Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

New Normal, Industri Fintech Lending Perlu Siapkan Strategi

Prisma Ardianto, Selasa, 30 Juni 2020 | 23:23 WIB

JAKARTA, investor.id - Industri fintech p2p lending dinilai perlu menyiapkan strategi khusus untuk menyambut era normal baru (new normal). Sebab, pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 diprediksi masih akan berlangsung sampai tahun 2021 atau bahkan lebih lama.

Dewan Penasihat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Chatib Basri menyampaikan, perilaku masyarakat yang berubah dan mengarah ke digital, merupakan kesempatan bagi industri fintech p2p lending untuk mengambil pasar. Hal ini didukung adanya keunggulan komparatif yang dimiliki industri berbasis teknologi itu, namun tentunya harus mempunyai daya tahan yang panjang.

"Proses pemulihan di industri keuangan kemungkinan baru bisa di pertengahan tahun 2021 atau bisa lebih lama, karena proses tersebut terjadi di seluruh dunia dan berimplikasi juga ke industri fintech pendanaan bersama. Perusahaan fintech pendanaan bersama harus punya amunisi yang kuat serta memerlukan strategi untuk bisa memiliki nafas panjang," kata dia melalui keterangan tertulis, Selasa (30/6).

Chatib Basri. Foto: twitter
Chatib Basri. Foto: twitter

Hal senada juga disampaikan Dewan Penasihat AFPI dan anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo. Menurut dia, industri fintech p2p lending perlu memperkuat manajemen risiko khususnya di situasi saat ini. Karena masyarakat dan UMKM sebagai pengguna layanan meminta restrukturisasi, sehingga perlu assessment yang baik dengan mempertimbangkan sektor-sektor usaha.

“Ada beberapa penyelenggara yang mengalami peningkatan penyaluran pinjaman, namun ada juga yang mengalami penurunan, oleh karena itu, AFPI harus memperhatikan dengan baik sektor-sektor usaha yang dianggap produktif sebagai strategi industri untuk terus tumbuh sehat dan melayani akses keuangan masyarakat,” ungkap dia.

Adapun Dewan Penasihat AFPI yang juga Rektor Universitas Atma Jaya, Prasetyantoko mengatakan, perlu adanya sebuah transformasi dan akselerasi dalam menghadapi krisis yang terjadi.

"Identifikasi yang mendalam agar dapat bertahan dalam kondisi saat ini menjadi sangat penting, begitu juga kemampuan beradaptasi harus ditunjukkan dalam satu langkah konkret yang jelas," imbuh dia.

Hingga saat ini, industri fintech p2p lending terus meningkatkan kredibilitasnya yang ditandai dengan adanya pemberian izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama masa pandemi Covid-19.

Tidak hanya itu, belum lama ini 3 penyelenggara yang berizin juga mendapatkan kepercayaan untuk kerja sama dalam hak akses validasi data kependudukan dengan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Perdagangan.

Hal lain juga terlihat dari meningkatnya angka penyaluran pinjaman dari seluruh anggota AFPI kepada masyarakat. Berdasarkan data OJK per April 2020, akumulasi penyaluran pinjaman fintech p2p lending naik 186,54% menjadi Rp 106,6 triliun dari posisi periode yang sama tahun lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta menyampaikan, AFPI sebagai perpanjangan tangan OJK diharapkan dapat berkontribusi secara optimal menjadi jembatan antara platform penyelenggara dengan regulator. Utamanya terkait edukasi dan kolaborasi.

“Kami berharap AFPI secara berkelanjutan memberikan edukasi kepada pihak penyelenggara seperti mengenai biaya maksimum 0,8% per hari, terkait pencantuman emergency call penagihan agar diberikan pembatasan yang jelas dalam code of conduct dan dijalankan oleh semua penyelenggara. Selain itu, kolaborasi yang baik bisa dilanjutkan dan kerja sama yang kurang baik bisa ditemukan solusinya,” ujar Tris.

Di sisi lain, Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengatakan keberadaan fintech pendanaan bersama semakin relevan saat ini sebagai sarana untuk memperdalam pasar keuangan di Indonesia. Sebab, digitalisasi menjadi tren industri ke depannya di era normal baru di saat pandemi Covid-19.

“Industri fintech pendanaan bersama memiliki kemampuan beradaptasi sebagai DNA seluruh perusahaan menghadapi situasi dampak pandemi Covid-19. Didukung infrastruktur dan struktur organisasi yang fleksibel, memudahkan industri bertransformasi dan meningkatkan kolaborasi dengan layanan keuangan ekosistem lain. Hal ini sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung peran aktif sebagai solusi penyaluran pinjaman masyarakat khususnya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),” kata Adrian.

Adrian mengemukakan, AFPI melalui para member selama ini membuktikan kolaborasi antara fintech pendanaan bersama dan layanan keuangan konvensional berjalan dengan efektif dan tepat sasaran. Kerja sama tersebut telah berjalan melalui beberapa program seperti channeling dan melakukan assessment terhadap credit scoring atau alternative scoring.

Sementara itu, Ketua Harian AFPI Kuseryansyah menambahkan, selama masa wabah corona ini secara umum penurunan terjadi hampir pada sebagian besar platform penyelenggara fintech p2p lending, namun ada beberapa sektor yang terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan seperti distribusi pada healthcare, khususnya pada UMKM farmasi, obat-obatan dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sektor yang terkait distribusi pangan, produk agrikultur, makanan kemasan, memiliki perkembangan yang positif.

“Di masa wabah Covid-19 ini, ada kabar gembira dari beberapa platform yang tetap mencatatkan pertumbuhan pencairan. Dengan kekuatan inovasi produk dan adaptasi dari artificial intelligent (credit scoring) dalam pengelolaan risiko, mereka masih mencatatkan pertumbuhan spektakuler hingga lebih dari 100%. Tentu saja, hal tersebut dimungkinkan karena dukungan dari lender (pemberi pinjaman) mereka baik institusional maupun individual,” ujar Kuseryansyah.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN