Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sidang Promosi Doktor Hery Gunardi di Senat Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (29/7/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Sidang Promosi Doktor Hery Gunardi di Senat Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (29/7/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

TOTAL SENILAI RP 3.630 TRILIUN

Nasabah Super Kaya Indonesia Kuasai 54% Simpanan di Perbankan

Kamis, 29 Juli 2021 | 10:44 WIB
Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Jumlah nasabah super kaya perbankan di Indonesia, dengan simpanan di atas Rp 500 juta, saat ini tidak sampai 1% dari total nasabah. Namun, nilai simpanan mereka menguasai sekitar 54% dari total simpanan di perbankan.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Hery Gunardi dalam sidang promosi doktor untuk  program studi  ilmu manajemen, konsentrasi manajemen bisnis pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat,  Kamis (29/7/2021).

Hadir pada kesempatan  itu, di antaranya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II Hatta Rajasa, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza, dan sejumlah direksi bank anggota Himbara.

Hery Gunardi mempertahankan disertasinya berjudul “Pengaruh Daya Saing Bank, Manajemen Risiko Dan Crm (Customer Relationship Management) terhadap Kinerja Private Wealth Management (PWM) dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Bisnis Perbankan Retail.”

Hery Gunardi menjelaskan, dari 115 bank yang beroperasi di Indonesia saat ini, 65% dari pangsa pasarnya dikuasai oleh 10 bank dengan aset tertinggi. “Hal ini memberikan gambaran bahwa daya saing perbankan di Indonesia masih terdistribusi oleh bank-bank tertentu, yang secara bisnis memberikan posisi tawar yang lebih tinggi terhadap derajat persaingan perbankan,” kata dia.

Dari sisi kinerja bisnis, perbankan nasional mencatat prestasi yang meningkat selama lima tahun terakhir. Posisi dana pihak ketiga (DPK) per November 2017 mencapai Rp 5.182 triliun. Posisi ini hampir meningkat 1,5 kali lipat dibandingkan dengan posisi pada tahun 2013, yaitu sebesar Rp 3.655 triliun.

Per akhir Juni 2021, posisi DPK perbankan mencapai Rp 6.723 triliun. Dengan asumsi penguasaan 54%, maka dana milik nasabah super kaya di perbankan mencapai Rp 3.630 triliun.

Jika dikaji lebih dalam, segmen wealth management, yaitu segmen individu dengan tiering portofolio nasabah di atas Rp 500 juta, memiliki proporsi lebih besar dengan pertumbuhan positif dari tahun ke tahun sejak tahun 2013.

Walaupun jumlah rekening segmen wealth tersebut tidak sampai 1% dari total rekening DPK di bank umum, total nominal simpanan menguasai lebih dari 50% total nominal simpanan individual.

Rata-rata pertumbuhan portofolio nasabah segmen wealth (2014–2016) adalah 11,36% dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2014 (15,51%). Pertumbuhan nominal DPK sempat menurun pada tahun 2015 (6,82%), namun kembali meningkat pada tahun 2016 (11,75%). Nominal rekening per November 2017 menunjukkan pertumbuhan 10,26%.

Rata rata nominal DPK segmen wealth selama 2013-2016 menguasai 54,42% porsi dari seluruh rekening DPK individu di Bank Umum. Posisi porsi rekening DPK segmen wealth per November 2017 berada pada posisi tertinggi selama lima tahun, yaitu sebesar 56,44% dari seluruh rekening DPK individu di bank umum.

Rata-rata pertumbuhan jumlah rekening nasabah segmen wealth (2014-2016) adalah 8,62% dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di tahun 2014 (16,18%). Pertumbuhan rekening mulai melandai memasuki tahun 2015, bahkan posisi per November 2017 menunjukkan pertumbuhan jumlah rekening hanya 1,81%. Rata-rata porsi rekening DPK segmen wealth selama 2013-2016 hanya menguasai 0,14% dari seluruh rekening DPK individu di bank umum.

Posisi porsi rekening DPK segmen wealth per November 2017 hanya 0,11% dari seluruh rekening DPK individu di bank umum. Rata-rata saldo per rekening pada segmen wealth adalah Rp 16,6 miliar, sedangkan rata-rata saldo per rekening pada segmen mass adalah Rp 18,7 juta.

Private wealth management (PWM) merupakan salah satu segmen individual di perbankan yang memiliki potensi besar terkait dengan peningkatan fee based income. Jasa PWM mencakup manajemen investasi, perencanaan keuangan pribadi, wealth advisory, perencanaan perpajakan dan estate planning. Manajemen kekayaan mewakili spesialisasi dalam manajemen investasi yang menangani nasabah individu dengan portfolio yang besar.

Menurut Hery Gunardi, tax amnesty dipercaya dapat berdampak pada meningkatnya potensi dana hasil repatriasi, yang akan menambah arus modal masuk ke Indonesia. Di samping itu, arus modal masuk yang ditempatkan dalam bentuk investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memunculkan potensi dampak bagi stabilitas sistem keuangan. Salah satu dampak terdekat dari pemberlakuan tax amnesty ini akan memengaruhi sektor keuangan baik di perbankan maupun nonperbankan.

Bisnis PWM secara umum akan mendorong pertumbuhan bisnis perbankan retail melalui non-interest income /fee based income (FBI), meskipun secara spesifik hal ini belum dinyatakan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Firth et al. (2013) menelaah hubungan antara non-interest income, yang dalam penelitian ini diwakili oleh variabel non-traditional income ratio, terhadap pertumbuhan bisnis perbankan retail. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan bisnis perbankan, yang diukur menggunakan ROA & ROE, pendapatan bank dari kegiatan nontradisional berkorelasi negatif.

Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, masalah pertama yang dapat diidentifikasikan adalah bahwa PWM di Indonesia sudah berkembang cukup pesat, namun belum memberikan keuntungan optimal terhadap industri perbankan, terutama segmen perbankan retail.

Kedua, potensi peningkatan portofolio dan profitabilitas sektor perbankan melalui  segmen PWM sangat besar dengan adanya tax amnesty yang dilaksanakan pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2016 sampai dengan awal tahun 2017. “Akan tetapi, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku perbankan retail di Indonesia,” kata Hery.

Terakhir, PWM di Indonesia segera mengalami persaingan yang lebih ketat dengan mulai masuknya pelaku bisnis PWM dari luar Indonesia, yang memiliki pengalaman dan produk-produk investasi yang relatif lebih baik.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN