Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sambutan Ketua OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Sambutan Ketua OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

OJK: Industri Asuransi Tak Terimbas Kasus Jiwasraya

Lona Olavia, Kamis, 16 Januari 2020 | 18:17 WIB

JAKARTA, investor.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menegaskan bahwa industri asuransi tak terimbas kasus Jiwasraya. Namun, ia mengakui, industri asuransi membutuhkan perhatian lebih serius dalam hal perbaikan tata kelola dan kinerjanya. Untuk itu, dibutuhkan reformasi dalam bentuk pengaturan, pengawasan dan permodalan.



"Preminya masih tumbuh jadi tidak terimbas isu yang kita tangani, tapi kita butuh perhatian lebih serius karena industri ini belum pernah kita reform berbeda waktu 97-98 kita butuh waktu 5 tahun reformasi," kata Wimboh Santoso pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 yang dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Data premi asuransi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Data premi asuransi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Tahun 2019, industri asuransi mencatat penghimpunan dana yang positif, di mana premi asuransi komersial mencapai Rp 261,6 triliun atau tumbuh 6,1% year on year (yoy).

Menurut Wimboh, OJK juga telah meminta seluruh direksi Lembaga Keuangan Non Bank untuk segera melihat kembali lebih rinci kinerja perusahaannya dan melakukan corrective action yang diperlukan. OJK pun akan mengeluarkan pedoman manajemen risiko dan governance serta format laporan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap kualitas investasi, proyeksi likuiditas dan solvabilitas.



"Kita akan menginstruksikan kepada lembaga jasa keuangan untuk menerapkan risk management, resikonya apa saja, bagaimana penerapannya di setiap lembaga jasa keuangan, yang disesuaikan dengan bisnisnya. Ini penting jangan contek-contekan padahal bisnisnya beda, ada risiko likuiditas," jelas Wimboh.

"Jadi, proyeksi cash flow harus dilakukan, jangka pendeknya, menengah dan panjangnya bagimana. Kalau ada utang jatuh temponya bagaimana, belum lagi ada risiko investasi, seperti nilai saham dan nilai tukar. Perusahaan juga harus memonitor investasinya dan dilaporkan ke top management. Secara rutin juga dilaporkan ke masyarakat dan otoritas, supaya otoritas dapat gambaran potensi risikonya," imbuhnya.

Pernyataan Wimboh menanggapi ramainya pemberitaan kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT ASABRI (Persero). Jiwasraya mengalami gagal bayar polis seiring rugi investasi saham. BPK mencatat kerugian Jiwasraya yang juga dikategorikan kerugian negara mencapai Rp 13 triliun. Adapun kerugian karena investasi saham juga diperkirakan terjadi di ASABRI. BPK sedang merampungkan audit di tubuh asuransi sosial yang menaungi anggota TNI dan Polri itu.

Meski begitu, Wimboh sendiri mengakui, reformasi di industri ini membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk penyelesaiannya.

"Reformasi untuk industri asuransi sudah dimulai sejak 2018. Tapi, penerapannya butuh waktu. Insyaallah di 2020 sudah mulai diterapkan. Ini agenda yang berlanjut karena di perbankan saja perlu waktu lima tahun dari 2000 ke 2005. Kita juga perbaiki ekosistemnya, bukan hanya hilirnya tapi juga hulunya," tandas Wimboh Santoso.

Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menyampaikan Keynote Speech saat acara Investor Awards Best Insurance 2018 di Jakarta, Selasa (24/7). FOTO: UTHAN A RACHIM
Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi. FOTO: UTHAN A RACHIM

Terkait Jiwasraya, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK, Riswinandi mengatakan, saat ini Jiwasraya sudah memiliki upaya menarik para investor strategis untuk mendirikan anak usaha. Nantinya, anak usaha ini diharapkan dapat membantu induk memenuhi perusahaan yang sesuai ketentuan.

"Kalau ada calon investor untuk perusahaan anak, akan kita evaluasi, jangan sampai dia tidak mengerti soal industri asuransi," kata Riswinandi.

Sumber : Suara Pembaruan

BAGIKAN