Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Aksi protes para nasabah WanaArtha Life. Foto: IST

Pakar Hukum: PN Perlu Jelaskan Alasan Tunda Praperadilan Nasabah WanaArtha Life

Selasa, 3 November 2020 | 22:18 WIB
Thomas E Harefa (thomas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pakar hukum pidana Mudzakir menilai, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan perlu menjelaskan alasan penundaan sidang praperadilan gugatan nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WanaArtha Life) selama tiga bulan.

Nasabah WanaArtha Life sudah mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, namun gugatan gagal dikabulkan karena hakim menilai proses hukum sudah berjalan. Padahal, pengajuan praperadilan sudah didaftarkan sejak April 2020, namun baru diputuskan pada 23 Juni 2020.

“Jika alasannya tidak kuat, pengunduran selama tiga bulan tersebut tidak lazim dan ada keanehan atau tidak wajar,” tutur Mudzakir di Jakarta, Senin (2/11/2020) seperti dilansir Antara.

Menurut Mudzakir, para nasabah boleh mengajukan praperadilan selaku pihak ketiga yang berkepentingan terhadap tindakan jaksa yang menyita aset nasabah. Sebab, nasabah bukan sebagai pelaku tindak pidana dan aset tersebut bukan berasal dari tindak pidana.

Para nasabah WanaArtha Life juga sempat mendatangi Komisi Yudisial (KY) untuk mengadukan nasib mereka. Hal itu dibenarkan oleh Wakil Ketua Komisi Yudisial Maradaman Harahap.

Dia mengatakan memang ada nasabah WanaArtha Life yang datang dan melaporkan kasus ke Komisi Yudisial. Namun pelaporan itu terkait perlindungan hukum kepada para pemegang polis. “Laporan pemegang polis bukan soal praperadilan,” ujarnya singkat.

Dia pun mempersilakan para nasabah WanaArtha Life melaporkan kejanggalan dan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan hakim.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung membekukan Sub Rekening Efek (SRE) WanaArtha Life dengan tudingan terkait kasus Jiwasraya dengan pelaku Benny Tjokro. Namun, para nasabah lain merasa sangat dirugikan karena menilai WanaArtha Life tidak ada keterkaitan apapun dengan Benny Tjokro.

Terpisah, salah satu nasabah WanaArtha Life Wahjudi mengatakan, sampai kapan pun dirinya akan berusaha agar rekening mereka bisa digunakan kembali.

“Kami dari pemegang polis (PP) juga akan mengajukan keberatan melalui class action. Yang sudah diajukan gugatannya juga kami akan mengajukan surat keberatan juga. Kami PP juga masih membahas akan mengajukan melalui kelompok di PP maupun pribadi-pribadi, ini sedang kami bicarakan mekanismenya seperti apa,” ujar dia.

Dia mengaku heran dengan sidang di PN Jakarta Selatan yang berlarut-larut. “Itu yang kami sangat menyesalkan kenapa untuk sidang seperti itu mesti berbulan-bulan nunggu. Sedangkan (persidangan) Jiwasraya bisa cepat 120 hari sudah selesai. Jadi ini ada konspirasi apa? kami orang awam tidak tau. Tapi ada yang patut diduga kuat ada konspirasi,” ujar dia.

Dia mengatakan nasabah WanaArtha Life terus mencari keadilan setelah SRE WanaArtha Life dibekukan. Kini, mereka mengajukan gugatan class action pada Juli, dan baru disidangkan Oktober lalu.

Dia menegaskan semua upaya itu dilakukan agar uang nasabah bisa kembali dan negara menjalankan kebenaran. Dia juga mengatakan, para pemegang polis juga sudah melapor ke Komisi Yudisial (KY) untuk minta perlindungan hukum dan mengawal persidangan Jiwasraya. “Kami malah diminta laporan untuk membuktikan kalau hakim melanggar perilaku atau etika,” ujar Wahjudi.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN