Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Sumber: akun instagram OJK Indonesia

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Sumber: akun instagram OJK Indonesia

OJK: Penyaluran Pembiayaan Portofolio Hijau Perbankan Capai Rp 809,75 Triliun

Selasa, 15 Juni 2021 | 22:11 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penting untuk melakukan penerapan keuangan berkelanjutan guna menjaga keberlangsungan generasi mendatang. OJK juga mencatat, hingga saat ini industri perbankan telah menyalurkan pembiayaan pada portofolio hijau sebesar Rp 809,75 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia telah memicu krisis ekonomi yang sifatnya extraordinary dan sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi pentingnya penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata Kelola (ESG). Ketiga aspek tersebut hendaknya dapat menjadi pengingat bagi seluruh perusahaan termasuk sektor jasa keuangan untuk memperhatikan keseimbangan alam, mengubah pola hidup, proses produksi dan pola konsumsi yang ramah lingkungan, dan menerapkan agenda sustainability untuk menjamin keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Terdapat dua agenda besar dunia dan saling terkait dimana Indonesia terlibat dalam proses penyusunan hingga menyatakan komitmen untuk melaksanakan agenda tersebut, yaitu tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), dan perubahan iklim/climate change. Dua agenda tersebut masing-masing telah diratifikasi dalam Undang Undang No 16/2016 tentang pengesahan Paris Agreement, dan Perpres No 59/2017 tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

"Stakeholder telah merespon kebijakan-kebijakan OJK dalam bidang keuangan berkelanjutan, antara lain implementasi pembiayaan berkelanjutan di 8 bank peserta pilot project first movers, yang dilanjutkan dengan bergabungnya 5 bank lain. Penyaluran portofolio hijau pada perbankan sekitar Rp 809,75 triliun," terang Wimboh dalam webinar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) pada Selasa (15/6).

Kemudian, penerbitan green bonds PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp 500 miliar. Peningkatan nilai indeks SRI Kehati sehingga saat ini telah memiliki dana kelolaan sebesar Rp 2,5 triliun. Serta penerbitan ESG leaders index oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mewadahi permintaan yang tinggi atas reksadana dan ETF bertema ESG.

"Sebagai satu-satunya negara anggota G20 dari Kawasan Asia Tenggara, Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisi kepemimpinan di Kawasan dan menjadi jembatan bagi suara kolektif negara- negara yang tergabung di ASEAN khususnya untuk implementasi keuangan berkelanjutan," sambung Wimboh.

Hingga saat ini, Sustainable Banking Network (SBN) telah menempatkan Indonesia bersama Tiongkok sebagai negara first mover/mature dalam implementasi keuangan berkelanjutan. Tentunya hal ini akan terus ditingkatkan untuk dapat masuk ke tahap berikutnya yaitu mainstreaming behaviour changes atau pembiasaan perubahan sikap secara keseluruhan.

Wimboh juga mengingatkan urgensi penerapan keuangan berkelanjutan. Untuk dapat mencapai komitmen dan implementasi keuangan berkelanjutan diperlukan perubahan pola pikir bahwa faktor risiko lingkungan hidup dan sosial merupakan peluang sekaligus tantangan bagi sektor jasa keuangan untuk dapat menciptakan pembiayaan inovatif dan sekaligus melakukan transisi dari business as usual ke pendekatan sustainability business.

"Dalam hal ini, peran OJK menjadi sangat penting dan strategis untuk mempercepat implementasi keuangan berkelanjutan, sejalan dengan usaha menjaga kestabilan ekonomi dan keuangan dari dampak pandemi Covid-19. Untuk itu, kolaborasi yang bersifat domestik dan global perlu terus dibangun sesuai dengan arah ke depan yang telah dibentuk oleh komunitas global antara lain World Bank, IMF dan OECD," papar Wimboh.

Apabila keseluruhan strategi dan kolaborasi tersebut telah dilakukan secara optimal, maka seluruh investasi yang dilakukan akan sepenuhnya mengadopsi investasi hijau dimana setiap keputusan yang diambil akan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola.

OJK juga telah menerbitkan berbagai regulasi untuk mendukung implementasi keuangan berkelanjutan termasuk diantaranya POJK No.51/POJK.03/2017 mengenai penerapan keuangan berkelanjutan untuk Lembaga Jasa Keuangan (LJK), emiten dan perusahaan publik, serta POJK No.60/POJK.04/2017 dan KDK No.24/KDK.01/2018 mengenai penerbitan green bond.

Selain itu, OJK juga telah mengeluarkan insentif untuk mendukung kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL BB) melalui pengecualian BMPK dalam proyek produksi KBL BB, serta keringanan penghitungan ATMR dan penilaian kualitas kredit dalam pembelian KBL BB oleh konsumen.

"Ke depan, OJK telah mengidentifikasi beberapa program dan menjadikan keuangan berkelanjutan sebagai salah satu inisiatif strategis OJK, antara lain penyusunan taksonomi sektor hijau, yang dapat dijadikan panduan untuk mengembangkan inovasi produk dan/atau jasa keuangan berkelanjutan. Kemudian, pengembangan insentif dan disinsentif keuangan berkelanjutan, peningkatan capacity building bagi internal maupun eksternal (LJK), serta pengembangan strategi komunikasi keuangan berkelanjutan," pungkas Wimboh.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN