Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

PENERBITAN ATURAN PAYDI MOLOR

OJK Buka Wacana Buat Rambu-rambu Penempatan Investasi Asuransi

Kamis, 17 Desember 2020 | 20:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Evaluasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pemasaran produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) menemukan adanya moral hazard yang dilakukan oleh perusahaan asuransi. Hal itu mendorong regulator membuka wacana untuk membuat rambu-rambu lebih lanjut mengenai penempatan investasi. Imbasnya, penerbitan aturan PAYDI diprediksi molor.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2A OJK Ahmad Nasrullah mengungkapkan, pihaknya telah melakukan evaluasi terkait PAYDI sebagai respon dari banyaknya pengaduan nasabah terkait produk tersebut sepanjang 2020. Evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh itu menemukan moral hazard pada perusahaan asuransi yang memanfaatkan celah dari regulasi saat ini.

Dia mengungkapkan, risiko dari PAYDI atau unit linked memang sepenuhnya ada pada nasabah. Dalam hal ini, nasabah memilih produk berikut dengan jenis investasi yang diinginkan seperti saham, reksadana, atau pasar uang. Kemudian, kebijakan investasi sepenuhnya tetap pada perusahaan asuransi.

"Nah di tengah-tengah ada yang miss. Jadi peserta pilih jenis investasinya, tapi penempatan investasi itu terserah si perusahaan asuransi. Di tengah-tengah ini ada moral hazard, mohon maaf, mungkin beberapa (perusahaan) saja. Itu ditempatkan di grupnya, perusahaan afiliasinya. Ketika grup terkena eksposur risiko yang tinggi maka akan ikut berdampak pada hasil dari PAYDI," kata Nasrullah pada diskusi virtual Insurance Outlook 2021 yang diselenggarakan Media Asuransi, Kamis (17/12).

Dia menjelaskan, pada saat penjualan produk PAYDI kerap ditemukan tenaga pemasar hanya mengungkapkan hal-hal manis terkait manfaat asuransi. Akibatnya banyak pengaduan nasabah ke OJK yang menyatakan manfaat tidak sesuai ekspektasi. Hal itu tidak terlepas dari kelayakan proses bisnis perusahaan asuransi dan kemampuan regulasi dari OJK mengantisipasi risiko tersebut.

"Wacananya akan kita buat rambu-rambunya. Silakan saja (PAYDI) ini masih menjadi pilihan peserta, tapi dalam rangka kita mau memberikan perlindungan konsumen kita akan buat rambu-rambunya. Antara lain nantinya kita akan mewajibkan perusahaan asuransi ini harus proper WMI, aktuaris, rambu-rambu investasi, dan segala macam," ujar dia.

Nasrullah mengungkapkan, pengaturan lebih lanjut itu bukan bermaksud mengarahkan kebijakan investasi perusahaan asuransi pada instrumen tertentu saja. Tapi rambu-rambu yang memungkinkan risiko peserta asuransi bisa lebih terukur. Apalagi saat ini OJK sudah memperkenankan relaksasi penjualan PAYDI tanpa tatap muka langsung (non face to face).

Dia mengatakan, relaksasi tersebut juga memiliki risiko tersendiri. Di samping OJK turut berperan mendorong industri asuransi tetap tumbuh, namun OJK juga melihat pengaduan terkait PAYDI berpotensi masih akan berlanjut pada 2021. Maka dari itu pembahasan mengenai permintaan agar relaksasi penjualan PAYDI tanpa tatap muka langsung bisa dipermanenkan masih perlu digodok regulator.

Evaluasi mengenai persoalan produk asuransi berbalut investasi itu pun berimbas pada rencana penerbitan aturan PAYDI terbaru yang direncanakan bisa keluar akhir tahun ini. Setelah pada aturan sebelumnya berlaku untuk asuransi jiwa, di ketentuan PAYDI terbaru juga akan mengatur bagi industri asuransi umum.

"Diharapkan aturan ini bisa level playing field antara asuransi jiwa dan asuransi umum untuk berkompetisi secara sehat, lobang-lobang (moral hazard) sudah kita coba tutup, termasuk perlindungan dari konsumen. Jadi mohon bersabar (penerbitan PAYDI), yang paling penting kan alon-alon asal selamat (pelan-pelan asal selamat)," kata Nasrullah.

Pada kesempatan sama, Wakil Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Maryoso Sumaryono menerangkan, pandemi turut memberi dampak yang signifikan terhadap pendapatan premi asuransi jiwa hingga kuartal III-2020. Terbatasnya aktivitas penjualan secara tatap muka langsung menjadi faktor utama.

"Covid-19 secara keseluruhan juga memberikan tekanan yang cukup signifikan terhadap penurunan pendapatan premi asuransi jiwa sepanjang 2020. Kondisi pasar modal yang tidak menentu mengakibatkan adanya penurunan investasi," terang dia.

Buktinya, kata dia, total premi terkoreksi 7,9% (yoy) menjadi sebesar Rp 133,99 triliun. Penurunan khususnya dipengaruhi premi bisnis baru yang anjlok sebesar 11,5% (yoy) dan premi lanjutan yang melambat 1,9% (yoy). Bahkan sampai dengan akhir tahun 2020 total premi diprediksi akan ditutup sebesar Rp 179,28 triliun atau turun 8,8% (yoy).

Oleh karena itu, relaksasi OJK terkait pemasaran PAYDI atau unit linked Nomor S-18/D.05/2020 yang memungkinkan penjualan secara tanpa tatap muka diapresiasi oleh para pelaku usaha. Relaksasi itu menjadi penting lantaran premi unit linked memiliki kontribusi mencapai 63,9% terhadap total premi asuransi jiwa.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT BNI Life Insurance Eben Eser Nainggolan dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa perseroan masih mampu meraup premi unit linked hingga kuartal III-2020 sebesar Rp 1,45 triliun. Pencapaian tersebut meningkat 2,7% (yoy).

Dengan kinerja tersebut pihaknya pun meraih apresiasi berupa Pengelola Produk Unit Link Terbaik pada ajang Indonesia Customer Experience Award 2020. "Dengan strategi investasi yang prudent, BNI Life senantiasa menjaga kepercayaan nasabah dalam mempercayakan perlindungan finansial dan perencanaan keuangannya kepada kami," imbuh Eben.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN