Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sambutan Ketua OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Sambutan Ketua OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 10-12% Tahun Ini

Jumat, 17 Januari 2020 | 08:24 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasang target pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11% plus minus 1% atau 10-12% (yoy) pada tahun ini, dengan tingkat risiko tetap terjaga rendah. Dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) juga ditargetkan ekspansi kredit akan tumbuh sebesar 10%.

Target tersebut di atas pencapaian pertumbuhan kredit di tahun 2019 yang hanya 6,08% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 5.616,81 triliun, tetapi lebih rendah dari tahun 2018 yang sebesar 11,8% (yoy), seiring dengan lemahnya permintaan komoditas global.

 

Terkait prospek ekonomi tahun ini, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memperkirakan masih akan diwarnai dengan downside risks dari perlambatan ekonomi global dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan.

“Namun demikian, dengan selesainya beberapa proyek infrastruktur strategis dan konsistensi pemerintah menjalankan reformasi struktural, termasuk terobosan melalui hadirnya beberapa omnibus law, OJK optimistis perbaikan pertumbuhan ekonomi dan kinerja sektor jasa keuangan yang positif akan berlanjut di 2020,” katanya pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (16/1).

Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan yang digelar OJK dan dihadiri Presiden Joko Widodo. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Wimboh menjelaskan, pembiayaan perbankan melalui pembelian instrumen surat berharga menunjukkan peningkatan sebesar 15,8% (yoy) menjadi Rp 97 triliun, sedangkan pembiayaan offshore dari kantor perwakilan bank luar negeri juga mengalami peningkatan 133,6% (yoy) menjadi Rp 130,4 triliun.

Dengan data tersebut, OJK melihat secara keseluruhan pembiayaan perbankan mampu tumbuh 9,2% (yoy) mencapai Rp 549,6 triliun. Meski demikian, realisasi pertumbuhan kredit perbankan masih jauh dari target OJK yang sebelumnya ditetapkan sebesar 9-11% (yoy).

Data premi asuransi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Data premi asuransi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

“Ada fundamental korporasi kita yang menggunakan sumber dari offshore, pembiayaan offshore itu Rp 133,6% tentunya perbankan juga investasi ke SBN 15,8%, jadi walaupun kredit 6,08% tapi pembiayaan perbankan sebesar 9,2%. Tahun ini targetnya kredit tumbuh 11% plus minus 1%,” jelas Wimboh.

Jika dirinci, pertumbuhan kredit perbankan didominasi oleh bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV yang tumbuh 7,8% (yoy) sepanjang 2019, lebih rendah dari tahun 2018 yang sebesar 12,3% (yoy). Untuk bank BUKU III mencatatkan pertumbuhan tipis yakni hanya 2,4% (yoy), BUKU II tumbuh 8,4% (yoy), dan BUKU I mencatat peningkatan 6,4% (yoy).

Pertumbuhan kredit didominasi Bank BUKU IV. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Pertumbuhan kredit didominasi Bank BUKU IV. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Sementara itu, berdasarkan kepemilikannya, kredit dari bank pelat merah atau badan usaha milik Negara (BUMN) tumbuh 8,5% (yoy) atau lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 14,1% (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh sektor konstruksi yang tumbuh 14,61% (yoy) diikuti oleh sektor rumah tangga yang tumbuh 6,59% (yoy).

Sejalan dengan itu, kredit investasi meningkat 13,18% (yoy) yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor riil ke depan. Pada kuartal berikutnya, pertumbuhan kredit diprediksi dapat meningkat seiring dengan pelonggaran kebijakan kredit bank untuk sektor kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) yang ditunjukkan oleh indeks lending standard di kuartal IV yang menurun.

Pertumbuhan kredit dan DPK. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Pertumbuhan kredit dan DPK. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Lebih lanjut, Wimboh mengatakan, stabilitas sektor jasa keuangan juga dapat terjaga dengan baik dengan didukung tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai serta profil risiko yang terjaga. Capaian tersebut merupakan modal yang penting bagi industri keuangan untuk dapat tumbuh lebih baik dan meningkatkan perannya sebagai katalis dan motor penggerak reformasi struktural ekonomi nasional.

Tingginya tingkat permodalan tersebut di satu sisi memberikan bantalan yang kuat bagi industri keuangan mengarungi kondisi pasar keuangan yang fluktuatif di tahun 2019. Namun di sisi lain juga mencerminkan bahwa ekspansi kredit dan pembiayaan masih perlu dioptimalkan.

Data suku bunga kredit. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Data suku bunga kredit. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Pertumbuhan kredit pada 2019 diikuti dengan profil risiko kredit yang terjaga, dimana rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross perbankan relatif rendah sebesar 2,53%, naik dari tahun 2018 di posisi 2,37%. Sedangkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan masih cukup tinggi di level 23,3%, dengan likuiditas cukup ketat tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) di posisi 93,6%, menurun dari tahun sebelumnya 94,0%.

Tidak Terlalu Tinggi

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, target kredit 10-12% tersebut tidak terlalu tinggi, meski pertumbuhan 2019 hanya 6,08%.

Heru Kristiyana. Foto: IST
Heru Kristiyana. Foto: IST

“Itu kan hanya kredit perbankan, jangan lupa tadi disebutkan masih ada offshore Rp 130 triliun, dan bank kan juga menanamkan dana di SBN Rp 700 triliun, artinya perbankan ikut membiayai pembangunan hanya dengan cara berbeda,” kata Heru.

Menurut dia, masih ada potensi dari proyek pemerintah seperti infrastruktur yang belum selesai dan nantinya dibiayai oleh perbankan.

Di samping itu, masih banyak cara yang bisa dilakukan perbankan, bisa melalui kredit langsung, pembelian obligasi korporasi, obligasi pemerintah, bisa juga dari dana bank asing untuk disalurkan ke proyek di sektor riil Indonesia.

“Jangan malah dibilang perbankan malas, kan banyak caranya,” katanya.

Ditemui pada kesempatan yang sama, sejumlah bankir mengakui adanya perlambatan permintaan kredit pada akhir tahun lalu yang membuat pertumbuhan kredit tidak setinggi tahun sebelumnya.

Achmad Baiquni. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Achmad Baiquni. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Achmad Baiquni mengungkapkan, penyaluran kredit perseroan hingga akhir 2019 tidak jauh berbeda dari industri perbankan yang sebesar 6,08% (yoy). Namun masih lebih tinggi dari industri, meskipun lebih rendah dari tahun 2018.

“Tahun 2019 rendah, mendekati angka industri, tapi kita di atas itu, sekitar itu lah (7-8%). Karena akhir tahun itu perusahaan BUMN menurunkan kreditnya karena mereka menerima pembayaran, jadi menurunkan kreditnya, itu biasa terjadi menjelang akhir tahun,” jelas Baiquni.

Baiquni menyebut, pertumbuhan kredit tahun lalu disumbang dari kredit segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sedangkan kredit segmen korporasi kurang tinggi karena ada penurunan permintaan dari debitur korporasi.

“Masih dari UMKM yang tinggi dorong kredit tahun lalu, kalau korporasi itu masih ada penurunan permintaan kredit karena adanya pembayaran,” lanjut Baiquni.

Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Foto: Investor Daily/David GITA ROZA
Taswin Zakaria, Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Foto: Investor Daily/David GITA ROZA

Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk Taswin Zakaria juga mengaku kredit tahun lalu cukup tertekan, karena adanya perlambatan kredit dari segmen komersial. Hal tersebut membuat total kredit tercatat minus.

“Kami turun, memang korporasi masih tumbuh, tapi non korporasi itu turun, jadi totalnya minus. Karena pertumbuhan bagusnya korporasi itu belum bisa dorong pertumbuhan non korporasi,” terang Taswin.

Untuk tahun ini, perseroan menyebut kredit bisa tumbuh, tapi masih single digit, sekitar 8-9% (yoy). Tahun ini perseroan juga akan fokus pada kredit korporasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) yang dinilai dapat mendorong pertumbuhan kredit secara keseluruhan.

“Tahun ini bisa lah tapi masih single digit ya, kita 8-9% mungkin harapannya tahun ini. Kita berharap masih dari korporasi dan SME,” kata Taswin.

Royke Tumilaar. Foto: IST
Royke Tumilaar. Foto: IST

Setali tiga uang, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengaku, pertumbuhan kredit tahun lalu tidak mencapai target, pasalnya

“Kredit tidak sampai target, tahun ini pelan lah, masih slow. Infrastruktur tetap, ritel juga tahun ini, pertumbuhan kredit masih pelan,” ucap Royke.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, sepanjang tahun 2019 perseroan mencatat pertumbuhan kredit lebih tinggi dari industri yakni 9,3% (yoy). Namun, jika dibandingkan dari tahun 2018 cenderung melambat dari pertumbuhan sebesar 13% (yoy).

Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL
Jahja Setiaatmadja. Foto: DEFRIZAL

“Tahun lalu lumayan kita 9,3% dan DPK kita naik 10,9%. Kemarin industri 6% kita bisa 9,3%, sebelumnya juga 2018 industri 11% kita 13%,” kata Jahja.

Untuk tahun ini, perseroan memasang target pertumbuhan kredit sebesar 9% (yoy). Menurut dia, di awal tahun perseroan tidak berani untuk memasang target terlalu tinggi. “Di awal kita tidak berani terlalu optimis, tapi kalau permintaannya besar kan bisa lebih tinggi,” ucap Jahja. (b1/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN