Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto. (Investor Daily/Nida Sahara)

Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto. (Investor Daily/Nida Sahara)

OJK Segera Terbitkan Beleid terkait Bank Digital

Kamis, 18 Februari 2021 | 14:48 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons perkembangan digitalisasi dengan rencana diterbitkannya peraturan terkait bank digital pada semester I-2021. Hal tersebut menindaklanjuti rencana perbankan yang akan melakukan transformasi menjadi bank digital.

Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto mengungkapkan, OJK telah melakukan tahap rule-making-rule bersama dengan perbankan dan akan meminta masukan dari asosiasi dan lembaga lainnya.

Nantinya, ada dua jenis bank digital, yakni bank digital yang baru didirikan dan transformasi bank eksisting menjadi bank digital. "Rencananya, kami komit sebelum pertengahan tahun ini mudah-mudahan sudah kita rilis POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) ini," ungkap Anung, dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/2).

Dia memaparkan, untuk pendirian bank digital baru, OJK memberikan syarat kepada investor, yakni dengan modal minimal Rp 10 triliun. Selain itu, ada persyaratan minimal bank digital memiliki satu kantor pusat dan seluruh layanannya dilakukan secara digital.

Kemudian, menyampaikan model bisnisnya kepada OJK untuk fokus segmennya serta kapabilitas teknologi yang dimiliki. Terakhir, memiliki kemampuan mengelola bisnis bank yang prudent dan berkesinambungan, serta konsep perlindungan data nasabah.

Namun, Anung menegaskan bahwa persyaratan tersebut masih dalam bentuk draf yang belum final.

"Ada pendirian baru full digital. Jadi, investor sampaikan proposal dulu, lalu, ada transformasi bank eksisting, seperti Bank Jago, Sea Group, yang masuk melalui Shopee di bank BKE, dan BCA yang konversi Bank Royal. Jadi, bank digital itu transformasi dari eksisting menjadi bank digital," jelasnya.

Untuk Bank Digital BCA, karena masuk dalam grup BCA, tidak diwajibkan memenuhi permodalan Rp 3 triliun sesuai dengan aturan modal inti minimum bank dalam POJK terkait konsolidasi.

Banl Digital BCA pun diperbolehkan hanya memiliki modal minimal Rp 1 triliun. Sedangkan untuk bank BKE perlu memenuhi ketentuan modal inti Rp 3 triliun pada 2022 mendatang.

"Kalau bank eksisting ke digital, apa modalnya Rp 10 triliun juga? Tidak, kalau stand alone bank, sesuai POJK, konsolidasi modal inti minimal Rp 3 triliun (tahun 2022). Kalau dalam satu kelompok bank Rp 1 triliun, seperti Bank Royal milik BCA. Untuk stand alone bank transformasi seperti BKE lewat Shopee harus Rp 3 triliun," urai Anung.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menambahkan, OJK terus membuat peraturan di tahun ini dan akan ditujukan terkait dengan bank digital. "Harapan dalam waktu dekat," tutur Heru.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN