Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto: ISEI Yogyakarta

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Foto: ISEI Yogyakarta

OJK akan Panggil Jusuf Hamka yang Mengaku Diperas

Minggu, 25 Juli 2021 | 07:10 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memanggil pengusaha Jusuf Hamka, untuk mengklarifikasi pernyataannya terkait perbankan syariah di media massa. Pemanggilan tersebut sesuai tugas OJK dalam melindungi konsumen sektor jasa keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, pemanggilan Jusuf Hamka akan dilakukan dengan segera, sehingga permasalahan tidak berlarut-larut dan menimbulkan citra buruk terhadap perbankan dalam negeri, khususnya perbankan syariah.

"Kami akan memanggil yang bersangkutan untuk mengklarifikasi apakah benar pernyataannya seperti itu," kata Wimboh dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/7).

Wimboh meminta nasabah yang memiliki permasalahan dengan perbankan, seperti yang dialami oleh Jusuf Hamka, bisa melakukan pengaduan ke OJK lewat bagian perlindungan konsumen.

"Jadi langkah-langkahnya seperti itu, bila merasa dizalimi atau ada sengketa dengan perbankan, bisa diselesaikan lewat OJK. Kami akan membantu mediasi. Kami sangat terbuka bila ada masalah-masalah," imbuh Wimboh.

Sementara itu, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) angkat bicara terkait polemik Jusuf Hamka dengan sebuah bank syariah swasta yang dinilai kejam terkait pelunasan utang yang dianggap memberatkan.

Sekjen Asbisindo Herwin Bustaman mengatakan, industri perbankan yang di dalamnya termasuk perbankan syariah, merupakan penyedia jasa layanan keuangan yang sangat mengedepankan prinsip kehati-hatian. Selain itu, industri perbankan pun patuh pada regulasi yang ada.

Adapun, khusus perbankan syariah, Herwin menyebut bahwa bank penyedia jasa layanan tentunya harus tunduk patuh terhadap prinsip-prinsip syariah.

Oleh karena itu, terkait dengan polemik yang berkembang di beberapa media massa online antara sebuah bank syariah swasta dengan nasabahnya, perlu dilihat kembali isi akad sindikasi yang telah disepakati bersama.

"Dalam proses penyaluran pembiayaan, apalagi pembiayaan sindikasi yang berskala besar dan melibatkan banyak pihak, tentunya para pihak telah membahas kondisi-kondisi yang tercantum di dalam akad. Termasuk persyaratan pelunasan sebelum ditandatangani oleh para pihak terkait," ujar Herwin.

Asbisindo berharap, keluhan yang beredar saat ini di beberapa media massa online dan media sosial dapat diselesaikan dengan baik.

"Kami pun berharap agar kita semua tetap berprasangka baik, karena kita tidak mengetahui detail dari akad yang disepakati antara nasabah dan bank-bank sindikasi terkait," pungkas Herwin.

Sebelumnya, pengusaha jalan tol Jusuf Hamka mengaku telah diperas oleh sebuah bank syariah swasta. Jusuf dalam podcast Deddy Corbuzier yang tayang di kanal youtube pada Sabtu (24/7) mengatakan, bank syariah tersebut mempersulit ketika ingin melunasi utang sebelum jatuh tempo.

Jusuf mengatakan, perusahaannya di Bandung memiliki pinjaman sindikasi sebesar Rp 800 miliar dengan margin 11%. Lalu pihaknya mengajukan keringanan menjadi 8% karena perusahaannya terdampak pandemi.

Dia bercerita bahwa proses tersebut dipersulit oleh pihak bank syariah swasta tersebut. Karena tidak dikabulkan keringanan margin, maka Jusuf berniat untuk melakukan pelunasan pinjaman. Pada Maret 2021, Jusuf mengirimkan uang senilai Rp 795 miliar kepada bank syariah swasta tersebut untuk melunasi utang.

"Pada 22 Maret, saya kirimlah Rp 795 miliar kira-kira, untuk melunasi utang tersebut, tahu-tahu uang saya masuk di rekening, biasanya kan karena ini sindikasi jadi ada agen, agennya bank itu juga, uang saya tidak didebet langsung. Tidak dibayarkan kepada utang, padahal saya sudah kasih surat kami untuk instruksi pembayaran utang," papar Jusuf dalam tayangan tersebut.

Meski uang telah masuk ke rekening pinjaman, tetapi bank tidak langsung melakukan debet untuk pelunasan dan margin pinjaman terus berjalan. "Bunganya jalan terus padahal utang sudah saya lunasi. Duit sudah di sana, tetapi ini tidak mau diterima," kata dia.  

   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN