas risiko pencurian dan uang palsu, meningkatkan penjualan karena mengikuti tren digitalisasi, serta biaya yang rendah karena MDR 0% untuk usaha mikro. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN