Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK

OJK

OJK Imbau Asuransi Umum Bersiap Hadapi Normalisasi Kebijakan Restrukturisasi Kredit

Rabu, 30 Maret 2022 | 05:15 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau agar perusahaan asuransi pemasar asuransi kredit bersiap menghadapi normalisasi kebijakan restrukturisasi kredit pada 31 Maret 2023. Guna mengantisipasi kemungkinan terburuk, asuransi umum bahkan diharapkan dapat memastikan ketersediaan dukungan modal tambahan.

Kepala Pengawas Eksekutif IKNB OJK Riswinandi menyampaikan, risiko normalisasi kebijakan domestik akan berdampak cukup besar bagi asuransi umum. Salah satunya adalah terkait dengan restrukturisasi kredit imbas dari pandemi. Kebijakan countercyclical lanjutan memang telah ditempuh untuk menangani hal tersebut, tapi kualitas kredit juga diharapkan mengikuti ketika aturan ini berakhir.

"Ini berpotensi berdampak pada sisi kewajiban dari perusahaan asuransi atas perlindungan atas risiko kredit. Untuk itu perusahaan asuransi perlu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi kemungkinan skenario yang merugikan dengan melakukan penilaian secara detail dan pengujian secara berkala secara teknis, termasuk dengan memastikan ketersediaan dukungan modal tambahan," ungkap Riswinandi dalam 8th International Insurance Seminar 2022 yang digelar hybrid, Selasa (29/3/2022).

Baca juga: OJK Awasi Pemanfaatan Produk Dalam Negeri Pelaku Jasa Keuangan 

Namun lebih dari itu, kata dia, OJK melihat pentingnya mengambil implementasi kebijakan harga dan penjaminan pada asuransi kredit. Terutama pada periode belakangan ini guna menjawab isu seputar ketimpangan tingkat premi yang dibayarkan pemegang polis terhadap risiko yang ditanggung perusahaan asuransi.

"Penerapan strategi pemasaran yang agresif tentu harus dibarengi dengan kebijakan loss underwriting, karena ini berpotensi berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan asuransi dalam jangka panjang. Yang diharapkan pada gilirannya akan mempengaruhi kepercayaan nasabah terhadap kualitas penawaran perusahaan asuransi dalam negeri," jelas Riswinandi.

Sementara dari sisi global, pihaknya turut mengimbau asuransi umum terhadap efek negatif dari risiko normalisasi sejumlah otoritas moneter negara maju untuk menjaga tingkat inflasi. Hal itu tentu akan berdampak pada peningkatan suku bunga.

Terlebih lagi, sambung dia, risiko geopolitik konflik antara Rusia dan Ukraina baik juga berpotensi berdampak pada volatilitas pasar keuangan dan pasar modal. Ekuitas dan aset di pasar negara berkembang dinilai akan ikut terdampak. "Dalam hal ini kami ingin mengimbau perusahaan asuransi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam memitigasi efek risiko terhadap portofolio investasi," ujar Riswinandi.

Baca juga: Terdaftar di OJK dan ISO, Finantier Pertajam Layanan Open Finance Aman dan Teruji

Dia menambahkan, sangat penting bagi seluruh industri asuransi memahami pentingnya mendapat kepercayaan dari masyarakat di masa pemulihan ekonomi nasional ini. Oleh karena itu, diharapkan para pelaku di industri ini membuat rencana bisnis yang jelas, visible, dan lengkap, serta membuat struktur harga premi yang masuk akal jika dibandingkan dengan risiko yang ada.

"Para pelaku industri asuransi juga perlu memiliki komitmen kuat dengan membangun fundamental yang baik, membuat produk yang dapat dimengerti oleh masyarakat, hingga proses klaim yang mudah," pungkas Riswinandi.

Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) pada Selasa (29/3/2022), menyelenggarakan konferensi 8th International Insurance Seminar tahun 2022 di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, secara hybrid untuk pertama kalinya setelah dua tahun pandemi. Acara tersebut mengusung tema 'Potret Terhadap Kesinambungan dan Kekompetitifan: Merespon Pada Perubahan Global'.

Tema ini terisnpirasi dari Presidensi Indonesia G20 bahwa Indonesia berada pada titik krusial dalam proses pemulihan ekonomi nasional. Momentum itu dinilai perlu dimanfaatkan untuk mencapai target nasional, memprioritaskan pada transformasi ekonomi yang akan menjadikan Indonesia negara yang lebih maju.

Baca juga: OJK Serius Menimbang Opsi PKPU Bumiputera

Ketua AAUI HSM Widodo pada pidato pembukaan konferensi menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi nasional khususnya di industri asuransi menunjukkan sinyal yang positif. Dalam hal ini, asuransi kredit pun menjadi sorotan.

"Asuransi kredit contohnya, walaupun mengalami penurunan pada premi tercatat, namun pada premi reserve menunjukkan angka premi yang positif. Artinya usaha yang dilakukan dalam kesinambungan usaha berbuah manis dan tentunya usaha-usaha semacam ini akan terus dilakukan sepanjang tahun," kata dia.

Dia bilang, konferensi skala internasional itu diharapkan dapat memberikan sinyal kepercayaan kepada masyarakat atas pemulihan bisnis asuransi. Berkolaborasi antar institusi, AAUI bersama dengan Indonesia Professional Reinsurance (IPR), dan Konsorsium Asuransi yakin dapat menyajikan sudut pandang luas namun dengan pendekatan spesifik, hingga kerangka kerja praktis dalam manajemen risiko yang menjadi bagian dari kesinambungan bisnis.

Widodo menambahkan, konferensi ini menaruh perhatian pada dorongan untuk meningkatkan keberlangsungan industri dan profitabilitas. Lebih jauh, AAUI juga menandai konferensi ini sebagai tonggak penting dalam proses transformasi para pemimpin masa depan di dunia bisnis asuransi Indonesia.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN