Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi asuransi: IST

Ilustrasi asuransi: IST

Oktober, Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Rp 139,35 Triliun

Senin, 23 November 2020 | 04:49 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri asuransi jiwa membukukan premi mencapai Rp 139,35 triliun sampai Oktober 2020, atau terkontraksi -8,53% secara tahunan (year on year/yoy). Sampai akhir tahun, pelaku usaha meyakini kontraksi pendapatan premi bisa ditekan di level satu digit dengan dukungan sejumlah faktor.

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan premi asuransi jiwa sudah mulai terkontraksi sejak awal tahun ini. Situasi semakin diperparah karena pandemi Covid-19. Namun demikian, pendapatan premi sempat dua kali mencatkan perbaikan.

Pertama yakni pada Juni 2020, kendati masih terkontraksi -7,26% tetapi posisi itu lebih baik dibandingkan dengan Mei 2020 yang terkontraksi lebih dalam -12,53%. Sayangnya tren perbaikan tidak berlanjut, premi turun semakin dalam sampai September 2020. Kedua, tren perbaikan kembali terlihat pada Oktober 2020. Pendapatan premi asuransi jiwa memang masih terkontraksi -8,53%, tapi menguat dibandingkan September 2020 yang terkontraksi -11,37%.

Adapun menilik kinerja pendapatan premi sepanjang tahun ini, pencapaian kinerja asuransi jiwa pada bulan Oktober 2020 terbilang fantastis. Penambahan pendapatan premi mencapai Rp 18,12 triliun. Terakhir kali premi asuransi jiwa bertambah Rp 18 triliun secara bulanan adalah pada Juni 2019 yakni sebesar Rp 18,60 triliun.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menyampaikan, perbaikan sekaligus pencapaian industri asuransi jiwa terkait pendapatan premi tersebut didukung sejumlah sentimen positif di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya adalah relaksasi yang diberikan OJK  sehubungan dengan penjualan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI).

Menurut dia, relaksasi yang disetujui akhir Mei 2020 itu perlu sosialisasi dan edukasi untuk bisa diimplementasikan secara maksimal oleh perusahaan asuransi jiwa. Memasuki Oktober 2020, masyarakat mulai berkenan membeli produk PAYDI tanpa tatap muka langsung. Hal itu didukung tabungan masyarakat yang sempat mengendap sepanjang tahun ini dan melonjaknya tingkat kesadaran untuk berasuransi.

"Kinerja Oktober 2020 ini berhasil menambah premi asuransi jiwa mencapai Rp 18 triliun, intinya menggambarkan bahwa perusahaan dan agen sudah mengerti cara berjualan di situasi new normal ini," jelas Togar kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Dia meyakini, bahwa perbaikan dari pertumbuhan pendapatan premi setidaknya akan berlanjut sampai akhir tahun ini. Lantaran perusahaan asuransi jiwa pun akan lebih masif untuk mengejar target.

"Karena itu tadi, tabungan-tabungan para nasabah di sepanjang pandemi itu masih mengendap kan. Kita berharap (pencapaian premi bulanan) setidaknya sama dengan pencapaian di Oktober 2020. Kita berharap juga bahwa para agen itu sudah tau caranya berjualan di situasi new normal ini," terang dia.

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)
Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI)

Tapi Togar mengungkapkan, produksi asuransi jiwa belumlah kembali normal. Situasi yang diharapkan kembali itu tergantung dari implementasi vaksin Covid-19. Jika semua masyarakat sudah divaksinasi dan teruji efektif, serta perekonomian yang mendukung, bukan tidak mungkin produksi asuransi bisa berlari kencang.

Sementara itu, Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko AAJI Fauzi Arfan mengakui, Oktober 2020 ini asuransi jiwa membukukan peningkatan pendapatan premi bulanan yang cukup signifikan. Hal itu dicatatkan oleh perusahaan asuransi jiwa secara umum, kendati juga ada perusahaan yang masih jalan di tempat.

"Faktornya memang secara ekonomi kita sedang menggeliat, IHSG juga sudah bisa menembus 5.000. Banyak orang yang mungkin berfikir tahun depan IHSG bisa tembus 6.000, rugi rasanya kalau tidak berinvestasi sekarang. Kalau sebelum-sebelumnya ada rasa kekhawatiran saham itu akan terpuruk. Melihat tren saham yang baik, membuat orang lebih percaya diri berinvestasi sehingga orang diantaranya membeli produk asuransi," papar dia.

Dari sisi produk, sambung Fauzi, pola penjualan tidak banyak berubah. Artinya penjualan pada unit link masih mendominasi pada perusahaan asuransi jiwa dan porsi lebih kecil pada produk tradisional. Selain itu, masyarakat juga sudah mampu beradaptasi dengan baik yang kemudian berimbas pada kembali bergeliatnya perekonomian.

Senada, Fauzi mengatakan, tren positif yang dicapai perusahaan asuransi saat ini belum tentu berlanjut. Tapi yang pasti, pendapatan premi diperkirakan ditutup tumbuh negatif pada tahun ini.

"Tidak mungkin 2020 ini lebih baik dibandingkan 2019. Tapi pada bulan November dan Desember itu diharapkan pendapatan premi bulanannya bisa sama besar dengan pencapaian di 2019. Bahkan sepertinya akan ada pertumbuhan positif bila dibandingkan secara bulanan antara dua bulan terakhir di 2020 dengan dua bulan terakhir di 2019," ungkap dia.

Di sisi lain, dia menegaskan relaksasi penjualan PAYDI tanpa tatap muka memang memberi dampak positif bagi industri asuransi jiwa. Namun pendekatan itu bukan faktor utama yang mendorong pendapatan premi mulai bergerak naik.

"Jadi ada dampak positif dari relaksasi regulator yang memperbolehkan penjualan tanpa tatap muka langsung, tapi tidak bisa dijadikan sebagai faktor utama tren di Oktober ini, " imbuh dia.

Fauzi menambahkan, hal terpenting dari geliat saat ini adalah perusahaan asuransi mulai menemukan cara menjual produk tanpa tatap muka langsung. Di samping penjualan secara tatap muka langsung juga masih begitu dibutuhkan. Karena pihaknya menilai, normal baru memecah dua segmen masyarakat yakni masyarakat yang berkaitan tatap muka langsung dan memilih membeli asuransi tanpa tatap muka langsung. Oleh karena itu, pendekatan teknologi digital diperlukan untuk mengisi kekosongan tersebut.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN