Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

OJK Tegaskan Aturan Baru Unit Link Keluar Tahun Ini

Kamis, 16 September 2021 | 23:38 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan aturan baru mengenai produk asuransi yang dikaitkan dengan asuransi (PAYDI) atau unit link akan dikeluarkan tahun ini. Beleid yang nantinya berupa Surat Edaran (SE) itu berupaya memastikan pemahaman pemegang polis dan transparansi lebih dari perusahaan asuransi.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi menyampaikan, produk unit link sudah memiliki portofolio yang cukup besar terhadap perolehan premi asuransi. Namun demikian, penyempurnaan pengaturan perlu dilakukan meski pandemi Covid-19, berikut dengan banyaknya pengaduan yang terjadi.

"Di aturan ini kita juga minta transparansi biaya-biaya, seperti biaya proteksi atau biaya penghentian polis. Memang ini perubahannya agak drastis, beberapa hal masih dikoordinasikan. Kita punya target dalam tahun ini aturan terbarunya keluar berupa SE," beber Riswinandi, Kamis (16/9).

Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menyampaikan Keynote Speech saat acara Investor Awards Best Insurance 2018 di Jakarta, Selasa (24/7). FOTO: UTHAN A RACHIM
Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi  FOTO: UTHAN A RACHIM

Dia menjelaskan, beleid terbaru unit link nantinya mengatur supaya perusahaan asuransi hanya bisa menjual kepada calon pemegang polis yang mengerti karakteristik produk. Karena berdasarkan temuan OJK, banyak dari pemegang polis unit link protes bahwa nilai unitnya menurun. Hal itu seharusnya dipahami nasabah karena penempatan investasi banyak dilakukan di pasar modal yang fluktuatif, apalagi melihat kondisi saat ini.

"Ilustrasi selama ini investasi di pasar modal itu positif terus, dengan adanya kejadian saat ini, harga saham fluktuatif, investasinya tidak sesuai dengan yang ada di ilustrasi. Karena tidak mengerti akhirnya protes, melaporkan kemana-mana bahwa ini ada penggelapan di perusahaan asuransi," terang Riswinandi.

Dia menuturkan, SE ini intinya bagian dari upaya OJK untuk membatasi adanya perselisihan antara perusahaan asuransi dan nasabah. Selain nasabah yang harus benar-benar mengerti karakteristik produk, perusahaan asuransi juga didorong untuk lebih transparan, sebagai bentuk edukasi pada nasabah memutuskan kebijakan investasinya. Apalagi jika dari kacamata perusahaan asuransi, risiko produk unit link ditanggung oleh para pemegang polis.

"Perusahaan asuransi juga perlu transparan terkait penempatan investasi. Kemudian yang lebih penting adalah bagaimana pemegang polis mengerti posisinya, di dalam tagihan premi sekarang kita minta harus ada hasil unit investasi dan berapa lama harus bayar premi. Jadi mereka tau nilai unitnya untuk memutuskan terus atau berhenti dengan melihat situasi di pasar modal. Kalau dihentikan tentu manfaat proteksinya tidak dapat, paling hanya mendapatkan manfaat pengembangan dana," tandas Riswinandi.

Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melalui laporannya sampai dengan semester I-2021 mencatat bahwa premi unit link mampu tumbuh 17% secara year on year (yoy) menjadi Rp 64,44 triliun. Sementara premi produk tradisional naik sebesar 18% (yoy) menjadi sebesar Rp 40,27% triliun. Masing-masing produk memiliki kontribusi sebesar 62% dan 38% terhadap pendapatan premi.

Kabid Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono menyampaikan, pertumbuhan premi unit link membuktikan bahwa produk tersebut masih banyak diminati masyarakat. Sedangkan pertumbuhan premi tradisional banyak dipengaruhi dari lini bisnis asuransi kesehatan yang sedang naik daun karena pandemi Covid-19.

"Kita lihat produk unit link tetap menunjukkan peningkatan di semester I-2021, artinya juga ketertarikan produk tetap ada. Ada beberapa kasus dari nasabah yang mengajukan komplain, tapi berhasil diselesaikan. Namun karena unit link ini memberikan investasi berikut dengan proteksi itu dinilai masih menarik. AAJI berharap anggota lebih inovatif dan kreatif agar produk lain juga terus meningkat," ucap dia.

Wiroyo menegaskan, AAJI dilibatkan dan dimintai pandangan terkait penyempurnaan regulasi unit link. Secara umum, produk unit link sebetulnya tidak bermasalah, hal yang disoroti OJK adalah nasabah mesti benar-benar mengerti isi produk, mulai dari risiko, biaya, sampai manfaat produk.

"Sehingga tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Kami juga berupaya memberikan hasil investasi yang baik agar nasabah diuntungkan. Tidak ada pemikiran sama sekali bahwa ingin merugikan nasabah," jelas dia.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN