Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK.

OJK.

OJK Optimistis Kebijakan ATMR Dorong Perekonomian

Jumat, 26 Februari 2021 | 21:33 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kebijakan lanjutan yang diberikan terkait pelonggaran aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) diyakini bisa mendorong konsumsi masyarakat.Hal tersebut diharapkan akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, karena memiliki multiplier effect.

"Mulai 1 Maret DP 0% itu berlaku jadi sudah waktunya beli, kita sinergi dengan policy BI dengan kita longgarkan ATMR. Kita optimistis ini bisa jadi bagian untuk mendorong ekonomi, kita ikhtiarnya itu, mudah-mudahan kalau bisa beli kendaraan nanti bisa bergulir dan multiplier effect-nya luas," jelas Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Bambang Widjanarko, Jumat (26/2).

Dengan menurunkan ATMR dari 100% menjadi 50%, OJK tetap mewanti-wanti perbankan untuk mengimplementasikan stimulus yang diberikan dengan prinsip kehati-hatian.

"Dalam beberapa hal sudah ada pembinaan dan sudah lewat surat juga bahwa mereka kalau melakukan harus dengan manajemen risiko dan dan lihat kondisi masing-masing bank. Artinya bank harus menyiapkan manajemen risiko yang baik," sambung dia.

Menurut Bambang, perbankan boleh memberikan stimulus berupa DP 0% kepada debitur, namun tetap melihat kondisi bank itu sendiri.

"Jangan tinggalkan prinsip kehati-hatian, kalau istilahnya bank berikan kepada individu tapi tidak melihat kondisinya kan itu tidak bagus untuk bank," kata Bambang.

Tantangan Perbankan

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta


Di sisi lain, Bambang menyebut terdapat tantangan yang dihadapi perbankan di masa pandemi Covid-19, antara lain tantangan jangka pendek dan tantangan struktural.

"Tantangan jangka pendek itu tergantung bagaimana daya tahan perbankan menyerap kerugian (CKPN) sebagai dampak dari restrukturisasi kredit," ujar Bambang.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, OJK juga sudah mengeluarkan kebijakan untuk restrukturisasi kredit debitur terdampak Covid-19 dengan POJK 11/2020 dan diperpanjang dengan POJK 48/2020 yang berlaku hingga Maret 2022. "Tantangan jangka pendek pun kita tidak bisa menentukan sampai kapan terjadinya, ya baru bisa selesaikan ketika pandemi Covid-19 berakhir. Semoga plan pemerintah untuk vaksinasi secara besar besaran cepat terjadi, agar pemulihan ekonomi cepat terjadi juga," imbuh dia.
 
Kemudian, tantangan struktural merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yaitu adanya perubahan ekosistem dan perubahan perilaku masyarakat yang mengarah pada pemanfaatan digitalisasi.

"Mulanya kami pun memahami perkembangan teknologi akan berkembang besar dengan adanya pandemi perkembangan ini jauh menjadi lebih cepat," ucap Bambang.

Pihaknya juga mengaku, OJK terus mengembangkan teknologi untuk pengawasan industri jasa keuangan, termasuk perbankan. "Yang kedua, adanya perubahan behaviour masyarakat, masyarakat menjadi lebih menyukai teknologi," tutup dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN