Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor OJK/David Gita Rosa

Kantor OJK/David Gita Rosa

OJK Perpanjang Restrukturisasi Kredit

Sabtu, 26 September 2020 | 10:34 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperpanjang program restrukturisasi kredit bagi debitur perbankan yang terdampak pandemi Covid-19. Syaratnya, debitur harus memiliki prospek bisnis yang bagus dan berpotensi bangkit pascapandemi.

Semula, batas stimulus restrukturisasi kredit berakhir pada Maret 2021. Beleid tersebut dituangkan dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya sudah berdiskusi dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan industri perbankan untuk memberikan perpanjangan relaksasi kredit kepada para debitur yang memerlukan bantuan supaya usahanya bisa pulih kembali.

Namun, menurut dia, terhadap debitur yang sudah menyerah dan usahanya tidak bisa bangkit, OJK memutuskan untuk tidak memperpanjang program stimulus tersebut. Perihal langkah eksekusi, OJK akan menjelaskannya lebih lanjut.

“Tinggal bagaimana eksekusinya. Jadi, kalau ada nasabah yang jatuh tempo Februari 2021, perpanjang saja. Untuk perpanjangan, tetap praktisi tolong dilihat, apabila nasabah sudah angkat tangan, tidak bisa berusaha lagi, jangan diperpanjang, kecuali ada semangat dan ada hope, silakan saja. Jadi, apa POJK 11 akan diperpanjang? Ya, akan diperpanjang,” ujar Wimboh dalam webinar Perbanas Institute di Jakarta, Jumat (25/9).

Wimboh Santoso. Foto: IST
Wimboh Santoso. Foto: IST

Wimboh Santoso menjelaskan, regulasi mengenai restrukturisasi kredit melalui POJK 11/2020 dibuat dengan asumsi dampak Covid-19 tidak lebih dari satu tahun. Namun, nyatanya dampak pandemic corona meluas, membuat pengusaha tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada perbankan. Menurut dia, restrukturisasi kredit akan berdampak pada profitabilitas perbankan. Soalnya, bank tidak akan mendapatkan pembayaran bunga atau pokok pinjaman dari debitur, seperti kondisi normal. Oleh karena itu, OJK mewanti-wanti perbankan untuk selalu memantau perkembangan profitabilitasnya.

Hingga Agustus 2020, laba sebelum pajak industri perbankan mengalami kontraksi 18,36% secara tahunan (year on year/yoy).

Sedangkan pada Juli, laba sebelum pajak terkontraksi 18,99%. Selain itu margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terpangkas ke level 4,43% dibandingkan bulan sebelumnya 4,44 

Profit and loss tolong ditrack setiap bulan, sehingga bisa dilihat betul profit loss perbankan. Jika mengalami kontraksi, tolong simulasikan agar tidak terlalu dalam. Profitabilitas bank turun 18,36% pada Agustus 2020. Itu adalah penurunan pendapatan, tidak bisa menutup biaya-biaya, terutama biaya bunga,” papar dia.

Realisasi restrukturisasi kredit
Realisasi restrukturisasi kredit

Sampai 7 September 2020, kata Wimboh Santoso, realisasi restrukturisasi kredit industri perbankan mencapai Rp 878,57 triliun dari 7,38 juta debitur. Rinciannya yaitu segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp 359,11 triliun dari 5,82 juta debitur, sedangkan segmen non-UMKM mencapai Rp 519,46 triliun dari 1,44 juta debitur.

“Kalau cash flow tidak kuat bisa negatif. Untuk itu kita harapkan sesegera mungkin bangkitkan ekonomi, sehingga tidak terlalu lama. Dari dua sisi, bagaimana demand dipercepat dan insentif bisa diberikan ke debitur,” tandas Wimboh.

Menurut dia, lebih mudah membangkitkan UMKM, khusus nya di daerah, melalui berbagai stimulus pemerintah. Itu karena kebutuhan UMKM tidak terlalu besar.

“Untuk menghidupkan UMKM lebih gampang melalui kebijakan stimulus, seperti bansos, spending pemerintah untuk meng-generate demand, dan insentif ke pengusaha, seperti subsidi bunga 6% pada tiga bulan pertama dan kemungkinan diperpanjang ke tiga bulan berikutnya 6% juga.  Ada penjaminan oleh Askrindo dan Jamkrindo,” ujar dia.

Wmboh Santoso juga mengungkapkan, indikator keuangan perbankan masih dalam kondisi baik meskipun risiko kredit meningkat. Permodalan bank masih tinggi, dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,16% per Agustus, meningkat dari Juli 23,10%. Likuiditas juga masih longgar dengan loan to deposit ratio (LDR) 85,11%.

Kinerja dan rasio bank umum
Kinerja dan rasio bank umum

OJK mencatata, hingga kini terdapat ekses likuiditas perbankan senilai Rp 600 triliun. OJK akan menjaga likuiditas agar tidak terjadi segmentasi. Selain itu, tren bunga kredit se makin turun. Percepatan penurunan bunga kredit akan memberikan ruang bagi pemulihan usaha.

“Ke depan, yang utama adalah bagaimana demand bisa distimulasi melalui berbagai upaya, termasuk lewat pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat, stimulus pemerintah, dan berbagai kebijakan lainnya. Kami harapkan perbankan ikut mempercepat demand itu. Pemerintah yang di depan men-stimulate demand, bagaimana demand korporasi didorong lebih massif lagi,” ucap Wimboh.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN