Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan OJK Supriyono saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel secara virtual dengan tema

Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan OJK Supriyono saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel secara virtual dengan tema "Peluang dan Tantangan Industri Asuransi Menghadapi New Era" yang ditayangkan live Beritasatu TV, Selasa (22/9). (BSMH/Uthan A Rachim)

OJK Minta Asuransi Perbaiki Tata Kelola

Rabu, 23 September 2020 | 10:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) minta perusahaan asuransi untuk memperbaiki tata kelolanya. Model bisnis kini ikut diawasi otoritas, termasuk seputar pengelolaan investasi yang mendapat perhatian khusus agar perusahaan asuransi mendapatkan hasil baik dan mampu memenuhi kewajiban. Dengan tata kelola yang baik, maka industri asuransi bisa berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan OJK Supriyono menyampaikan, perusahaan asuransi mesti melihat risiko dan mitigasi secara pantas, sehingga yang ditemukan saat ini bisa segera diperbaiki di masa mendatang.

"Kita menginginkan perusahaan asuransi ini terus berkiprah. Kita melakukan pendekatan baru dalam pengawasan. Isu investasi menjadi perhatian khusus, bagaimana mengelola investasi ini menjadi lebih prudent, untuk bisa mendapatkan hasil baik dan bisa memenuhi kewajiban," kata Supriyono saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel secara virtual dengan tema “Peluang dan Tantangan Industri Asuransi Menghadapi New Era” yang ditayangkan Beritasatu TV, Selasa (22/9).

Dia menuturkan, tata kelola perusahaan menjadi bagian yang paling disoroti OJK saat ini. Selain karena maraknya kasus gagal bayar perusahaan asuransi, hal tersebut kini menjadi salah satu unsur penting guna menilai tingkat kesehatan perusahaan. Pengukuran tingkat kesehatan dari laporan keuangan sudah mulai ditinggalkan, otoritas sebagai pengawas sekaligus memastikan perlindungan konsumen mesti merangsek model bisnis perusahaan asuransi.

Di samping itu, sambung dia, OJK tetap mendukung kelangsungan usaha perusahaan asuransi dengan memberikan sejumlah relaksasi agar tetap berproduksi saat pandemi Covid-19. Di antaranya penjualan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) dapat dilakukan secara virtual.

Menurut dia, lahirnya relaksasi tersebut memang memberi kemudahan tapi sekaligus menimbulkan risiko baru seperti mis-selling. Dalam hal ini, perusahaan asuransi jiwa khususnya sebagai pemasar bisa melakukan evaluasi secara tepat guna meminimalisir kendala-kendala yang timbul dari sejumlah kebijakan otoritas.

Supriyono mengatakan, pihaknya juga memberikan relaksasi terkait perhitungan aset SBN dan obligasi yang untuk sementara ini hitungannya diamortisasi. Hal itu disebut bisa menolong penilaian aset asuransi di kala pandemi. Namun demikian, OJK juga mendorong agar perusahaan asuransi terus meningkatkan dan memanfaatkan penggunaan teknologi informasi, baik dalam digitalisasi proses bisnis maupun bagi penggunaan di internal perusahaan.

"Pada era ini, industri asuransi mendapat tantangan yang lumayan spesial. Kemarin kita PSBB, kasus meningkat, kemudian PSBB lagi. Ini sangat berpengaruh terhadap industri kita bersama. Kalau kita cermati, kita belum bisa menyimpulkan pandemi ini akan berakhir. Kita perlu menjaga protokol kesehatan dan diharapkan ekonomi bisa membaik dan memberi impact kepada industri asuransi," ucap Supriyono.

Dia menambahkan, segala bentuk penghargaan yang telah dan baru diperoleh setiap perusahaan asuransi seyogianya bisa dipertahankan. Artinya, hal tersebut erat kaitannya dengan risiko reputasi yang kini turut serta ikut disoroti OJK. “Penghargaan yang diperoleh bisa menjadi acuan para nasabah untuk kemudian membeli produk asuransi, jangan sampai suatu ketika kepercayaan nasabah tersebut dicederai dan merusak reputasi,” jelas dia.

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN